3 Ayat Alkitab Ketika Kita Merasa Tidak Cukup Baik

Info

Oleh Jiaming Zeng
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Truths For You When You Feel Inadequate

Meskipun secara keseluruhan aku punya kehidupan yang nyaman, aku tetap memiliki ketakutan terhadap beberapa hal. Aku takut terhadap anjing yang besar. Aku takut meninggalkan kesan yang buruk pada orang lain. Aku takut aku tidak dapat menemukan pekerjaan yang bermakna ketika aku lulus, atau membuat keputusan yang salah. Dan ada banyak hal lagi. Mungkin hal-hal ini merupakan kekhawatiran atau ketakutan yang tidak logis, tetapi perasaan itu benar-benar kurasakan.

Mungkin ketakutanku yang terbesar dan terdalam adalah ketakutan bahwa aku merasa tidak mampu—suara kecil dalam hati yang mengatakan aku tidak cukup baik. Suara yang sebenarnya sudah biasa kuabaikan namun menusuk kembali ketika dosenku menanyakan suatu hal yang tidak bisa kujawab, atau ketika aku menerima surat penolakan ketiga kalinya dari beasiswa terbaik, atau ketika aku melihat foto suatu tempat yang ingin kukunjungi ataupun foto seseorang yang menjadi idolaku di Instagram. Rasa takut akan ketidakmampuanku seringkali muncul dari ekspektasi yang tidak terwujud, yang berasal dari pengaruh orang-orang sekitar maupun dari dalam diriku. Kegagalanku mencapai ekspektasi itu (yang seringkali kubuat secara tidak sadar) bisa memunculkan perasaan cemas atau takut yang cukup kuat.

Ketika aku menjalani tahun pertamaku kuliah untuk gelar Ph.D, aku merasa hancur ketika aku ditolak dari semua beasiswa riset yang kuajukan. Sebenarnya aku tidak benar-benar butuh beasiswa; aku dapat membiayai studiku sendiri dari pendapatanku sebagai asisten dosen. Namun aku sudah berusaha sebisa mungkin mendapatkan beasiswa ini dan sangat berharap setidaknya ada satu yang akan diterima. Maka dari itu, ketika teman-teman dan rekan sekelasku merayakan beasiswa yang mereka dapat, aku kecewa dan ragu akan kemampuan diriku sendiri.

Itu bukanlah kali pertama maupun terakhir kalinya aku bergumul dengan rasa takut akan ketidakmampuan. Namun aku telah belajar untuk menghadapi rasa takut ini dan memfokuskan perhatianku pada Tuhan dan janji-Nya. Ada 3 ayat yang telah membantuku menghadapi rasa takut ini, dan ayat-ayat ini juga menolongku ketika aku dilumpuhkan oleh ketakutan.

1. Kita bukanlah satu-satunya orang yang bergumul

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13).

Setiap kali aku terjebak dalam ketakutanku, aku cenderung meyakini bahwa aku sendirian dan aku satu-satunya orang yang bergumul. Namun aku belajar untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa meskipun situasiku unik dan tidak dirasakan orang lain, banyak orang telah menghadapi pergumulan dan ketakutan yang serupa. Ribuan orang lain juga ditolak oleh beasiswa tersebut, sama seperti diriku. Lebih dari itu, semua orang kemungkinan besar pernah mendapat penolakan dari sesuatu yang mereka telah usahakan dengan susah payah.

Mengingat hal ini menghindariku dari pengasingan diri akibat fokus yang terlalu berpusat pada diri sendiri, dan memampukanku untuk melihat secara lebih luas. Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa kekhawatiranku—cobaan dan godaan ini— hanyalah pencobaan dan godaan yang biasa terjadi pada manusia, dan dan Tuhan telah berjanji bahwa Ia akan selalu menolong kita melaluinya jika percaya pada-Nya.

2. Pencobaan dapat menolong kita menumbangkan kebohongan dan berhala

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:2-4).

Ketika aku percaya janji Tuhan bahwa Ia akan menolong, aku dapat memandang situasiku dengan cara pandang yang berbeda. Alih-alih berkubang dalam rasa takut itu, aku dapat bersuka dan menganggapnya sebagai kesempatan dari Tuhan untuk mendewasakanku.

Ketika aku depresi karena beasiswaku ditolak, aku akhirnya melihat bahwa penyebab kesedihanku bukanlah kekurangan dana maupun fleksibilitas risetku. Kekecewaanku muncul karena aku masih tidak percaya kalau aku gagal mendapatkan beasiswa. Merasa percaya diri akan pencapaian akademisku, aku dengan egois meyakinkan diriku bahwa aku layak menerima salah satu dari beasiswa tersebut. Aku menginginkan beasiswa tersebut bukan karena aku membutuhkan beasiswa itu, namun karena itu akan menjadi pencapaian tambahan untuk resume-ku. Ketika surat itu datang, egoku terserang. Tuhan menggunakan penolakan ini untuk menunjukkan bagaimana aku telah menjadi sombong dan kehilangan kerendahan hati. Akhirnya, aku mulai melepaskan bayangan idealku soal kesuksesan akademis dan belajar untuk beriman pada rencana-Nya untuk studiku.

Pergumulan kita seringkali menunjukkan kita pada kebohongan atau berhala yang harus kita serahkan pada Tuhan. Bertekun dalam iman dalam pencobaan kita akan menolong kita lebih dekat pada Tuhan. Karena, pada akhirnya, ketekunan akan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Roma 5:4). Dan pengharapanlah yang membuat kita tegar ketika keraguan dan ketakutan mengancam untuk menjatuhkan kita.

3. Menghadapi ketakutan mengingatkan kita pada apa yang menjadi dasar hidup kita

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19a).

Seiring aku belajar untuk menaruh pengharapanku di dalam Tuhan, aku juga belajar untuk memercayai Kristus sebagai jangkar bagi jiwaku. Pada zaman ini, ada banyak sekali pilihan dan model kesuksesan yang dapat dengan mudah menarik perhatian kita dan membuat kita mengejar standar pencapaian yang diakui dunia. Namun, memiliki pengharapan yang sejati di dalam Tuhan tidaklah mudah. Hal itu bagaikan otot yang harus kita latih; suatu hal yang kita perkuat melalui peperangan dengan ketakutan, kegagalan, dan kecemasan kita.

Untukku, pengharapan ini memberiku keberanian untuk menghadapi ketakutan-ketakutanku—untuk membantah suara yang mengatakan bahwa aku tidak layak atau tidak cukup baik. Tuhan juga menunjukkan padaku bahwa keberanian hanya datang melalui kerendahan hati. Untuk menguasai ketakutanku, aku harus terlebih dahulu menemukan kekuatan untuk menghadapi kekurangan dan berhala-berhalaku.

Untuk masalah beasiswa, aku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menemukan kekuatan untuk menghadapi egoku. Ketika aku melihat ke belakang, hal itu menjadi terlihat konyol. Beasiswa-beasiswa tersebut adalah hibah penelitian yang paling diperebutkan di negeriku dan aku dengan sombongnya menganggap aku akan mendapatkan salah satunya. Aku telah menjadikan penerimaan beasiswa sebagai gambaranku akan kesempurnaan. Tentunya, aku gagal mencapai gambaran kesempurnaan itu . . . namun gambaran tersebut tidak benar—sebuah khayalan, berasal dari definisi dunia tentang kesuksesan dan diperkuat oleh egoku sendiri.

Kenyataannya, aku tidak sempurna dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Tujuan untuk mencapai “kesempurnaan” melalui usahaku sendiri tidaklah realistis—itulah sebabnya Yesus melakukannya untuk kita.

Karena “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5:8).

Tuhan menawarkan pembebasan dan anugerah yang tak terhingga pada kita tanpa melihat ketidaksempurnaan dan kesalahan kita. Dalam setiap kekuranganku, Ia akan mencukupkan. Dalam kegagalanku, Ia akan mengangkatku.

Melalui kasih-Nya, aku telah mendapat keberanian untuk menghadapi ketakutanku akan ketidakcukupan dan berkata, “Kamu benar. Aku tidak sempurna. Tetapi aku tidak perlu menjadi sempurna. Satu-satunya hal yang kubutuhkan adalah kasih-Nya yang sempurna.”

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yohanes 4:18).

Baca Juga:

Perbedaan Apa yang Yesus Sanggup Lakukan dalam Hidupmu?

Mengapa Paulus bisa menganggap bahwa “memperoleh Kristus” adalah hal yang lebih berharga dan mulia jika dibandingkan dengan kehilangan segala sesuatu secara harafiah?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2019: Menggali Dasar Iman, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

12 Komentar Kamu

  • halelluya
    Sebelumnya saya juga merasakan hal yang sama
    Kini saya tau tujuan saya hidup dan apa yang harus saya lakukan
    Halelluya
    Terimakasih Tuhan Yesus

  • amin, terima kasih untuk artikel yg menegur dan menguatkan, Gbu 🙂

  • Trimakasih, artikel ini sangat memberkati saya, sangat sesuai dengan yang saya alami sekarang, semoga artikel ini juga dapat menjadi berkat untuk orang” lain yang membacanya, Tuhan Yesus memberkati kita smua

  • Kisah ini betul betul mirip dengan pergumulanku saat ini dan bagaimana anda berbagi kisah sangat membantuku menjawab kebingungan apa yang harus aku lakukan.. aku seringkali menganggap bahwa diriku tidak cukup baik tiap kali aku melakukan kesalahan.. awalnya kekecewaan tidak cukup baik ku pikir adalah hal biasa yg siapapun bisa rasakan namun yg ku alami justru membuatku depresi dan kadang mengucapkan kata kata yang tak patut ku ucapkan untuk mengakhiri hidup.. aku masih berproses hingga saat ini untuk mengalahkan sisi negatif dari diriku.. walau ada masa dimana aku ingin menyerah tapi aku bertekad tidak ingin kalah.. aku yakin Bapa akan sembuhkanku, sembuhkan kita.. amin

  • Intan juliana panjaitan

    Sangat memberkati
    Saya mengalami sekali, semua yg di tulis dari awal sampai akhir, banyak pembelajaran yg Bapa ajarkan dari setiap kejadian, sampai hari ini setiap hari Bapa mengajari aku.
    Kalau tidak ada masalah kemarin entahlah bagai mana hidup ku, saudara percayalah dalam setiap masalah ada maksud Tuhan☺

  • Aminn.. Puji Tuhan Terima Kasih Buat Renunganya Saya Merasa Terberkati 🙏🙏😇😇

  • Haleluya.. Amen

  • Dina Valianty Sitorus

    Trimakasih sekali untuk renungannya
    Sangat memberkati 😇😇

  • Aminnn, pengalaman yg hampir serupa dengan saya
    Saya yang sangat pd nya akan diterima di PTN maupun kedinasan namun kenyataannya satupun tidak ada yg keterima. Namun melalui hal tersebut saya belajar untuk melihat kekurangan diri sendiri dan lebih giat lagi dalam belajar
    Tuhan Yesus Memberkati

  • Terima kasih atas artikelnya yg sgt memberkati termasuk saya. Semoga saya mampu melewati pergumulan ini..amin. 🙏🙏

  • Trimakasih atas renungannya yang indah ini, kiranya dapat menjadi berkat bagi pembacanya. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan tetapi yakinlah waktu Tuhan pasti yang terbaik buat kita😇 God Bless U

  • kisah di atas hampir mirip dgan pergumulan saya, pada saat saya mendaftar ke perguruan tinggi negri tapi saya gagal, saat itu saya masih terima kalau Tuhan pasti punya rencana yg lebih baik dari apa yg saya rencana, sampai pada saat teman2 saya mengikuti ujian pendaftar ke perguruan tinggi (di luar pulau) ada keinginan dalam hati saya untuk ikut, tapi apa daya keadaan ekonomi keluarga saya tidak memadai, saat itu saya mulai meresa stres dan mengatakannya “kalo Tuhan itu pilih2 kasih, hanya orang2 tertentu saja, hanya mereka2 saja yg mendapatkan kasihNya”. pikiran2 itu terus ada di kepala saya, bahkan saya mencari2 ayat Alkitab yg bisa membantu saya keluar dri pergumulan saya, tapi tidak berhasil juga. sampai pada saat saya merenungkannya sendiri dan melihat orang2 sekitar saya, banyak teman2 sebaya saya yg memiliki pergumulan jauh lebih besar dari pada saya, saat itu saya bersyukur pada Tuhan, saya masih bisa bersekolah sampai saat ini, masih merasakan tempat tinggal yg nyaman dll. sampai saat ini saya berusaha untuk mengerti dan peka terhadap rancangan2 Tuhan dalam hidup saya. karna saya tahu Tuhan tau apa yg saya inginkan, namun Tuhan lebih tau apa yg saya butuhkan haleluya Amin. Tuhan memberkati kita semua

Bagikan Komentar Kamu!