Terlalu Fokus Pelayanan Membuatku Lupa Siapa yang Kulayani

Info

Oleh Diana Mangendong, Makassar

Mengisi masa muda dengan aktif pelayanan terasa melegakan, bukan? Saat generasi milenial sedang sibuk-sibuknya mendongkrak popularitas lewat media sosial, saat dunia sedang ramai berselisih paham antarlingkup perbedaan dan persaingan kekuasaan, kita justru telah dipanggil dan dipilih menjadi kawan sekerja Allah.

Seiring dengan pelayanan yang kujalani, aku menikmati berkat demi berkat yang Tuhan sediakan. Pada awalnya, Tuhan mempercayakan perkara-perkara kecil, yang perlahan-lahan dinaikkan levelnya. Kemudian, Tuhan menganugerahiku dengan talenta, membantuku menemukan potensi baru dalam diri, menumbuhkan mental pelayanan dan kepercayaan diri, serta pergaulan yang semakin meluas. Aku percaya, semua yang dianugerahkan Tuhan kepadaku harus kupersembahkan kembali bagi kemuliaan nama-Nya.

Kupikir jalan hidup yang kuambil sudah tepat—menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan. Aku memberi diri untuk melayani sebagai pengurus komisi perkembangan anak dan remaja di gereja. Untuk tetap terhubung dengan teman-teman sebaya, aku juga melibatkan diri dalam pelayanan persekutuan pemuda. Jadi, tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa dari Senin sampai Minggu aku selalu melangkahkan kakiku ke gedung gereja untuk rapat, persiapan mengajar, persiapan liturgi dan penyataan firman saat ibadah, latihan paduan suara, dan pastinya ibadah sekolah minggu dan ibadah pemuda. Kegiatan akan menjadi semakin padat saat memasuki bulan-bulan perayaan hari anak dan hari besar gerejawi. Rasa-rasanya, program kerja tahunan penguruslah yang menyetir kehidupan pelayananku.

Hingga suatu ketika, aku merenungkan kembali segala aktivitas pelayanan yang kulakukan. Di satu sisi, mungkin aku terlihat begitu giat dan bersemangat melayani-Nya. Tapi, di sisi lainnya, kedekatan dengan Tuhan yang kubangun melalui saat teduh, doa, dan puji-pujian mulai tergantikan dengan lelahnya aktivitas pelayanan yang kulakukan. Aku pun teringat akan sebuah kutipan yang berkata: “Adalah mungkin begitu aktif dalam pelayanan Kristiani, tapi lupa mengasihi Kristus” – P.T Forsyth.

Aku terlalu banyak menerima pelayanan hingga sebagian besar waktuku terpakai untuk merealisasikan program kerja. Pelayanan yang kulakukan jadi kehilangan makna, hanya menjadi serangkaian rutinitas belaka. Kesibukanku dalam pelayanan membuatku tak sadar bahwa ada Tuhan Yesus yang menantikanku dalam saat-saat pribadi bersama-Nya.

Hari itu aku pun memohon ampun kepada Tuhan atas kekeliruan motivasiku dalam melayani-Nya. Aku memohon agar Tuhan memampukanku untuk tetap menjadikan Dia yang terutama dalam pelayananku dan aku berkomitmen untuk membangun kembali hubungan yang erat dengan-Nya. Aku menyadari bahwa Tuhan tidak menilai seberapa banyak pelayanan yang kita ambil, tetapi seberapa sungguh kita mau menggunakan pelayanan itu sebagai cara untuk terhubung dengan Kristus.

Pada akhirnya, aku tahu bahwa kelegaan yang kudapatkan di dunia pelayanan hanyalah oase dari dahaga eksistensi jiwa mudaku. Aku bersyukur Tuhan menyadarkanku bahwa langkahku sudah membuatku nyaris jatuh ke dalam jurang kesombongan. Aku belajar bahwa pelayanan itu perlu, tetapi menjadi tidak baik ketika kegiatan pelayanan membuat kita mengesampingkan hubungan pribadi dengan sang pemberi pelayanan itu sendiri: Tuhan Yesus.

Biarlah pelayanan kita menjadi bentuk ungkapan syukur kita atas karya keselamatan dan kasih setia Tuhan bagi kita, sebagai buah manis dari hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Jangan sampai pelayanan yang kita lakukan menjadi salah tujuan, seperti untuk kebanggaan dan kepuasan diri sendiri. Hanya bagi Tuhan dan kemuliaan-Nya sajalah kiranya pelayanan kita ditunaikan. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua, di ladangnya masing-masing.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).

Baca Juga:

Patah Hati Membuatku Berbalik pada Tuhan

Patah hati mungkin adalah peristiwa buruk, tetapi dari peristiwa buruk inilah aku jadi belajar untuk memperbaiki diri dan juga lebih dekat dengan Tuhan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2019: Menggali Dasar Iman, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

4 Komentar Kamu

  • Makasih ka, buat artikelnya, jujur artikel ini menggambarkan diri saya sekarang, terimakasih sudah diingatkan.
    Tuhan Yesus Memberkati

  • Luar biasa, sebuah permenungan sarat makna utk tdk larut dlm rutinitas realisasi program.

  • terimakasih… artikel ini mengingatkan saya, bahwa Tuhan selalu merindukan saat2 pibadi Bersama dengan Dia.. apapun pelayanan kita, seberapa lelah nya kita, Tuhan rindu kita senantiasa datang kepadaNya… puji Tuhan… semakin diingatkan kembali…

  • Luar biasa artikel ini….yg utk kita bisa renungkan ttg pelayanan kita yg sebenarnya utkKemulianTuhan..GBU all.

Bagikan Komentar Kamu!