Berdoa dan Mengasihi

Info

Rabu, 28 Agustus 2019

Berdoa dan Mengasihi

Baca: Roma 12:9-21

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! —Roma 12:21

Berdoa dan Mengasihi

Jesse Owens, atlet atletik ternama, dibesarkan oleh orangtua yang beriman teguh kepada Yesus. Ia pun menjalani hidupnya dengan penuh iman dan keberanian. Owens pernah berlaga dalam Olimpiade tahun 1936 di Berlin sebagai satu dari segelintir orang Amerika berkulit hitam dalam kontingen AS. Di sana ia berhasil menyabet empat medali emas di depan Adolf Hitler dan para pendukung Nazi yang penuh dengan kebencian terhadap ras yang berbeda. Owens sempat berteman dengan seorang atlet asal Jerman bernama Luz Long. Dalam lingkungan yang dipenuhi propaganda Nazi, sikap Owens yang sederhana dalam menghidupi imannya ternyata berdampak besar pada Luz. Di kemudian hari, Long menulis kepada Owens: “Waktu di Berlin, saat pertama kalinya aku bicara denganmu, kau sedang berlutut, dan aku tahu kau pasti sedang berdoa . . . aku terpikir untuk percaya juga kepada Allah.”

Owens mencontohkan bagaimana orang percaya bisa menjawab perintah Rasul Paulus untuk “[menjauhi] yang jahat” dan “saling mengasihi sebagai saudara” (RM. 12:9-10). Ia bisa saja membalas kejahatan di sekelilingnya dengan kebencian, tetapi Owens memilih hidup dengan iman dan menunjukkan kasih kepada seseorang yang kemudian menjadi temannya dan yang akhirnya terpikir untuk percaya kepada Allah.

Ketika umat Allah dengan setia “[bertekun] dalam doa” (ay.12), Dia akan memampukan kita untuk “sehati sepikir dalam hidup [kita] bersama” (ay.16).

Ketika kita mengandalkan doa, kita dapat berkomitmen untuk menghidupi iman kita dan mengasihi semua orang yang juga diciptakan menurut gambar Allah. Saat kita berseru kepada Allah, Dia akan menolong kita meruntuhkan tembok-tembok pembatas dan membangun jembatan kedamaian dengan orang-orang di sekitar kita. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Roma 12:9-21 adalah sebuah perikop yang sulit diuraikan—seperti kumpulan perkataan yang acak dalam kitab Amsal. Namun, di sini Paulus masih melanjutkan tentang pembaruan budi dan hidup yang diubahkan (12:1-2). Fokus utamanya adalah kasih—keutamaan kasih dalam hidup pengikut Yesus (ay.9). Bukti paling jelas dari hidup yang menyerupai Kristus adalah mengasihi seperti Kristus. Hidup yang diubahkan adalah hidup yang mengasihi dengan sepenuh hati dan memberi dengan penuh pengorbanan. Paulus menasihatkan bagaimana menjalin hubungan dengan orang-orang percaya (ay.9-16) dan yang belum percaya (ay.17-21) di dunia yang jahat ini. Kasih kepada orang lain—terutama kepada musuh—adalah ujian yang nyata atas akal budi yang sudah diperbarui dan hidup yang sudah diubahkan (ay.21). —K.T.Sim

Bagaimana cara kamu membangun jembatan kedamaian antara kamu dan sesama? Pernahkah kamu melihat bagaimana kesetiaanmu berdoa membuahkan hasil?

Bapa di surga, kuatkanlah kami agar dapat bersatu dalam doa, berkomitmen penuh untuk saling mengasihi dan hidup bersama dalam damai.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18

Handlettering oleh Tora Tobing

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

28 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!