Obsesi

Info

Selasa, 16 Juli 2019

Obsesi

Baca: Mazmur 16:1-11

16:1 Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

16:2 Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

16:3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.

16:4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.

16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

16:6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau! —Mazmur 16:2

Obsesi

My precious . . .” Setelah pertama kalinya muncul dalam trilogi Lord of the Rings karya Tolkien, makhluk kurus kering bernama Gollum dengan obsesi gilanya terhadap “cincin kekuasaan” telah menjadi tokoh yang menggambarkan keserakahan, obsesi, bahkan kegilaan manusia.

Yang menggelisahkan, sosok itu tidak asing bagi kita. Dalam hubungan cinta dan bencinya dengan cincin itu dan dirinya sendiri, suara Gollum menyuarakan dahaga yang terdapat dalam hati kita sendiri. Entah dahaga itu terhadap satu hal tertentu, atau hanya kerinduan samar terhadap sesuatu yang “lebih,” kita meyakini bahwa akhirnya kita akan puas setelah mendapatkan apa yang kita idam-idamkan. Namun ternyata, apa yang kita pikir dapat memuaskan justru membuat kita merasa lebih hampa daripada sebelumnya.

Hidup tidak seharusnya seperti itu. Seperti yang diungkapkan Daud dalam Mazmur 16, ketika hasrat hati mendesak kita untuk mati-matian mengejar kepuasan yang sia-sia (ay.4), kita perlu ingat untuk datang kepada Allah untuk menerima perlindungan (ay.1) dan bahwa tidak ada yang baik bagi kita di luar Allah (ay.2).

Saat kita berhenti mencari kepuasan “di luar sana” dan memilih untuk memandang kepada keindahan Allah (ay.8), pada akhirnya kita bisa merasakan kepuasan sejati—kehidupan yang menikmati sukacita di hadapan [Allah]”, dengan berjalan bersama-Nya setiap saat di “jalan kehidupan”—sekarang sampai selama-lamanya (ay.11). —Monica Brands

WAWASAN
Pada awal mazmur, biasanya terdapat keterangan pembuka sebelum lirik atau sajaknya. Keterangan tersebut umumnya menyatakan penulis mazmur dan alasan penulisannya (lihat Mazmur 3, 18). Keterangan itu juga memberikan informasi tentang siapa mazmur itu ditulis, bagaimana mazmur tersebut harus dibawakan, petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan musik, dan nada musik (lihat Mazmur 6, 7, 56, 60). Pendahuluan pada Mazmur 16 memberitahukan bahwa mazmur tersebut adalah “miktam Daud.” Catatan ini juga muncul pada lima mazmur lain (Mazmur 56-60). Para pakar Alkitab tidak menemukan kesepakatan tentang apa itu miktam, maka dalam sebagian besar Alkitab versi bahasa Inggris, kata miktam tidak diterjemahkan. Beberapa ahli berpendapat bahwa miktam mungkin adalah suatu “persembahan”; tetapi sebagian lain perpendapat bahwa miktam merujuk pada mazmur-mazmur yang berkaitan dengan penebusan dosa karena akar kata “miktam” berarti “menutupi.” —K. T. Sim

Hal apa yang sering kamu cari untuk memuaskan diri saat kamu jauh dari Allah? Siapa yang dapat menjadi sumber dukungan dan kasih bagimu saat kamu terjerat dalam kecanduan mendapatkan lebih dan lebih lagi?

Ya Allah, ampuni aku karena aku mengira bisa mendapatkan apa yang kubutuhkan di luar Engkau. Terima kasih, Engkau selalu hadir bahkan di saat aku melupakan-Mu. Bawalah aku dekat kepada-Mu agar hidup bersukacita bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 16-17; Kisah Para Rasul 20:1-16

Handlettering oleh Agnes Paulina

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!