Berjalan dalam Kerendahan Hati Kristus

Info

Hari ke-8 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:5-8

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ketika aku pindah di tahun pertama kuliahku. Gejolak emosiku memuncak saat aku menghadiri kebaktian khusus bersama rektor. Beliau adalah seorang guru dan teolog yang dihormati. Orang tuaku antusias untuk mendengar khotbahnya dan bahkan menyalaminya. Bagi mereka, beliau adalah seorang “raksasa iman”.

Di akhir pidatonya, beliau melakukan tindakan yang luar biasa untuk seseorang dengan status terhormat sepertinya. Beliau meminta semua mahasiswa tahun pertama untuk maju menghadap mimbar dan berlutut menerima berkat. Sang rektor, dalam usianya yang melampaui 70 tahun, mengenakan setelan resmi, turut berlutut hingga hampir terjatuh. Beliau kemudian menengadahkan tangannya ke atas para mahasiswa dan berdoa untuk kami.

Rasanya mengejutkan untuk melihat pemimpin senior dan dihormati ini berkenan memosisikan dirinya dalam postur yang tidak nyaman demi para mahasiswa muda. Sikap berlututnya menggambarkan kerendahan hatinya.

Dalam suratnya kepada gereja Filipi, Paulus menasihati para pengikut Kristus untuk selalu rendah hati dan “berpikir seperti Yesus Kristus” (Filipi 2:5). Kebanyakan dari kita akrab dengan gambaran Yesus sebagai seorang pelayan yang rendah hati—halus, lembut, baik hati. Tapi penting juga untuk tidak melupakan betapa kerendahan hati ini sangat berlawanan dengan dunia ini yang begitu menghargai prestasi, status sosial, dan kekayaan.

Paulus memberitahu para jemaat Filipi bahwa meskipun Yesus dalam naturnya adalah Tuhan, Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Bapa sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Malahan, Yesus “membuat dirinya menjadi bukan siapa-siapa”—bukannya menggunakan hak istimewanya yang Ilahi untuk keuntungan-Nya sendiri, Yesus menanggalkan semuanya untuk menjadi sama seperti manusia (ayat 7). Dia juga “mengambil rupa seorang hamba” (ayat 7), bukan rupa sebagai raja, yang seharusnya bisa dipilih-Nya.

Yesus memilih untuk dilahirkan sebagai seorang manusia, menerima semua keterbatasan tubuh manusia yang terikat dengan tempat dan waktu dan dibalut dalam kulit yang tidak sempurna. Sampai akhirnya, Yesus “merendahkan diri-Nya sendiri dengan menundukkan diri kepada kematian—bahkan kematian di atas kayu salib!”. Ia menyerahkan diri kepada rancangan indah Allah meskipun itu membuat Ia sengsara dan terhina (ayat 8).

Ketika Paulus mendorong orang-orang Kristen untuk “memiliki pola pikir yang sama” seperti Yesus (ayat 5), hal itu bisa terasa susah dan tidak nyaman bagi kita. Tapi, itu juga memerdekakan kita. Ketika kita bersedia memiliki kerendahan hati, kita bisa keluar dari jerat perlombaan mengejar kekuasaan, kejayaan, dan kekayaan yang dunia agung-agungkan. Kita bisa mengaku bahwa kita memang terbatas, tapi ada Satu yang tidak terbatas. Kita dapat menundukkan diri kepada rencana Tuhan, meskipun itu tidak masuk akal bagi dunia sekitar kita. Pemahaman inilah yang mengubah cara kita berhubungan dengan anggota lain dalam keluarga Tuhan—gereja. Hidup dengan kerendahan hati memungkinkan kita untuk menjadi “sepemikiran, memiliki kasih yang sama, dan menjadi satu dalam roh dan satu dalam pikiran” (ayat 2).

Jadi, bagaimana cara kita mengikuti kerendahan hati Yesus dalam keseharian kita? Mungkin kita tidak dipanggil untuk memanggul salib dengan cara disiksa sampai berdarah-darah, tetapi kita bisa mencari cara untuk memakai hak istimewa kita untuk memberkati orang lain, bukan untuk keuntungan kita sendiri. Alih-alih mengejar posisi yang tinggi, kita bisa mulai melayani dari posisi bawah. Alih-alih berusaha tampil sempurna, kita bisa menerima dan menghargai keterbatasan kita. Dan, kita pun bisa dengan rendah hati menerima apa yang Tuhan telah berikan kepada kita sebagai bagian dari rancangan indah-Nya.— Karen Pimpo, Amerika Serikat.

Handlettering oleh Gerardine Eunike

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Bagaimana kamu dapat meniru kerendahan hati Kristus dalam keseharianmu?

2. Bagaimana kamu dapat “memiliki pola pikir yang sama seperti Kristus” dalam hubunganmu dengan sesama?

3. Adakah seseorang yang dapat kamu layani dengan rendah hati hari ini?

4. Hal-hal apa yang sulit kamu lepaskan? Bagaimana teladan Kristus dapat mendorongmu untuk melakukannya?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Karen Pimpo, Amerika Serikat | Karen menyukai musik, bertemu orang-orang, dan makan camilan sebanyak mungkin. Karen juga suka mencari dan menemukan kebenaran di dalam Alkitab.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Saat Teduh Kitab Filipi, SaTe Kamu

8 Komentar Kamu

  • 1. Saya dapat meniru kerendahan hati Kristus dengan berusaha untuk terus mengingat Yerema 29:11 bahwa Dia punya rencana yang indah. Saya belajar utk meruntuhkan ego saya dan memilih utk memekakan diri pada tuntunan Roh Kudus atas hidup saya.

    2. Dalam hubungan dengan sesama, saya meneladani Kristus yang memiliki rasa kasih dan cinta yang begitu besar bagi manusia, tidak pandang bulu, dan tdk judgemental sekalipun sebenarnya Dia adalah manusia yang tidak punya dosa. Saya belajar untuk mengasihi dan mencintai sesama saya dengan kasih yang murni.

    3. Ada

    4. Saya memiliki kelemahan yaitu mengasihani diri sendiri. Saya berusaha melawannya dengan mengingat bahwa saya adalah domba dan Tuhan adalah gembala saya, maka takkan kekurangan saya.

  • Terimakasih Tuhan atas banyak pertolonganMu kepada kami
    Amin

  • Kerendahan hati adalah salah satu hal yg Tuhan Yesus mau kita lakukan dalam keseharian kita, tanpa memandang muka, status sosial, jabatan dan lain2 yg dicari oleh dunia saat ini. Jadilah seperti Tuhan Yesus, yg walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap sebagai sesuatu yg hsrus dipertahankan, melainkan mengosongkan diriNya, dan menjadi sama dengan manusia. Hanya bedanya dalam keadaannya sebagai manusia Ia tidak pernah berbuat dosa.

    Prinsip saya, apa yg kamu mau org perbuat kepadamu, itulah yg kamu lakukan. Kalau kamu mau dikasihi, kasihilah org lain, kalau kamu mau dihargai, hargailah org lain. Kiranya Tuhan memampukan kita utk terus bertumbuh dalam pengharapan di dalam Kristus. Tuhan Yesus memberkati.

  • Amin…Tuhan memberkati!

  • Kerendahan hati yg kita miliki jelas berbeda dari yg Kristus miliki. Karena Tuhan Yesus memilikinya dengan jalan mengosongkan diriNya dn mengambil rupa seorg hamba, mjd sama dgn manusia dn taat smpai mati di atas kayu salib. Yg artinya IA memilih untuk berkeadaan rendah hati. Sementara kerendahan hati yg kita miliki adalah buah dari Roh Kudus yg telah memerdekakan kita dari dosa dan terus menguduskan kota dalam kebenaran. Karena itu kerendahan hati Kristus pastilah absolut, yakni sempurna, sementara kerendahan hati kita dinamis, terus berubah.

    Hanya org yg mau terus belajr menaruh pikiran dan perasaan yg ada dlm Kristus Yesus yg ditolong Allah untuk merendahkan diri dn hidup dlm kesadaran rendah hati. So, tunggu apa lagi teruslah memandang kepada Tuhan Yesus, datanglah kepadaNya, belajarlah kepada Dia, hanya dgn memikul “kuk” dariNya kita akan dipimpin untuk hidup rendah hati.

  • Kesabaran tanpa kerendahan hati menjadi sesuatu yang percuma. Demikian pula sebaliknya.

  • Ajar kami ya Tuhan. Terpujilah nama Tuhan skarang dan sampai slamaNya. Amin

Bagikan Komentar Kamu!