Bertumbuh dalam Memberi

Info

Rabu, 25 Desember 2019

Bertumbuh dalam Memberi

Baca: 2 Korintus 8:1-9

8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.

8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.

8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

8:6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.

8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, —dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami—demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.

8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. —Matius 10:8

Bertumbuh dalam Memberi

“Aku punya hadiah untuk Kakek!” seru cucu saya yang berumur dua tahun, sambil menaruh sebuah kotak di tangan saya. “Ia sendiri yang memilih hadiahnya, lho,” kata istri saya sambil tersenyum. Saya membuka kotak itu dan menemukan sebuah ornamen Natal bergambar tokoh kartun kesukaan cucu saya. “Boleh aku lihat?” tanyanya gelisah. Lalu, ia bermain dengan hadiah “saya” itu sepanjang malam, dan saya tersenyum saat melihatnya bermain.

Saya tersenyum karena teringat pada hadiah-hadiah yang pernah saya berikan kepada orang-orang terkasih, seperti hadiah Natal dari saya yang masih bersekolah kepada kakak saya berupa album musik yang sangat ingin saya dengar (dan akhirnya saya juga yang menikmatinya). Saya pun menyadari hingga bertahun-tahun kemudian, Allah masih membentuk dan mengajar saya untuk memberi tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.

Sikap rela memberi merupakan bagian dari pertumbuhan kita. Paulus menulis, “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu . . . demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini” (2Kor. 8:7). Kasih menjadi semangat kita memberi karena kita mengerti bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah, dan bahwa Dia sudah menunjukkan kepada kita bahwa “lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

Allah telah mengaruniakan kepada kita hadiah yang paling jelas menunjukkan kepedulian-Nya: Anak-Nya yang tunggal, yang kelak mati di kayu salib demi dosa-dosa kita dan kemudian bangkit kembali. Siapa pun yang menerima hadiah terbaik itu sesungguhnya menjadi kaya dalam segala sesuatu. Dengan hati yang terus tertuju kepada-Nya, kita pun rela membuka tangan kita untuk mengasihi sesama.—James Banks

WAWASAN
Paulus memotivasi jemaat di Korintus dengan memberi contoh yang menginspirasi tentang orang-orang Makedonia. Ia juga meminta kemurahan hati yang akan menunjukkan kesatuan di antara jemaat. Banyak terjadi perpecahan antara orang Yahudi yang percaya kepada Yesus dengan orang bukan Yahudi yang percaya kepada Yesus, mewarnai jemaat mula-mula. Dengan memberi bagi jemaat di Yerusalem, berarti murid-murid Kristus yang bukan Yahudi di Korintus dan Makedonia memberi untuk jemaat Yahudi, mengirimkan pesan tersirat tentang kasih dan penerimaan. Paulus mencatat lebih lanjut bagaimana orang percaya di Makedonia menghadapi berbagai tantangan yang berat, namun tetap memberi dengan “sukacita meluap,” meskipun mereka “sangat miskin” (2 Korintus 8:2-3). Sukacita itu merupakan respons alamiah terhadap “kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia” (ay.1). Keadaan kita tidak lantas membuat kita tidak bisa memberi, dan tidak dapat mencuri sukacita kita yang meluap dari kasih karunia yang Allah berikan kepada kita. —Tim Gustafson

Dalam hal apakah kamu perlu bertumbuh dalam memberi? Apa yang dapat kamu berikan hari ini kepada orang lain?

Terima kasih, Bapa, untuk hadiah terbaik dari-Mu untukku: Anak-Mu! Tolong aku membagikan kemurahan-Mu dengan sesamaku hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunZefanya 1-3; Wahyu 16

Handlettering oleh Gabrielle Imelda

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

13 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!