Menghidupi Kepemimpinan dalam “Tubuh Kristus”

Info

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Buat kita yang mungkin pernah melihat atau mengikuti akun satire seperti @gerejapalsu @pastorinstyle atau @jemaat_gerejapalsu, kita akan merasa geregetan dengan pembahasan para mimin tentang para pastor atau pendeta masa kini. Salah satu pembahasan yang heboh ialah petisi yang dibuat oleh Hanzel Samuel, dengan tudingan bahwa persembahan dan perpuluhan di tempat ia beribadah dipakai untuk keperluan sang pendeta. Dalam petisi tersebut, ia menuntut adanya audit keuangan gereja-gereja besar di Indonesia. Hal ini bahkan dibahas dalam berita online.

Di luar kepentingan untuk mengadili apakah sosok pastor atau pendeta yang diangkat oleh akun-akun satire tersebut benar atau salah dalam melaksanakan kepemimpinan gereja, sebenarnya model kepemimpinan seperti apa sih yang sesuai dengan teladan Yesus?

Aku menemukan satu uraian yang menarik dari Pdt. Joas Adi Prasetya* tentang model kepemimpinan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai umat Kristen, juga dalam kehidupan bergereja.

Kita yang saat ini sedang aktif pelayanan di gereja, memimpin kelompok tumbuh bersama, ataupun memimpin organisasi kerohanian di sekolah atau kampus juga perlu memahami hal ini.

* * *

Aku rasa banyak dari kita yang pernah berada dalam suatu kelompok dengan pemimpin yang otoriter, semena-mena, selalu menyalahkan anggota kelompok, dan hanya ingin menang sendiri. Apakah yang kita rasakan? Tentu kita sebal, bahkan mungkin benci terhadap sifat negatif tersebut. Tidak hanya dalam kelompok, kita juga mungkin merasakan kekesalan yang sama ketika berada di organisasi besar seperti gereja. Sifat “tangan besi” dari pemimpin gereja tidaklah disukai. Perlu digarisbawahi bahwa kita mungkin membenci sifatnya, tetapi harus tetap mengasihi orangnya.

Sifat “tangan besi” yang hadir dalam gereja dikenal sebagai model kepemimpinan-tuan (bahasa Yunani: kyriarki). Model ini menggambarkan sifat dari pemimpin yang ingin berada di puncak piramida organisasi gereja, berkuasa atas jemaat maupun aktivis dan pengurus gereja lain. Hal ini pun pernah terjadi ketika Yakobus dan Yohanes meminta posisi khusus di sebelah kanan dan kiri Yesus kelak saat Yesus dipermuliakan (Markus 10:35-41). Tentu sifat ini menggambarkan bahwa Yakobus dan Yohanes ingin berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan murid-murid Yesus lain.

Narasi pun bergulir dengan jawaban Yesus dalam ayat 43, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”

Pernyataan Yesus tersebut menentang model kepemimpinan-tuan dengan sebuah usulan tandingan, yaitu model kepemimpinan-hamba (bahasa Yunani: doularki). Model ini berangkat dengan harapan bahwa pemimpin seharusnya melayani dan mengayomi orang lain, bukan mencari kuasa.

Model kepemimpinan-hamba ini kerap diperdengarkan dalam gereja, dan status “pelayan” Tuhan dan gereja tersebut ditampilkan terus menerus. Namun, pada praktiknya, sang “pelayan” justru minta diperlakukan khusus karena telah melayani. Sikap seperti ini dapat ditemui pada diri segelintir pastor maupun pendeta yang menyatakan dirinya telah melayani Tuhan dan gereja, sehingga mereka pun meminta hak istimewa, seperti barang-barang branded, mobil mewah, rumah megah, dll. Mungkin kita juga pernah seperti itu, mengaku diri kita telah “melayani” dalam gereja ataupun persekutuan, dengan syarat harus ada konsumsi ataupun uang bensin.

Dalam ketegangan antara model kepemimpinan-tuan dan kepemimpinan-hamba di kehidupan bergereja, tentu kita perlu berefleksi kembali pada Yesus. Memang benar bahwa secara organisasi, beberapa gereja dipimpin oleh pastor ataupun pendeta. Namun, sebagai orang Kristen, Yesus merupakan Kepala Jemaat, pemimpin hidup kita. Sebagai pemimpin, Yesus juga menyatakan dirinya sebagai pemimpin yang bersahabat seperti tertulis dalam Yohanes 15:15, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba karena hamba tidak tahu apa yang dilakukan oleh tuannya. Akan tetapi, Aku menyebut kamu sahabat karena semua yang Aku dengar dari Bapa, telah Aku beritahukan kepadamu.”

Model ideal ini menggambarkan kepemimpinan sahabat (bahasa Yunani: filiarki), sebuah kepemimpinan yang setara. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi di antara pemimpin dan yang dipimpin. Yesus meneladankan model kepimpinan ini dengan menebus kita dari dosa. Setelah ditebus, status kita bukan sekedar hamba, pengikut, ataupun murid dari Sang Penebus. Lebih dari itu, Yesus mengangkat derajat kita menjadi sahabat-Nya.

* * *

Model kepemimpinan-sahabat bukan sekadar wacana yang dilontarkan Tuhan Yesus secara sembarangan. Sebagai tubuh Kristus, tentu saja kita bisa menerapkannya dalam kehidupan di organisasi apapun. Model kepemimpinan bisa dilakukan oleh kita semua, tanpa harus menjabat sebagai pemimpin organisasi. Justru, model ini menjadi efektif apabila dipahami bersama-sama oleh seluruh anggota komunitas. Ada tiga hal yang perlu dimaknai untuk menghidupi kepemimpinan dalam tubuh Kristus.

1. Kesetaraan

Setiap pribadi berbeda mengemban tugas dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya setara dan sama pentingnya. Anggap saja dalam suatu peribadatan, terdapat berbagai individu dengan perannya masing-masing. Ada pendeta, liturgos/worship leader, pemandu pujian, pemusik, petugas multimedia, pemimpin liturgi, dll. Bayangkan jika dalam menjalankan perannya, seseorang merasa dirinya harus lebih besar dari yang lain: pemusik merasa dentuman musiknya harus nampak keras yang berakibat suara pemandu pujian terdengar lebih sayup, liturgos/worship leader merasa keinginannya harus dituruti untuk mengulang bagian lagu secara mendadak sehingga pujian menjadi kacau, ataupun pendeta yang tiba-tiba mengubah tema sebelum ibadah dimulai dan memaksa lagu yang sudah disiapkan harus diubah. Kacau balau, bukan? Dari ilustrasi tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam setiap kepelbagaian tugas dan fungsi yang diemban, setiap bagian dari organisasi perlu memaknai kesetaraan dengan bijak.

2. Keterbukaan

Setiap komunitas tentunya memiliki identitas yang berbeda-beda. Yang membedakan kita yang telah menerima rangkulan persahabatan Kristus dengan komunitas lain adalah keterbukaan, yang mengundang seluruh ciptaan masuk ke dalam komunitas ilahi tersebut. Hal ini pun ditunjukkan oleh Yesus yang dalam kehidupan pelayanannya. Komunitas murid Yesus tidak terbatas pada 12 orang saja! Dalam kitab Lukas tercatat bahwa Ia memiliki 70 murid, dan kitab Matius menyatakan bahwa Yesus merupakan sahabat dari pemungut cukai dan orang berdosa.

Menjadi komunitas Kristiani yang terbuka merupakan wujud penerapan model kepemimpinan-sahabat Kristus. Kita memiliki peluang besar untuk menerapkan keterbukaan dalam “tubuh Kristus” di tengah-tengah bangsa kita yang beragam. Ketika bertemu orang-orang baru dengan karakter yang berbeda, stigma negatif harus kita buang jauh-jauh. Sebaliknya, kita harus menunjukkan keramahtamahan sebagai sambutan hangat.

3. Menarik dan Memberi Kehidupan

Seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 12:32 “Dan, jika Aku ditinggikan dari dunia ini, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku,” Yesus ingin setiap insan mengenal kasih-Nya. Keinginan tersebut bukanlah sekadar omong kosong, Ia mewujudnyatakan keinginan-Nya dengan mengasihi. Tertulis pada Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Mungkin sebagian komunitas Kristiani bermimpi agar komunitas atau gerejanya memiliki jumlah anggota yang banyak, hingga mencapai ribuan bahkan jutaan jiwa. Namun, Yesus bukan sekadar menginginkan kuantitas anggota dari komunitas, melainkan kualitas pengenalan akan kasih-Nya yang semakin mendalam. Lebih dari sekadar sibuk di dalam komunitas, Yesus ingin kita menerapkan kepemimpinan-sahabat di luar komunitas kita. Ia rindu melihat kita menyatakan kasih persahabatan kepada lingkungan sosial kita, dengan segala ragam konflik yang terjadi.

* * *

Kita semua adalah bagian dari “tubuh Kristus”. Lebih dari sekadar pemegang jabatan dalam komunitas Kristiani, kita adalah sahabat Kristus yang diajak menerapkan model kepemimpinan-sahabat. Kristus sebagai pemimpin hidup kita telah menunjukkan kasih-Nya dan mengangkat kita sebagai sahabatnya, maka sudah seharusnya kita juga menghidupi kasih-Nya—kepada orang-orang yang ada dalam komunitas kita serta kepada seluruh ciptaan.

*Joas Adiprasetya adalah pendeta jemaat GKI Pondok Indah, Jakarta, yang ditugasi secara khusus menjadi dosen penuh waktu di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta untuk bidang Teologi Konstruktif. Tulisan ini mengulas makalah “Memimpikan Sebuah Gereja Persahabatan” yang disampaikan dalam Pembinaan Penatua GKI Klasis Jakarta Satu, di GKI Kelapa Cengkir, Jakarta, 6 April 2019.

Baca Juga:

Memandang Salib Yesus, Aku Belajar Mengampuni

“Jangan menyimpan kesalahan orang dalam hati,” agaknya kata-kata ini mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan. Pernahkah kamu bergumul akan hal ini juga, sobat muda?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 09 - September 2019: Memelihara Tubuh Kristus, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

1 Komentar Kamu

  • sangat terberkati dengan artikel ini. Tuhan yesus selalu memberkati warung sate untuk menjadi berkat bagi umatNya.😇

Bagikan Komentar Kamu!