Bukan Natal Biasa

Info

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

Ketika aku menyalaminya, dan kita saling bertatapan, air pun mengalir dari matanya. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan, atau apa yang ia mau ungkapkan. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Tetapi hatiku turut sedih ketika melihat oma tersebut tak berdaya, duduk di kursi roda, dan di mulutnya dipasangkan selang. Aku tidak kenal padanya, dan mungkin setelah aku pulang dari tempat ini, aku tidak akan ketemu si oma lagi.

Beberapa waktu lalu, aku dipercaya untuk membawakan firman pada perayaan Natal yang kantorku selenggarakan dengan suatu panti jompo.

Apa yang dapat aku bagikan, Tuhan? Aku berdoa. Aku hanya 25 tahun, mungkin pengalaman hidup juga tidak seberapa. Apalagi dibandingkan dengan orang-orang tua di sana. Siapakah aku? Ah, tetapi lagi-lagi aku diingatkan, kesempatan untuk membagikan firman Tuhan adalah suatu karunia. Bukan karena kehebatan ataupun pengalamanku, melainkan kekekalan firman Tuhan itu sendiri.

Tetapi apa yang dapat kubagikan kepada oma opa di sana? Ah, tentunya Injil. Kabar baik Kristus adalah pengharapan di setiap masa. Untuk anak muda maupun yang tua.

Walaupun dunia selalu menjunjung tinggi hal-hal yang fana, mencari cara untuk mempreservasi diri, mempertahankan kecantikan dan kekuatan—Alkitab mengajarkan bahwa, “keindahan orang tua ialah uban,” (Amsal 20:29). Tuhan tidak pernah merendahkan manusia karena usianya, maupun ketidakberdayaannya. Ketika Sara tertawa karena ia mendengar perkataan Tuhan kepada Abraham, bahwa ia akan mengandung anak di hari tuanya, Tuhan tetap bekerja. Tuhan tidak bergantung pada kekuatan manusia. Ia tidak memandang rupa.

Tetapi Tuhan memandang manusia berharga, hanya karena dari awal penciptaan, Sang Pencipta membuat kita “segambar dan serupa dengan-Nya,” (Kejadian 1:27).

Namun, yang kita ketahui, walaupun manusia telah diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan, kita telah jatuh dalam dosa dan mencemarkan gambaran sempurna Allah. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, kekacauan mulai datang pada dunia. Dosa membuat hubungan antara manusia menjadi renggang: Adam dan Hawa saling menuduh dan menyakiti (Kejadian 3).

Kita pun pasti pernah disakiti dan menyakiti, maupun secara sengaja atau tidak sengaja. Tapi apa yang kita perbuat terhadap manusia lainnya tidak sebanding dengan apa yang kita perbuat terhadap Allah. Karena setiap kali kita menyakiti manusia lainnya, kita telah berdosa terhadap gambaran Allah, dan berdosa terhadap Allah sendiri.

Ketika manusia jatuh dalam dosa pertama kalinya, di Taman Eden, datanglah kematian. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia telah mendatangkan pada dirinya murka Allah. Mungkin hal ini yang membuat kematian menjadi hal yang begitu menyeramkan. Mungkin hal ini yang membuat orang mencari segala macam cara untuk mempreservasi diri. Karena sesungguhnya, ia mengetahui bahwa suatu hari ia harus menghadapi murka Allah.

Akan tetapi, Alkitab tidak berhenti pada kabar buruk ini. Karena pada hari Natal, lahirlah Sang Juruselamat. Karena manusia tidak dapat menebus dosa dirinya terhadap Allah yang Maha Agung, maka Tuhan harus menghampiri kita.

Pada hari Natal, Anak Tunggal Allah Bapa, yaitu Yesus Kristus, telah lahir di dunia ini, agar Ia dapat menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tidak berkesudahan, pengampunan yang sempurna, dan kehidupan yang benar di hadapan Allah. Ketika Yesus datang, Ia merestorasi gambaran Allah yang telah dirusak oleh dosa.

Dan ketika Yesus datang, Ia datang sebagai bayi di palungan, bukan sebagai raja yang bugar di istana yang mewah. Karena Tuhan tidak pernah pandang rupa maupun kekuatan tubuh kita, kehebatan pencapaian kita.

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” 1 Korintus 1:27-29

Debu Yang Dibuat Berharga

“Sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu,” (Kejadian 3:19)—banyak orang berkata bahwa ketika orang bertambah usia, ia akan kembali seperti anak kecil lagi. Dan di mata dunia, mereka menjadi merepotkan, menyusahkan. Banyak yang bahkan tidak ingin berurusan dengan orang tua lagi, apalagi yang sudah sakit-sakitan. Dan mereka diterlantarkan di panti jompo. Itulah kisah sang oma yang aku jumpai pada hari itu.

Namun, alangkah bahagianya bahwa Yesus pun berkata, “biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku, orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan sorga,” (Matius 19:14). Alangkah bahagianya mereka dapat kembali seperti anak-anak, yang tak pernah Tuhan tolak, melainkan adalah kesukaan hati-Nya. Alangkah bahagianya, mereka dapat kembali menikmati Tuhan seperti anak-anak.

Bahkan Tuhan sendiri, Pencipta segala semesta, tak takut untuk mengambil rupa seorang Anak, yang lahir di palungan. Itulah cerita Natal: bukan sebuah dongeng, melainkan kebenaran kasih Allah yang begitu besar untuk umat manusia (Yohanes 3:16).

Walaupun aku sedih ketika melihat sang oma ditinggalkan keluarganya di panti jompo tersebut, aku tau ada Satu yang tidak pernah meninggalkannya. Tuhan tetap bersama oma. Dan Tuhan mengasihi oma sama seperti Tuhan mengasihi aku. Aku memberikannya senyuman, bibirnya pun ikut bergerak, dan genggamannya semakin erat. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan, atau apa yang ia mau ungkapkan. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Tapi Tuhan mengenalnya dan memanggilnya berharga.

Baca Juga:

Misteri Orang-orang Majus: Siapa, Dari Mana, Berapa, Kapan, dan Mengapa?

Kita tidak asing dengan orang-orang Majus yang sering disebutkan jelang Natal. Namun, tahukah kita akan fakta-fakta tentang mereka?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!