Rumah Baru Kita

Info

Senin, 19 Agustus 2019

Rumah Baru Kita

Baca: Wahyu 22:1-5

22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.

22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya. —Wahyu 22:3

Rumah Baru Kita

Sebagai imigran pertama yang tiba di Amerika Serikat melalui Pulau Ellis pada tahun 1892, pastilah Annie Moore merasakan kegembiraan luar biasa saat membayangkan rumah dan awal yang baru. Jutaan orang lain akan melewati juga gerbang yang sama sesudah dirinya. Meski masih remaja, Annie telah meninggalkan kesulitan hidup di Irlandia dan memulai hidup baru di Amerika. Dengan hanya menjinjing sebuah tas kecil, ia datang dengan impian, harapan, dan keyakinan yang begitu besar akan suatu negeri yang penuh kesempatan.

Betapa akan kagum dan takjubnya anak-anak Allah kelak ketika melihat “langit yang baru dan bumi yang baru” (why. 21:1). Kita akan memasuki apa yang disebut kitab Wahyu sebagai “kota yang kudus, Yerusalem yang baru” (ay.2). Rasul Yohanes menggambarkan tempat yang menakjubkan itu dengan gambaran yang dahsyat. Di dalamnya akan ada “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu” (22:1). Air melambangkan hidup dan kelimpahan, dan sumbernya adalah Allah yang kekal itu sendiri. Yohanes berkata bahwa di sana “tidak akan ada lagi laknat” (ay.3). Hubungan yang murni dan indah sebagaimana yang Allah rencanakan antara diri-Nya dan manusia akan dipulihkan sepenuhnya.

Alangkah luar biasanya mengetahui bahwa Allah, yang mengasihi anak-anak-Nya dan menebus kita dengan nyawa Anak-Nya, sedang menyiapkan rumah baru yang menakjubkan—di sana Dia sendiri akan tinggal bersama kita dan menjadi Allah kita (21:3). —Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Kitab Wahyu memberikan sekilas gambaran masa depan ketika kita kelak bersama-sama Allah dalam kekekalan. Pasal 21-22 memuat daftar berbagai “kebaruan” yang akan kita alami di langit dan bumi yang baru. Dalam bacaan hari ini, ada dua pohon kehidupan—atau satu pohon yang membentang sepanjang dua sisi sungai (22:2). Jalan menuju pohon kehidupan itu lenyap ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden (lihat Kejadian 3:24). Di langit yang baru, buah-buah pohon itu, yang tampaknya memang untuk dimakan, akan selalu tersedia. Pohon kehidupan ini membuktikan bahwa kehidupan dalam kerajaan-Nya takkan pernah berakhir. —J.R.Hudberg

Apa yang terbayang dalam pikiranmu ketika berpikir tentang surga? Bagaimana bagian kitab Wahyu hari ini menguatkanmu?

Bapa, bersyukur untuk kasih-Mu! Kami gembira menantikan saatnya kami tinggal dalam damai bersama-Mu dan saudara-saudari lainnya di surga.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 103-104; 1 Korintus 2

Background photo credit: Setiawan Jati

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

10 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!