Ketika Pelayanan Tidak Selaras

Info

Oleh Deastri Pritasari, Surabaya

Setiap hari Jumat, tempat kerjaku mengadakan doa dan sharing bersama. Biasanya acara diawali dengan menyanyikan satu lagu, kemudian berdoa, dan diakhiri dengan sharing. Yang menarik perhatian kami adalah saat sesi menyanyi. Kami punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal olah suara dan bermusik.

Seorang teman kami, sebut saja namanya Lukas, dia menggenjreng gitar dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, dia tidak begitu pandai bermain gitar, pun suaranya saat menyanyi biasa saja. Andrew, dia tidak tahu persis tangga nada. Sedangkan Dita, dia punya suara merdu yang akhirnya mendominasi nyanyian dan menuntun kami yang bersuara fals.

Mungkin kamu bisa membayangkan bagaimana suasana ketika kami bernyanyi dan bersekutu. Aku tidak ingin menunjukkanmu bahwa kami adalah kelompok kerja yang ‘rohani’. Tidak, sama sekali bukan itu.

Aku melihat ada ketidakselarasan dalam hal selera dan kemampuan kami bermusik. Kami tidak selaras dalam suara, juga irama dan nada. Aku bisa menyanyi, tapi aku tak begitu paham dengan tangga nada. Jika dilihat sekilas, agaknya ketidakselarasan bisa mengacaukan suasana. Tapi, dalam kelompok kerjaku yang terjadi malah sebaliknya. Ketidakselarasan membuat sesi menyanyi kami menjadi lucu dan mengundang tawa.

Bicara tentang kata “selaras”, jika melihat definisinya di KBBI adalah sebuah kesesuaian atau kesamaan. Kata “selaras” juga sering dikaitkan dengan nada atau lantunan lagu.

Kembali ke ceritaku di awal, ketika lagu-lagu yang kami nyanyikan di persekutuan kami tidak selaras dengan kecakapan kami bermusik, aku pun terbersit dua pertanyaan.

Apakah ketidakselarasan itu berdosa dan tidak berkenan di hadapan Tuhan?

Apakah ketidakselarasan itu tidak menyenangkan hati Tuhan?

Jika aku melihat dari sudut pandangku sebagai manusia, mungkin ketidakselarasan adalah sesuatu yang menganggu. Bahkan, mungkin bagi sebagian orang yang terbiasa dengan segalal sesuatu yang sesuai, ketidakselarasan dianggap dapat menimbulkan kekacauan atau kerusakan. Tapi, mungkin pula ada orang yang menganggap ketidakselarasan sebagai hal biasa, lalu memakluminya dan menerima apa adanya.

Tuhan kita adalah Tuhan yang sempurna (Matius 5:48). Tetapi, aku bersyukur karena dalam kesempurnaan-Nya, Tuhan menerima kita apa adanya. Tuhan menganggap kita berharga dan memberi diri-Nya untuk menebus kita dari dosa (Yohanes 3:16).

Dalam pelayanan kita, mungkin kita mendapati ada orang-orang yang kita anggap tidak selaras. Apa yang mereka lakukan agaknya membuat kita memandang sebelah mata. Tetapi, alih-alih menghakimi mereka, kita bisa mendorong dan mengajak mereka untuk mengembangkan diri. Bersama teman-temanku, kami berlatih vokal dan mendengarkan nada, irama, dan sebagainya. Dengan lembut, kami saling mengignatkan dan menguatkan, serta menopang satu sama lain dalam doa. Ketidakselarasan kami dalam persekutuan adalah sarana untuk kami bersukacita dalam Tuhan dan saling mengasah diri. Tuhan dalam kesempurnaan-Nya menerima kita apa adanya, memberikan kasih-Nya, dan mengampuni kita. Kita pun melayani Tuhan sebagai ungkapan syukur atas kasih-Nya tersebut.

Apapun yang menjadi pelayananmu hari ini, lakukanlah itu untuk Tuhan. Berikan yang terbaik untuk-Nya.

God doesn’t call the qualified
He qualifies the called

Tuhan tidak memanggil orang-orang yang sempurna
Dia menyempurnakan orang-orang yang dipanggil-Nya

Baca Juga:

Jadilah Tuhan, Kehendak-Mu

Ketika mendapat kabar kalau aku harus segera dioperasi, duniaku terasa berhenti sejenak. Jujur, aku takut. Tapi, Tuhan menuntunku agar aku kuat melalui semuanya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2019: Memberi Diri Melayani, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!