Harta Istimewa Allah

Info

Senin, 25 November 2019

Harta Istimewa Allah

Baca: 1 Petrus 2:4-10

2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”

2:7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

2:8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Tetapi kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri. —1 Petrus 2:9

Harta Istimewa Allah

Bayangkan sebuah ruang singgasana yang megah dan luas. Seorang raja agung duduk di takhtanya. Ia dikelilingi oleh banyak pelayan, masing-masing menunjukkan sikap yang terbaik. Sekarang, bayangkan ada sebuah peti yang diletakkan di dekat kaki sang raja. Dari waktu ke waktu, raja memasukkan tangannya ke dalam peti itu dan memegang-megang isinya. Apa yang ada di dalam peti tersebut? Perhiasan, emas, dan batu permata kesukaan raja. Peti itu menyimpan harta sang raja, suatu koleksi yang mendatangkan kebahagiaan baginya. Dapatkah kamu membayangkannya?

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk harta seperti itu adalah segulah, yang berarti “kesayangan.” Kata tersebut dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama, seperti di Keluaran 19:5, Ulangan 7:6, dan Mazmur 135:4, untuk melambangkan bangsa Israel. Namun, gambaran yang sama juga muncul di Perjanjian Baru dalam tulisan Rasul Petrus. Ia mendeskripsikan “umat Allah” sebagai mereka yang “sekarang telah beroleh belas kasihan” (1Ptr. 2:10), suatu kumpulan yang kini tidak hanya terbatas pada bangsa Israel. Dengan kata lain, ia berbicara tentang orang-orang yang percaya kepada Yesus, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Ia pun menulis, “Tetapi kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri” (ay.9).

Bayangkanlah itu! Raja Surgawi yang agung dan berdaulat itu menganggapmu sebagai salah satu milik kesayangan-Nya! Dia telah menyelamatkanmu dari cengkeraman dosa dan maut. Dia mengakui kamu sebagai milik-Nya sendiri. Raja itu berkata, “Inilah yang kusukai. Ia milikku.” —John Blase

WAWASAN
Ketika Petrus berbicara tentang Yesus dan murid-murid-Nya sebagai batu-batu hidup (1 Petrus 2:4-6), ia mengacu pada perkataan nabi Yesaya dan Mazmur 118. Dengan perumpamaan tukang bangunan, Yesaya menubuatkan sebuah batu penjuru yang akan Allah letakkan di Yerusalem sebagai pondasi yang aman bagi semua orang yang membangun di atasnya (28:16). Mazmur 118 merayakan hari ketika batu penjuru ini diletakkan, menggambarkannya sebagai batu yang ditolak oleh tukang bangunan sebelum Allah memakainya untuk memperlihatkan bahwa kasih setia-Nya kekal (ay.22-24,29). Rasul Paulus juga menyebut Yesus sebagai batu penjuru bait suci yang dibangun dengan kehidupan umat Allah sendiri (Efesus 2:19-22). Seluruh nas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut memberi kita gambaran tentang bait suci yang terwujud nyata dalam kehidupan umat Allah yang dipenuhi dengan Roh Kristus. —Mart DeHaan

Pernahkah seseorang menyebutmu “istimewa” secara tulus? Dampak apa yang kamu rasakan? Apa artinya bagimu saat menyadari kamu berharga di mata Allah?

Raja Surgawi yang Mahatinggi, identitasku yang seutuhnya kutemukan di dalam Engkau, dan Engkau menyebutku sebagai milik kesayangan-Mu. Aku tahu itu bukan hasil perbuatanku, tetapi semata-mata anugerah-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 24-26; 1 Petrus 2

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

17 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!