Lahar di Firdaus

Info

Minggu, 10 November 2019

Lahar di Firdaus

Baca: 2 Samuel 6:1-9

6:1 Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya.

6:2 Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.

6:3 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu.

6:4 Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu.

6:5 Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.

6:6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.

6:7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.

6:8 Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.

6:9 Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?”

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16

Lahar di Firdaus

Suasana begitu sunyi, di luar desis lahar panas mengalir pelan di pinggir pepohonan tropis. Warga distrik Puna, Hawaii, berdiri mematung dengan wajah muram bercampur takjub. Biasanya mereka menjuluki daerah itu “firdaus.” Namun, hari itu, lahar panas yang keluar dari retakan di tanah mengingatkan orang bahwa Allah membentuk kepulauan ini lewat kekuatan vulkanis dahsyat yang tidak dapat ditaklukkan.

Bangsa Israel kuno juga berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat mereka taklukkan. Ketika Raja Daud berhasil merebut kembali tabut perjanjian (2Sam. 6:1-4), diadakan sebuah perayaan (ay.5)—sampai satu orang tiba-tiba mati karena memegang tabut itu dengan maksud menahannya agar tidak terjatuh (ay.6-7).

Peristiwa itu mungkin membuat kita berpikir bahwa Allah layaknya gunung berapi yang sulit ditebak, yang dapat menciptakan sesuatu tetapi juga dapat menghancurkannya. Namun, harus diingat bahwa Allah sudah pernah memberikan perintah terperinci kepada Israel tentang cara menangani barang-barang yang dikhususkan untuk ibadah (lihat bil. 4). Bangsa Israel memiliki hak istimewa untuk mendekat kepada Allah, tetapi hadirat-Nya terlalu dahsyat untuk dihampiri dengan sembarangan.

Ibrani 12 mengingatkan tentang gunung dengan “api yang menyala-nyala,” tempat Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa. Gunung itu menakutkan semua orang (ay.18-21). Namun, penulis Ibrani mengontraskan peristiwa itu dengan ini: “Kamu sudah datang . . . kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru” (ay.22-24). Yesus—Anak Tunggal Allah—membuka jalan bagi kita untuk dapat mendekat kepada Bapa-Nya, yang dahsyat tetapi penuh kasih. —Tim Gustafson

WAWASAN
Ketika Uza memegang tabut untuk menjaganya tidak jatuh, Alkitab mengatakan bahwa Allah murka karena “keteledorannya itu” (2 Samuel 6:7). Hal itu kelihatannya kejam, karena Uza bermaksud baik. Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah hassal—hanya muncul dalam bacaan ini dan diterjemahkan sebagai tindakan tidak hormat, sikap tidak hormat, atau keteledoran. Kata tersebut hanya dipakai di sini, menyiratkan bahwa perbuatan Uza adalah peristiwa yang lain daripada yang lain dan oleh karenanya memiliki arti penting. Allah telah memberikan petunjuk-petunjuk yang tepat untuk mengurusi “barang-barang kudus.” Menurut Bilangan 4:15, “Janganlah [orang Kehat] kena pada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.” Barang-barang kudus dari Allah harus diperlakukan menurut petunjuk-Nya. Perbuatan yang berlawanan—sekalipun dengan tujuan baik—mengindikasikan sikap kurang hormat terhadap perintah-Nya. —J.R. Hudberg

Seberapa sering kamu cenderung berpikir tentang kasih Allah tetapi tidak kuasa-Nya? Mengapa kuasa-Nya merupakan aspek penting dari karakter-Nya?

Alangkah ajaibnya mengetahui bahwa Allah yang Mahakuasa juga mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas!

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 48-49; Ibrani 7

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!