Hati Allah untuk Orang Munafik

Info

Senin, 7 Oktober 2019

Hati Allah untuk Orang Munafik

Baca: Kejadian 38:16-26

38:16 Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”

38:17 Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.”

38:18 Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.

38:19 Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.

38:20 Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.

38:21 Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: “Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?” Jawab mereka: “Tidak ada di sini perempuan jalang.”

38:22 Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: “Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini.”

38:23 Lalu berkatalah Yehuda: “Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu.”

38:24 Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: “Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu.” Lalu kata Yehuda: “Bawalah perempuan itu, supaya dibakar.”

38:25 Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: “Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung.” Juga dikatakannya: “Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?”

38:26 Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: “Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.” Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu.

Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar. —Kejadian 38:26

Hati Allah untuk Orang Munafik

“Seandainya salah seorang anggota tim kita yang melakukan hal tersebut, aku pasti sangat kecewa,” ujar seorang pemain kriket saat mengomentari seorang pemain kriket lain asal Afrika Selatan yang berbuat curang dalam sebuah pertandingan pada tahun 2016. Namun, dua tahun kemudian, ia sendiri terlibat dalam skandal yang hampir sama.

Rasanya tidak ada hal yang lebih membuat kita jengkel daripada kemunafikan. Namun, dalam kisah di Kejadian 38, perilaku munafik Yehuda nyaris mengakibatkan kematian seseorang. Setelah dua dari tiga anak lelakinya meninggal tidak lama setelah menikahi Tamar, Yehuda diam-diam mengabaikan kewajibannya untuk menanggung kehidupan Tamar (ay.8-11). Dalam keputusasaannya, Tamar pun mengenakan selubung seperti seorang pelacur, dan kemudian Yehuda tidur dengannya (ay.15-16).

Namun, ketika Yehuda mendengar bahwa menantu perempuannya mengandung padahal ia tidak bersuami, reaksi Yehuda sangat kejam. “Bawalah perempuan itu, supaya dibakar,” perintah Yehuda (ay.24). Akan tetapi, Tamar justru membuktikan bahwa Yehuda sendirilah ayah dari anak yang dikandungnya (ay.25). Yehuda bisa saja menyangkali kebenaran itu. Namun, ia mengakui kemunafikannya dan bersedia bertanggung jawab atas Tamar, dengan berkata, “Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar” (ay.26).

Babak suram dalam hidup Yehuda dan Tamar ini dapat ditenun Allah menjadi bagian dari kisah penebusan-Nya atas kita. Anak-anak Tamar (ay.29-30) kelak akan menjadi nenek moyang Yesus (Mat. 1:2-3).

Mengapa Kejadian 38 dicatat dalam Alkitab? Salah satunya adalah karena bagian itu bercerita tentang kemunafikan hati manusia—dan hati Allah yang penuh kasih, karunia, dan kemurahan. —Tim Gustafson

WAWASAN
Tidak ada kata Ibrani yang bermakna munafik, tetapi kata Yunani hypokrites digunakan dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk menggambarkan manusia yang tak bertuhan. Kata hypokrites aslinya berarti “pemain sandiwara.” Ini berasal dari zaman Yunani kuno di mana para pemeran mementaskan adegan dengan mengenakan topeng. Makna ini kemudian diadaptasi menjadi seorang munafik yang menipu dengan menyelubungi niat (wajah) mereka yang sesungguhnya. —Bill Crowder

Bagaimana reaksi kamu ketika menyadari bahwa kamu sebenarnya munafik? Apa yang akan terjadi bila kita semua bersikap apa adanya satu sama lain?

Ya Bapa, tolonglah aku melihat bahwa pada intinya kami semua adalah orang-orang munafik yang sangat membutuhkan pengampunan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 28-29; Filipi 3

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

18 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!