Kesatuan

Info

Minggu, 15 September 2019

Kesatuan

Baca: Efesus 4:1-6

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Kesatuan

Pada tahun 1722, sekelompok kecil orang Kristen Moravia, yang hidup di wilayah yang sekarang menjadi Republik Ceko, berlindung dari penganiayaan dengan tinggal di tanah milik seorang bangsawan Jerman yang murah hati. Dalam tempo empat tahun, lebih dari 300 orang datang ke sana. Namun, alih-alih menjadi komunitas yang ideal bagi para pengungsi yang teraniaya, di tempat pengungsian itu justru timbul banyak perselisihan. Perspektif yang berbeda-beda tentang iman Kristen telah menimbulkan perpecahan. Yang mereka lakukan selanjutnya mungkin terlihat sepele, tetapi ternyata melahirkan kebangunan yang luar biasa: mereka mulai memusatkan perhatian pada apa yang mereka sepakati bersama dan bukan pada perbedaan yang ada. Hasilnya adalah kesatuan.

Rasul Paulus sangat merindukan orang-orang percaya di Efesus hidup dalam kesatuan. Dosa akan selalu mendatangkan masalah, keinginan yang egois, dan konflik dalam hubungan. Namun, sebagai orang-orang yang dihidupkan “bersama-sama dengan Kristus” (Ef. 2:5), jemaat Efesus dipanggil untuk menghidupi identitas baru mereka lewat perbuatan sehari-hari (5:2). Yang terutama, mereka harus “[berusaha] memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (4:3).

Kesatuan ini bukan sekadar persahabatan sederhana yang terjalin lewat kekuatan manusiawi. Kita perlu “selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar” serta menunjukkan “kasih [kita] dalam hal saling membantu” (4:2). Dari perspektif manusiawi, mustahil kita bisa melakukan itu semua. Kita tidak akan sanggup mencapai kesatuan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi kita akan dimampukan oleh kekuatan Allah yang sempurna “yang bekerja di dalam kita” (3:20). —Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Paulus dan rekan pelayanannya merintis gereja di Efesus dalam perjalanan misi yang kedua (Kisah Para Rasul 18:19). Ia berkunjung ke sana dalam perjalanan misi ketiga, tinggal selama tiga tahun di sana dan menumbuhkan iman orang-orang yang baru percaya itu (19:1-40; 20:31). Pertemuan Paulus yang terakhir dengan jemaat Efesus tercatat dalam Kisah Para Rasul 20:17-38. Ketika ia sedang dalam perjalanan ke Yerusalem pada akhir perjalanan misinya yang ketiga, Paulus berhenti di kota pelabuhan Miletus di Asia Kecil Barat (sekarang Turki) dan memanggil para penatua jemaat Efesus agar ia dapat melayani jemaat di sana untuk terakhir kali. Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus beberapa tahun kemudian ketika ia dalam tahanan rumah di Roma, menunggu saatnya bersaksi di depan Kaisar (28:30). Seluruh pertemuan tersebut mengungkapkan hubungan dan ikatan Paulus yang lebih dalam dengan gereja Efesus dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain yang dilayaninya. —Bill Crowder

Apakah yang terjadi dalam komunitas imanmu, perpecahan atau kesatuan? Upaya apa yang dapat kamu lakukan dalam kekuatan Allah untuk memelihara kesatuan Roh?

Bapa, Engkau yang berkuasa, bekerja, dan berdiam di dalam segala sesuatu, hadirlah di tengah-tengah kami agar kesatuan kami tetap terpelihara.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 22-24; 2 Korintus 8

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

14 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!