Merasa Kecil

Info

Kamis, 19 September 2019

Merasa Kecil

Baca: Matius 6:25-32

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? —Mazmur 8:5

Merasa Kecil

Banyak kritikus film menganggap film Lawrence of Arabia karya David Lean sebagai salah satu film terhebat sepanjang masa. Dengan menampilkan pemandangan gurun jazirah Arab yang membentang seolah tak berujung, film tersebut telah mempengaruhi satu generasi pembuat film—termasuk sutradara pemenang Oscar, Steven Spielberg. “Saya langsung terinspirasi waktu pertama kali menonton film Lawrence,” kata Spielberg. “Film itu membuat saya merasa kecil, bahkan sampai sekarang. Di situlah letak kehebatannya.”

Saya sendiri merasa kecil oleh luasnya alam ciptaan—saat saya memandangi lautan, terbang di atas tudung es kutub, atau menatap langit malam yang berhiaskan milyaran bintang gemerlapan. Bila alam semesta begitu luas, betapa jauh lebih besarnya Sang Pencipta yang menjadikan semuanya itu dengan firman-Nya!

Kebesaran Allah dan perasaan kecilnya manusia dinyatakan oleh Daud ketika ia berseru: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5). Namun, Yesus meyakinkan kita, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26).

Mungkin saya merasa kecil dan tak berarti, tetapi di mata Bapa, saya sangat berharga—keberhargaan yang terbukti setiap kali saya memandang salib. Mahalnya harga yang rela Dia bayarkan untuk memulihkan hubungan saya dengan Dia adalah bukti bahwa bagi-Nya saya sangatlah berharga. —Bill Crowder

WAWASAN
Bacaan hari ini meneruskan Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Perikop tersebut merupakan bagian dari tema utama dalam pasal 6 tentang “jalan dan kehidupan orang Kristen di dunia, dalam hubungannya dengan Bapa” [D. Martyn Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount]. Ada perbedaan kontras di sini. Bagian-bagian sebelumnya (ay.19-24) membicarakan tentang bahaya menimbun harta di dunia, sedangkan bagian ini membahas kekhawatiran mengenai materi. Sebagian orang meyakini bahwa bagian pertama ditujukan kepada orang-orang kaya, sedangkan perikop hari ini ditujukan kepada orang miskin atau orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, sebenarnya orang kaya pun bisa saja menderita kekhawatiran mengenai harta. Bagaimana pun cara pandang kita terhadap dua perikop tersebut, keduanya sama-sama mengajarkan bahayanya mencari rasa aman selain dalam Allah dan pemeliharaan-Nya yang besar (1 Petrus 5:7). —Alyson Kieda

Keajaiban alam apa yang membawamu mengingat Allah? Bagaimana hal itu membuatmu menyadari betapa berharganya kamu bagi Sang Pencipta?

Bapa, tolonglah kami mengingat bahwa kami selalu ada di dalam hati-Mu. Tuntunlah kami untuk menemukan makna sejati hidup kami di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 1-3; 2 Korintus 11:16-33

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!