Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Info

Oleh Ghereetha Silalahi, Jakarta

Siang itu, sinar matahari terasa begitu menyengat tubuh. Tanpa direncanakan sebelumnya, aku memutuskan untuk menikmati fasilitas transportasi terbaru di Jakarta, yaitu MRT (Mass Rapid Transport, atau dalam bahasa Indonesia disebut Moda Raya Terpadu). Berbanding terbalik dengan udara di luar yang amat panas, di dalam stasiun MRT terasa sejuk.

Aku mengisi waktu di perjalanan dengan membaca sebuah situs di internet tentang astronomi. Situs tersebut memuat banyak hal seputar benda langit dan fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi. Aku baru mengetahui bahwa setiap nama planet yang teridentifikasi oleh para ilmuwan dunia ini disadur dari nama para dewa Olimpus dalam mitologi Yunani yang kemudian diterjemahkan kembali oleh bangsa Romawi pada zamannya sesuai dengan nama dewa-dewanya sendiri kala itu: Mercurius (untuk Hermes), Venus (Afrodit), Mars (Ares), Jupiter (Zeus) dan Saturnus (Cronus). Dalam bahasa Yunani kuno, Matahari dan Bulan disebut dengan Helios dan Selene. Melalui bacaan tersebut, aku juga mendapati bahwa Bumi adalah satu-satunya planet yang namanya tidak diambil dari mitologi Yunani-Romawi. Bumi sendiri baru diakui sebagai planet pada abad ke-17, dan istilah Earth sendiri berasal dari bahasa Anglo-Saxon yaitu Erda yang artinya daratan atau tanah.

Pengetahuan baru yang kudapatkan sepanjang perjalanan membuatku merasa sangat bersyukur akan kebesaran Tuhan, sang Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa. Aku bersyukur akan terang dan gelap yang Dia ciptakan di hari pertama; cakrawala yang putih membiru di hari kedua; laut, darat, dan tumbuh-tumbuhan di hari ketiga; benda-benda penerang cakrawala (matahari, bulan, bintang) di hari keempat; binatang-binatang laut, darat dan udara pada hari kelima; dan pada akhirnya menciptakan manusia di hari keenam.

Aku dan kamu adalah ciptaan-Nya yang sungguh teramat baik. Ketika Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya, Ia merencanakan semuanya dengan matang untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Rasa syukurku semakin bertambah ketika membaca kembali apa yang Allah katakan kepada manusia dan bagaimana Dia memberkati manusia ciptaan-Nya yang agung dalam Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Dengan menyadari betapa dahsyatnya Allah dalam penciptaan, aku berharap kita semakin dimampukan Tuhan untuk memelihara bumi dan segala ciptaan-Nya sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, agar Ia mendapati kita telah bertanggung jawab atas kewajiban yang telah Ia berikan kepada kita. Aku mengajak kita semua untuk mencintai bumi tempat kita tinggal sebagaimana Allah mengasihi segala ciptaan-Nya sebagai Imago Dei—gambar dan rupa Allah.

Mari kita penuhi Bumi dengan kasih dan damai sejahtera yang bersumber dari Allah Bapa kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Ketika Kecantikan Menjadi Berhalaku

Sederet produk kecantikan yang kugunakan membuatku tampil lebih percaya diri. Tapi, ketika akhirnya wajahku mengalami breakout, aku menyadari bahwa ada yang salah dengan upayaku tersebut.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Tuhan

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!