Senjata Andalan

Info

Sabtu, 5 Oktober 2019

Senjata Andalan

Baca: 1 Samuel 17:34-39

17:34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,

17:35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.

17:36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

17:37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

17:38 Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.

17:39 Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya.

Pergilah! Tuhan menyertai engkau. —1 Samuel 17:37

Senjata Andalan

Dahulu, sebagai penulis muda, saya sering merasa tidak percaya diri saat mengikuti lokakarya penulisan. Di sekitar saya adalah “raksasa-raksasa”, yaitu para penulis yang dididik secara formal atau sudah berpengalaman bertahun-tahun. Saya tidak punya kedua-duanya. Yang saya miliki hanya telinga yang terbiasa mendengar gaya bahasa, intonasi, dan irama Alkitab bahasa Inggris versi King James. Saya menganggapnya sebagai “senjata andalan” saya, yang mempengaruhi gaya serta cara saya menulis, sesuatu yang membawa sukacita bagi saya dan, saya harap, berkat bagi orang lain.

Kita tidak mendapat kesan bahwa Daud, si gembala muda, merasa tidak percaya diri saat ia mengenakan baju zirah Saul untuk melawan Goliat (1Sam. 17:38-39). Ia hanya merasa tidak leluasa bergerak. Daud sadar bahwa baju zirah yang menjadi pelindung bagi seseorang dapat menjadi kerangkeng bagi yang lain—“Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini” (ay.39). Oleh karena itu, Daud mempercayai senjata andalannya sendiri. Allah telah menyiapkan Daud untuk menghadapi momen tersebut dengan apa yang memang dibutuhkan pada saat itu (ay.34-35). Daud terbiasa menggunakan umban dan batu sebagai senjata andalannya, dan Allah memakai hal tersebut untuk membawa kemenangan bagi pasukan Israel hari itu.

Pernahkah kamu merasa tidak percaya diri dan berangan-angan, Andai saja aku memiliki apa yang dimiliki orang lain, pasti hidupku akan berbeda? Pikirkanlah kembali karunia atau pengalaman yang telah Allah berikan secara khusus kepada kamu. Percayalah kepada “senjata andalan” yang diberikan-Nya kepadamu. John Blasé

WAWASAN
Daud pernah berhadapan dengan Goliat, lawan yang ditakuti dari Filistin. Negeri Filistin berbatasan dengan Laut Tengah dan terletak di sebelah barat Kerajaan Yehuda. Bangsa Filistin telah lama menjadi duri dalam daging bagi bangsa Israel. Goliat berasal dari kota Gat dan diutus oleh bangsa Filistin untuk memerangi tentara Israel yang dipimpin Saul. Pemenangnya akan menentukan nasib seluruh pasukan (1 Samuel 17:8-11). Dalam balutan baju zirah yang luar biasa, Goliat adalah raksasa di mata manusia—tingginya “enam hasta sejengkal,” hampir 3 meter! (ay.4-7). Ketika Daud yang masih remaja menginjak medan perang, ia hanya mengandalkan kuasa Allah (ay.45). —Alyson Kieda

Apa contoh “senjata andalan” orang lain yang sering membuatmu iri atau membanding-bandingkan diri dengannya? Kebutuhan apa yang dapat dijawab dengan menggunakan “senjata andalan”mu hari ini?

Allah yang berdaulat, aku cenderung mudah merasa tidak percaya diri, terutama ketika tantangan terasa bagaikan raksasa yang besar. Tolonglah aku percaya bahwa apa yang Engkau berikan kepadaku memang sesuai dengan kebutuhanku. Engkaulah yang menenun jalan hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 23-25; Filipi 1

Handlettering oleh Septianto Nugroho

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!