Baja dan Beludru

Info

Sabtu, 19 Oktober 2019

Baja dan Beludru

Baca: Yohanes 8:1-11

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. —Yohanes 8:7

Baja dan Beludru

Penyair Carl Sandburg menulis tentang mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “Dalam sejarah umat manusia, tidak sering kita bertemu seorang manusia yang terbuat dari baja dan beludru, . . . yang menampilkan dalam hati dan pikirannya suatu paradoks antara badai yang mengamuk dan keteduhan yang sempurna.” “Baja dan beludru” menjadi gambaran bagaimana Lincoln berhasil menyeimbangkan kekuasaan dari jabatannya dengan kepedulian-nya terhadap orang-orang yang merindukan kebebasan dari perbudakan.

Sepanjang sejarah, hanya ada satu pribadi yang secara sempurna menyeimbangkan ketegasan dan kelembutan, kuasa dan belas kasihan. Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8, ketika Yesus diperhadapkan dengan para pemimpin agama yang ingin agar Dia menghukum seorang wanita yang berdosa, Yesus menunjukkan ketegasan sekaligus kelembutan-Nya. Dia menunjukkan ketegasan dengan bertahan menghadapi tuntutan massa yang haus darah, bahkan membalikkan tuduhan mereka kepada diri mereka sendiri. Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay.7). Kemudian Yesus menunjukkan kelembutan belas kasihan-Nya dengan berkata kepada perempuan itu, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay.11).

Dengan mencerminkan ketegasan dan kelembutan Yesus dalam perlakuan kita terhadap orang lain, kita dapat menyingkapkan karya Bapa yang membentuk kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Kita dapat menunjukkan kerinduan hati-Nya kepada dunia yang haus akan belas kasih yang lembut sekaligus keadilan yang tegas. —Bill Crowder

WAWASAN
Dalam catatan Yohanes 8:1-11, para pemuka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Anehnya, hanya si perempuan yang dituduh bersalah, pasangan berzinahnya tidak turut diseret. Kaum perempuan cenderung tertarik kepada Yesus dan lebih berani mengikut Dia ketimbang para murid-Nya. Hanya Yohanes yang menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya menuju penyaliban, tetapi Matius mencatat bahwa “ada di situ banyak perempuan” (27:55-56). Mereka ingin mengikut Yesus bukan karena Dia menarik secara fisik (lihat Yesaya 53:2), tetapi karena Dia memandang mereka sebagai manusia seutuhnya. Dia menghargai kaum wanita, sesuatu yang tidak dilakukan oleh pria zaman itu. Kisah hari ini adalah contoh betapa Yesus melindungi martabat perempuan sebagai manusia sejati. —Tim Gustafson

Bagaimana responsmu terhadap kebobrokan dunia ini jika dibandingkan dengan keseimbangan belas kasihan dan keadilan yang ditunjukkan Kristus? Bagaimana Allah dapat menolongmu untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya kepada sesama?

Bapa, terima kasih untuk Anak-Mu, yang sempurna menyingkapkan isi hati-Mu kepada dunia yang terhilang lewat ketegasan dan kelembutan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56-58; 2 Tesalonika 2

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

19 Komentar Kamu

  • .AmiN.

  • Terimakasih Tuhan. Terpujilah nama Tuhan skarang dan sampai slamaNya amin

  • amin…FT sangat menguatkan.

  • Amin

  • haleluyah amin

  • Amin

  • Terimakasih Tuhan atas banyak berkatMu
    kepada kami
    Amin

  • Terpujilah Tuhan..

  • Amin๐Ÿ™

  • Amin

  • Terima kasih Tuhan Yesuse

  • Amin…Tuhan memberkati!

  • Amin….

  • Saya adalah seorang pengagum Abraham Lincoln. Setuju sekali ia di sebut sebagai manusia yang terbuat dari baja dan beludru. Demi membebaskan perbudakan, ia terpaksa menyatakan perang saudara di Amerika serikat.

    Tapi saya lebih kagum dan sepenuh hati mengakui Yesus Kristus, adalah putera Allah yang diutus ke dunia ini untuk membebaskan dosa manusia, bukan hanya di Amerika Serikat tetapi seluruh dunia.

    Marilah kita yang pernah berbuat dosa, bertobatlah apapun dosa mu..Tidak ada kata terlambat utk bertobat. Lihat cerita Yoh.8:1-11, betapa besar kasih Yesus kepada perempuan berdosa itu….Dosanya diampuni tetapi perempuan itu seharusnya ingat kata-kata Yesus berikutnya: ……Jangan engkau berbuat dosa lagi mulai sekarang. Artinya, pertobatan….itu yang akan dilakukan oleh perempuan itu.
    PERTOBATAN adalah satu satunya cara bagi kita, umat berdosa utk memperoleh kasih karunia Allah berupa Hidup Kekal. Roma 6: 22 mengatakan demikian: ……setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan…. kamu beroleh buah,….ialah hidup kekal.
    Roma 6:23 Upah dosa adalah maut tapi Karunia Allah adalah hidup kekal didalam Yesus Kristus…

    Pilihan ada ditangan kita masing-masing….
    Baca kisah pertobatan Andrew Hui dgn judul : Usiaku 32 tahun dan aku menanti ajalku. Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu 2-3 bulan utk hidup. Pada saat-saat terakhir itulah, Andrew sampai pada tahap Dimana ia merasa damai dan menerima keadaan dirinya. Itu terjadi Juni 2019. Sebuah kisah pencarian Damai Kristus yang sangat inspiratif.

  • Apa diijinkan jk sy copas?

  • Yenny Indrastuti Siti Poerwanti

    Amin

  • Wow.. thankyou Lord

  • Dear Yudith,

    Kamu dapat memublikasikan ulang renungan ini selama tidak untuk tujuan komersial dan tetap menyebutkan bahwa renungan ini terambil dari Santapan Rohani/WarungSaTeKaMu.

    Terima kasih.

Bagikan Komentar Kamu!