Terserah Allah

Info

Senin, 11 November 2019

Terserah Allah

Baca: Matius 6:5-15

6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10

Terserah Allah

Nate dan Sherilyn menikmati kunjungan mereka ke sebuah restoran omakase saat sedang berada di kota New York. Omakase adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti “terserah Anda”. Maksudnya, para pengunjung restoran seperti itu mengizinkan koki memilihkan hidangan apa yang akan mereka santap. Walau baru pertama kalinya mencoba hidangan jenis itu dan awalnya agak ragu, ternyata Nate dan Sherilyn sangat menyukai makanan yang dipilihkan dan disiapkan koki untuk mereka.

Gagasan yang sama dapat juga kita terapkan dalam sikap kita di hadapan Allah saat membawa doa dan permohonan kita: “Terserah Engkau.” Para murid melihat Yesus sering “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16), maka suatu hari mereka meminta kepada-Nya untuk mengajari mereka cara berdoa. Dia mengajar mereka untuk meminta pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari, pengampunan, dan kelepasan dari pencobaan. Bagian dari pengajaran-Nya juga menunjukkan suatu sikap yang berserah: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10).

Kita dapat mengutarakan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah karena Dia mau mendengar apa yang ada dalam hati kita—dan Dia senang memberikannya. Namun, sebagai manusia yang terbatas, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik, maka sungguh masuk akal untuk meminta dengan kerendahan hati dan ketundukan kepada-Nya. Kita dapat menyerahkan jawaban doa itu kepada Allah, dengan meyakini bahwa Dia layak dipercaya dan akan memilih serta menyediakan segala sesuatu yang baik untuk kita. —Anne Cetas

WAWASAN
Mengapa Yesus memulai bagian tentang doa (Matius 6:5-15) dengan peringatan? Siapakah “orang-orang munafik” yang Dia kecam (ay.5)? Markus 12 mengindikasikan bahwa mereka adalah “ahli-ahli Taurat” yang “menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ay.38-40). Berdoa di depan umum tidaklah salah, tetapi beresiko besar. Jangan-jangan kita berdoa untuk mengesankan orang-orang yang mendengar, bukan dengan sikap hati yang tulus kepada Allah yang melihat batin kita dan menjawab doa-doa; atau barangkali kita merasa minder karena tidak fasih berbicara. Resiko manapun yang kita hadapi, penting sekali untuk mengingat bahwa Allah tidak berkenan pada segala sesuatu yang dilakukan untuk pamer belaka. —Tim Gustafson

Apa yang ingin kamu ungkapkan dalam doa kepada Allah saat ini? Apa yang akan terjadi jika kamu benar-benar berserah penuh kepada-Nya?

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menopangku dan Engkau tahu segala kebutuhanku. Aku menyerahkan hidupku dan mereka yang kukasihi ke dalam tangan pemeliharaan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 50; Ibrani 8

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

29 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!