Pemimpin yang Mengambil Risiko

Info

Hari ke-13 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:25-30

2:25 Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.

2:26 Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit.

2:27 Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah.

2:28 Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku.

2:29 Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia.

2:30 Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.

Aku tak pernah menyangka akan menemukan museum yang dibangun khusus untuk mengenang seorang misionaris di ujung paling utara Taiwan. Mackay Museum, namanya, didedikasikan kepada George Leslie Mackay atas pelayanannya kepada orang-orang Taiwan.

George Mackay tiba di pulau Formosa (sekarang Taiwan) pada 31 Desember 1871. Ia mendapati tidak ada misionaris di bagian utara pulau itu, lantas ia menjadikan Tamshui sebagai basis pelayanannya.

Penampilan Mackay berbeda dari penduduk lokal sehingga ia dibenci, tetapi hal itu tidak menghentikan misionaris berumur 27 tahun itu dari penjangkauannya terhadap mereka. Meskipun dianiaya secara fisik—kadang menggunakan telur mentah dan kotoran manusia—ia bertekad untuk menjadi saksi Tuhan. Penduduk lokal yang pertama dimenangkan akhirnya dinobatkan menjadi pendeta pertama di Formosa.

Perjalanan misi George adalah bukti kasihnya kepada Tuhan dan penduduk Formosa. Penduduk Formosa sangat tersentuh dengan sikap hati hamba dan kasih yang tulus yang George tunjukkan kepada mereka. Dengan berani ia menyatakan, “Demi melayani mereka dalam Injil, dengan senang hati aku mau mengorbankan hidupku seribu kali.”

Dalam surat Filipi dicatat pula karakter serupa—seseorang yang “mempertaruhkan nyawanya” (ayat 30) dan menjadi teladan hati hamba dalam pelayanannya bagi Kristus—yaitu Epafroditus.

Dalam Filipi 2:25-30, Paulus memuji Epafroditus atas dedikasi dan pekerjaannya untuk Tuhan. Lewat bacaan singkat ini, kita bisa melihat dua hal. Pertama, Paulus dan Epafroditus memiliki hubungan yang dekat (Paulus memanggilnya “saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku,” ayat 25). Kedua, Epafroditus tidak takut mengorbankan nyawanya demi melayani Tuhan Yesus Kristus (ayat 30).

Ketika jemaat Filipi mendengar tentang penyakit Epafroditus, mereka sangat bersedih. Karena itu, Paulus mengirimkan Epafroditus kembali agar mereka “bersukacita” (ayat 28). Epafroditus sangat dikasihi, dan ia sendiri sangat menyayangi jemaat Filipi sehingga tidak ingin mereka bersusah hati karena kondisinya (ayat 26). Ia mengabaikan kepentingan diri sendiri! Epafroditus selalu mendahulukan orang lain.

Dari bacaan ini, tampak bahwa Paulus dan Epafroditus adalah orang-orang yang patut diteladani: mereka bersedia diutus ke mana saja, mau melayani siapa saja, dan rela mengorbankan apa saja. Mereka menghidupi hati seorang hamba, yakni memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu dan bersedia menderita demi Kristus.

Hari ini, kita juga dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Meski tak semua orang dipanggil untuk meninggalkan tempat tinggalnya dan menyeberangi lautan untuk melayani orang asing, tetapi teladan George Mackay, Paulus, dan Epafroditus mengingatkan kita untuk terus memandang Yesus sembari mengembangkan hati seorang hamba dan berusaha melayani orang-orang di sekitar kita dengan tulus.

Semua itu memang tak mudah dilakukan. Aku sudah melayani paduan suara gerejaku selama beberapa tahun ini. Setiap Kamis malam, aku harus pergi ke sana menempuh jarak yang sangat jauh. Memang melelahkan, tetapi aku dikuatkan oleh komitmen Epafroditus, juga cerita-cerita tentang bagaimana Tuhan telah memakai paduan suara ini untuk menyentuh dan memberkati orang lain.

Bersama suami, aku juga mulai membaca satu pasal Alkitab setiap malam sebelum tidur. Kami berdoa agar firman Allah senantiasa menjadi pengingat saat kami berusaha untuk mengesampingkan kekhawatiran, frustrasi, dan kepentingan diri sendiri di tengah masa sulit. Sama seperti orang-orang yang telah menempuh perjalanan iman Kristen sebelum kita, hendaknya kita juga tetap setia dan rela berkorban dalam melayani Kristus.—Tracy Phua, Singapura

Handlettering oleh Kent Nath

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pikirkanlah seseorang yang mengambil risiko demi injil. Apa yang memberinya keberanian untuk menanggung risiko itu? Inspirasi seperti apa yang kamu dapatkan untuk diteladani?

2. Sudahkah kamu melayani Tuhan dengan sikap hati hamba akhir-akhir ini?

3. “Risiko” (pengorbanan) apa saja yang dapat kamu ambil untuk memberitakan Injil dan/atau melayani sesama dengan kasih?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Tracy Phua, Singapura | Tracy menikmati pemandangan gunung-gunung yang berdiri megah, juga momen-momen ketika putrinya tertidur. Keduanya mengingatkan Tracy akan karya Tuhan yang luar biasa yang dilakukan-Nya dalam hidupnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Saat Teduh Kitab Filipi, SaTe Kamu

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!