Diikat Menjadi Satu

Info

Jumat, 25 Oktober 2019

Diikat Menjadi Satu

Baca: Pengkhotbah 4:9-12

4:9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.

4:10 Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

4:11 Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?

4:12 Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. —Pengkhotbah 4:12

Diikat Menjadi Satu

Seorang teman memberikan tanaman hias koleksinya yang sudah dipeliharanya selama lebih dari empat puluh tahun. Tanaman itu setinggi saya dengan daun-daun besar yang tumbuh dari tiga batang kurus yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, berat daun-daun itu menyebabkan ketiga batangnya tumbuh melengkung ke bawah. Untuk meluruskannya, saya menyangga-nya dengan pasak yang ditaruh di bawah pot dan meletakkan pot tersebut dekat jendela supaya sinar matahari dapat menarik daun-daun tersebut ke atas dan mengembalikan bentuk tanaman tersebut seperti semula.

Tak lama setelah menerima pemberian tersebut, saya melihat tanaman yang mirip di ruang tunggu sebuah kantor. Tanaman itu juga tumbuh dari tiga batang terpisah yang tinggi kurus, tetapi ketiga batang tersebut diikat menjadi satu sehingga menghasilkan satu batang besar yang lebih kukuh. Tanaman itu dapat berdiri tegak tanpa bantuan penyangga.

Dua orang bisa saja tinggal dalam satu “wadah” yang sama selama bertahun-tahun, tetapi tumbuh masing-masing dan tidak mengalami secara penuh kebaikan-kebaikan yang Allah sediakan bagi mereka. Namun, ketika hidup mereka diikat menjadi satu bersama Allah, hidup mereka akan menjadi lebih mantap dan dekat. Hubungan mereka akan semakin kuat. “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pkh. 4:12)

Seperti halnya tanaman hias, pernikahan dan persahabatan juga harus dipelihara. Merawat hubungan-hubungan tersebut membutuhkan kesatuan rohani dengan kehadiran Allah di pusat dari setiap ikatannya. Allah adalah sumber yang abadi dari kasih dan anugerah—dua hal yang paling kita butuhkan untuk dapat tetap menyatu dengan bahagia dalam kehidupan bersama. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Kitab Pengkhotbah digolongkan ke dalam kelompok Kitab Puisi atau Kitab Hikmat. Menurut penafsiran tradisional, penulis kitab ini diperkirakan adalah Salomo karena adanya keterangan “anak Daud, raja di Yerusalem” (1:1). Namun, istilah “anak” pada zaman itu sering digunakan untuk merujuk kepada keturunan, bukan melulu putra/anak secara langsung. Orang ini bisa saja keturunan Daud yang kesekian. Banyak pakar Alkitab menyebut penulisnya Qoheleth (Pengkhotbah 1:2), kata Ibrani yang artinya guru. Kata ini merujuk kepada individu yang mengajar sekumpulan orang. Sejumlah pakar beranggapan bahwa kitab ini ditulis oleh dua orang karena bahasa yang digunakan berubah dari orang pertama kepada orang ketiga lalu kembali ke orang pertama. —Julie Schwab

Apa yang dapat kamu lakukan untuk mempererat ikatan persekutuanmu dengan orang-orang terdekatmu? Perubahan apa yang mungkin terjadi apabila melayani Tuhan dan beribadah kepada Dia menjadi prioritasmu bersama?

Ya Allah, aku menyambut-Mu masuk dalam hubunganku dengan orang-orang terdekatku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6-8; 1 Timotius 5

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!