Just Be Yourself! Apakah Harus Selalu Begitu?

Info

Oleh Yulinar Br. Bangun, Tangerang

Dalam sebuah kesempatan makan malam di luar bersama teman, aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang juga sedang makan di sebelah meja kami. Percakapan mereka seperti pembicaraan wanita pada umumnya yang saling curhat. Aku tidak terlalu tertarik dengan percakapan mereka sampai aku mendengar sebuah statement dari salah satu di antara mereka yang kurang lebih seperti ini “just be yourself, hidup kita terlalu berharga untuk menghiraukan komentar orang lain. Nobody perfect, jadi anggap saja itu bagian dari kelemahanmu.” Just be yourself, kalimat ini menjadi pertanyaan untukku dalam beberapa hari ini. Kalimat tersebut mungkin sering di dengungkan oleh seorang sahabat untuk menghibur sahabatnya. Apa sebenarnya makna dari kalimat tersebut? Ketika aku melihat ke dalam diriku, aku menyadari bahwa aku adalah seorang yang cuek, emosi meluap-luap, perfeksionis dan masih banyak kelemahan yang lain. Lantas, apakah aku cukup dengan menjadi pribadi yang demikian?

Sebagai ciptaan Tuhan, memang benar bahwa setiap manusia adalah unik dengan kepribadiannya masing-masing. Namun, bukan berarti kita harus berpuas diri dengan kepribadian yang melekat dalam diri kita. Aku percaya bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang indah, namun juga telah rusak oleh karena dosa. Dosa itu yang membuat manusia memiliki kepribadian buruk dalam dirinya. Manusia memang tidak sempurna, tapi kita diminta untuk mengejar kesempurnaan itu hari demi hari. Dalam proses mengejar tersebut tentunya terdapat perubahan. Memang benar bahwa mengerti konsep ini tidak membuat prosesnya mulus tanpa hambatan. Setiap orang mungkin juga bergumul dengan hal ini. Perubahan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, kita membutuhkan komunitas yang mendukung dalam pertumbuhan kita menuju kesempurnaan tersebut.

Seorang pendeta pernah berkata dalam khotbahnya bahwa kita harus mengerjakan segala sesuatu dengan kapasitas terbaik yang kita punya, karena semakin baik kualitas diri kita semakin banyak orang yang akan terberkati. Kuncinya adalah melakukan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan karena ambisi, tapi untuk menjadi berkat.

Kita memang tidak mungkin bisa menjadi sempurna, karena hanya Dia pribadi yang sempurna. Namun, kita juga tidak bisa membela diri dengan berkata “just be yourself” yang kemudian berujung menoleransi diri. Lantas apakah jargon ini salah untuk diucapkan? Tentu tidak, saat ini aku hanya ingin kita melihat dari sudut yang benar. Konsep menjadi diri sendiri sebenarnya adalah konsep yang Alkitabiah. Kita tahu bahwa setiap manusia terlahir unik dengan ciri khas dan talenta masing-masing. Tuhan menciptakan kita sebagai orang yang super limited edition, hanya satu yang seperti kita di seluruh permukaan bumi. Karena itu, adalah salah jika kita mengacaukan kehendak Allah dengan berusaha menjadi seperti orang lain.

Hal yang perlu kita lakukan adalah menjalani kehidupan sesuai dengan alur cerita yang telah dirancang Tuhan dengan upaya terbaik yang kita punya dan penuh pertanggungjawaban atas setiap karunia unik yang Ia percayakan. Apakah dengan sikap cuek aku telah melakukan upaya terbaik dalam relasiku? Apakah dengan emosi yang meluap-luap aku telah melakukan yang terbaik dalam menghargai orang-orang di sekitarku? Jawabannya tentu tidak. Oleh karena itu, daripada “just be yourself” aku lebih menyukai “please improve yourself.” Kenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, melalui itu temukan cara terbaik untuk mengalami pertumbuhan yang semakin menyerupai Dia.

Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Baca Juga:

Jatuh Bangun Mencari Pekerjaan, Ada Rencana Tuhan Di Balik Setiap Kegagalan

Aku pernah gagal dalam upayaku mencari pekerjaan. Tetapi, pada akhirnya Tuhan menganugerahiku buah yang manis, dan aku pun berkomitmen untuk bekerja dengan baik dan disiplin.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2019: Menggali Dasar Iman, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

5 Komentar Kamu

  • Terima kasih atas artikelnya. Sangat memberkati!
    Banyak orang (termasuk saya) salah persepsi mengenai “just be yourself”
    Saya setuju dengan penulis untuk “please improve yourself”
    Memang setiap orang memiliki kelemahan tetapi jika kita meminta hikmat Tuhan, dalam kelemahan itulah kita akan disempurnakan oleh-Nya.

    God bless 🙏

  • Trimakasih!!! Sangat memberkati sekali, aku juga jadi tersadar lagi kalo ternyata menjadi diri sendiri penting namun harus diimbangi jg dengan pertumbuhan yang Tuhan kehendaki dalam diri kita.

  • Amin Firman luar biasa, sangat memberkati saya

  • Terimakasih Tuhan

Bagikan Komentar Kamu!