Kisah Cinta Eli

Info

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Lapangan El-Marga di kota Damaskus, Siria, begitu ramai dipadati penduduk kota. Langit masih gelap, matahari belum bersinar.

Masih dini hari di kota yang dulu bernama Damsyik itu. Ratusan polisi dan pengawal militer berjaga-jaga di balik pagar berduri.

Di mana-mana terdapat tentara berjaga-jaga. Di atas atap-atap rumah, di pintu masuk hotel, bahkan di selokan bawah tanah. Para prajurit khusus dan penembak jitu terbaik negeri itu berjaga-jaga dengan kesiapan tempur gerak cepat.

Satu hari sebelumnya radio Damaskus mengumumkan hukuman mati bagi seorang penjahat negara.

Seluruh negeri bersorak-sorai, mungkin karena merasa sudah diperdaya dan dipermalukan oleh seorang yang sebentar lagi akan menemui ajalnya di tiang gantungan, di lapangan yang terkenal dengan sebutan lapangan para martir -El Marga-.

Pria itu bernama Eli Cohen.

Ia sudah mempermalukan presiden, jenderal-jenderal, dan para petinggi negara itu dengan kecerdikan yang jarang dimiliki oleh manusia pada umumnya.

Ia salah seorang mata-mata terbaik yang pernah lahir di muka bumi.

Kini, pria yang menjadi perhatian internasional karena kehebatannya di bidang intelijen itu menghadapi tiang gantungan.

Hidupnya tinggal beberapa langkah kaki lagi. Sang algojo menawarkan tutup kepala kepadanya, dengan gelengan kepala ia menolak.

Para wartawan mendengarnya berdoa dalam bahasa Ibrani. Doanya yang terakhir pada Tuhannya, Allah Israel yang ia banggakan, Tuhan yang disembah leluhurnya: Abraham, Ishak, dan Yakub.

Pintu lantai terbuka, Eli Cohen tewas.

Hari itu pukul 03.35 pagi. Seluruh dunia melihatnya. Rakyat negara Israel berkabung. Istri Eli Cohen menonton kematian tragis suami yang dicintainya melalui televisi. Wanita ini terpukul berat, dan mendapatkan perawatan khusus karenanya.

Semua usaha diplomatik dan lobi-lobi internasional yang dilakukan negeri Zion sebelumnya untuk membebaskan intelijen terbaiknya itu tak berhasil.

Sang agen terbaik Israel itu meregang nyawa lebih cepat dari yang mereka kira.

Empat tahun sebelumnya Eli ditugaskan pada misi paling berbahaya. Menyelinap masuk ke jantung informasi rahasia pemerintah dan departemen pertahanan Siria.

Berperan sebagai pengusaha sukses Siria, ia telah berhasil menguasai seluruh rahasia negara itu lebih dari yang presiden negara itu kuasai.

Ia bahkan akan diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Sang Presiden karena kecerdasan dan karismanya. Misinya berhasil.

Eli memang seorang brilian.

Direkrut dan dilatih dengan baik oleh dinas intelijen Israel, Mossad, pada tahun 1957, untuk sebuah misi yang tak bisa dilakukan oleh agen rahasia biasa. Misi ini memang untuk Eli Cohen.

Dan ia berhasil.

Sungguh menarik jika melihat kehidupan Eli. Sebagai agen intelijen ia memang hebat, tetapi ternyata ia juga seorang pria yang romantis.

Dididik ketat dengan aturan Taurat oleh keluarga Cohen, ia punya satu sisi karakter yang sangat baik.

Ia seorang pria yang setia pada istri dan keluarganya.

Pada awal-awal masa dinasnya di Mossad, Eli bertemu dengan wanita cantik bernama Nadia yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit Hadassah, Tel Aviv.

Eli jatuh cinta padanya. Ia ingin bertemu lagi dengan si perawat cantik itu. Sebagai patriot Israel, Eli dengan wibawa khasnya tak menunda untuk menyatakan isi hatinya pada Nadia, gadis yang menaklukkan hatinya sejak pandangan pertama itu.

Gayung bersambut. Tak sampai seminggu kemudian, di pantai Herzliya, dua sejoli yang dimabuk kasmaran ini memutuskan untuk menikah.

Dari awal Eli sudah mengetahui bahwa wanita ini akan menjadi pendamping hidupnya.

Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan berani mengambil keputusan untuk menikahi Nadia, gadis yang baru dikenalnya selama tujuh hari.

Pilihannya tak salah.

Dua sejoli ini menikah. Sebagai ekspresi komitmen dalam romantika cinta, mereka berjanji hidup saling setia sampai maut memisahkan.

Mereka memang saling jatuh cinta sejak awal pertemuan mereka di Tel Aviv, di sebuah restoran khusus tentara Israel yang tangguh itu.

Mereka membangun rumah tangga baru dan menikmati hidup yang tenang. Meskipun Eli sering mendapat tugas-tugas penting yang membuatnya harus meninggalkan istrinya dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi pria Yahudi kelahiran Mesir ini sungguh mencintai istrinya, Nadia.

Kecintaannya pada Nadia dibuktikan dengan kesetiaanya yang tinggi pada wanita yang dinikahinya pada tahun 1959 itu.

Laporan intelijen mencatat bahwa, ketika sering kali Eli diharuskan berada dalam posisi “menemani” para jenderal dan pejabat tinggi negara Siria yang melakukan pesta pora dan perselingkuhan dengan wanita-wanita simpanan mereka, agen Mossad ini memilih untuk tidak menyentuh satupun dari para wanita cantik nan seksi yang menggoda itu.

Di hatinya hanya ada satu wanita, Nadia, yang sangat dicintainya.

Sejak 1960 operasi rahasia Eli di Siria mulai dijalankan. Perintah ini resmi dan langsung mendapat perhatian dari Isser Harel, sang direktur Mossad yang legendaris itu.

Dalam operasi rahasinya ini, begitu banyak rahasia pertahanan negara Siria yang telah ia bocorkan ke Markas Besar Mossad di Israel -kelak informasi ini yang membuat Israel menang telak atas Siria pada Perang Enam Hari pada tahun 1967-. Eli sangat profesional.

Ia adalah seorang mata-mata yang sukses. Sampai suatu hari sebuah tim elit kontra-intelijen Uni Soviet yang disewa pemerintah Siria berhasil membongkar operasinya.

Kini, Eli Cohen, agen rahasia yang menguasai bahasa Ibrani, Arab, Inggris dan Spanyol ini harus rela mengakhiri hidupnya di tengah lapangan kota Damaskus, di tangan musuh negara yang dibelanya, Israel.

Sebelum ia menemui ajalnya di tiang gantungan, di seberang lapangan El Marga, di sebuah pos polisi yang remang-remang ia diantar masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat meja kayu kosong.

Dengan pengamanan yang super ketat, dan didampingi seorang Rabbi Yahudi, ia diperbolehkan menulis sepucuk surat perpisahan kepada istrinya, Nadia.

*Kepada Nadia, istriku, dan keluargaku yang tercinta. Aku minta agar kalian tetap bersatu. Aku mohon kepadamu Nadia untuk memaafkanku. Aku minta supaya kamu menjaga dirimu sendiri dan anak-anak kita, serta berusaha supaya anak-anak dididik dengan baik. Perhatikanlah dirimu sendiri dan usahakanlah agar anak-anak kita tak kekurangan sesuatu apapun. Peliharalah hubungan baik dengan keluargaku. Aku mau supaya kamu menikah lagi agar anak-anak kita tak bertumbuh tanpa seorang ayah, aku berikan kamu kebebasan penuh untuk berbuat demikian. Aku mohon supaya kamu jangan membuang-buang waktu dengan menangisi aku. Selalu berpikir ke depan! Kukirimkan ciumku yang terakhir kepadamu, Sophie, Iris, Saul, serta anggota-anggota keluarga yang lainnya. Untuk kalian semua, keberikan ciumku yang terakhir dan shalom.*

*Eli Cohen, 18 Mei 1965*

Sementara di luar orang-orang Siria sudah menanti kematian agen terbaik Israel ini, Rabi Andabo mengucapkan doa Shema Israel untuk Eli, *”Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu…,”* suara Rabi itu terhenti dan lama-lama menghilang, orang-orang Siria itu dengan tidak sabar mendorong Eli keluar.

Ia berjalan ke tiang gantungan.

Tak ada ketakutan di matanya.

Ia tau akan segera bertemu Elohim Adonai, Tuhan yang menjadikan leluhurnya sebagai bangsa pilihan.

Menit-menit terakhir terasa begitu cepat.

Pintu Firdaus seakan terbuka di atas lapangan yang sering digunakan sebagai tempat eksekusi itu, dan babak akhir hidup sang intelijen jenius ini ada di situ.

Tak lama kemudian dunia melihatnya mati di tiang gantungan, bersama rasa cintanya pada negaranya Israel, bersama kesetiaanya pada Nadia dan keluarganya.

Tragis? Mungkin saja.

Eli memang mati karena risiko tugas. Tapi yang juga menjadi perhatian kita adalah bahwa ia adalah seorang yang mencintai istrinya dengan kesetiaanya yang tinggi.

Ia mencintai istrinya sama seperti ia mencintai Israel, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi leluhurnya. Eli menunjukkan kasih setia pada pasangannya sampai akhir hayatnya.

Memang sejak zaman dahulu, hingga zaman Eli Cohen, hingga zaman kita saat ini, dan bahkan hingga sampai zaman anak cucu kita, kesetiaan selalu melekat pada ungkapan cinta.

Karena cinta sejati adalah kesetiaan, hingga maut memisahkan.

Sebagai agen intelijen, Eli bertekad membela negaranya dari ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri.

Sebagai seorang suami, ia mempertahankan cintanya pada sang istri yang telah memberinya 3 orang anak itu.

Nadia menerima surat terakhir suaminya itu, dan melakukan semua permintaan terakhir suaminya, kecuali menikah lagi.

Eli mencintai negaranya, dan ia rela mati demi tugas. Eli mencintai istrinya, dan ia menjaga kesetiaanya sampai tali gantungan memutus nafasnya di lapangan El Marga, di kota Damaskus yang berdebu.

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah mendapatkannya?” (Amsal 20:6)

Baca Juga:

3 Tips untuk Tetap Menyembah Tuhan di Masa Sulit

Memuji dan menyembah Tuhan terasa mudah ketika segalanya baik-baik saja. Namun, ketika kesulitan melanda, kita merasa Tuhan seolah jauh, atau sepertinya Dia tidak peduli. Sulit pula bagi kita untuk mengasihi, menghormati, dan mengakui Tuhan atas pribadi-Nya, apa yang Dia telah lakukan, dan yang sanggup Dia lakukan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 08 - Agustus 2019: Bangga menjadi Indonesia, Artikel, Cerpen, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!