Penyertaan Allah dalam Tantangan Kehidupan

Info

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Bulan April lalu aku sedikit menyampaikan keluhan hidupku lewat artikel yang berjudul “Jangan Sekadar Mengeluh!”. Dalam artikel tersebut, nampaknya manusia relatif sukar untuk berhenti mengeluh karena hidup manusia diiringi oleh penderitaan. Wait, jangan berpikir ke arah negatif dulu ya. Kata ‘derita’, yang bisa dibaca pada artikel sebelumnya, dapat dipahami sebagai sebuah konsekuensi yang harus ditanggung dan dijalani ketika seseorang bertindak suatu hal. Maka menurutku, wajar jika sesekali hidup manusia kerap diselingi oleh keluhan.

Keluhan yang kerap disampaikan oleh sebagian kita adalah tentang naiknya jenjang kehidupan. Aku mengingat jelas, ketika masuk ke bangku Sekolah Dasar, aku sering ngomel ke orang tuaku karena jam bermain tidak sebanyak masih di Taman Kanak-kanak. Lepas dari Sekolah Dasar menuju Sekolah Menengah Pertama, aku pun rindu masa Sekolah Dasar, di mana pe-er dan tes-tes tidak menumpuk banyak. Naik lagi ke tingkat Sekolah Menengah tingkat Atas, kesumpekan pun meningkat dengan beragam laporan laboratorium, riset-riset, les mata pelajaran ini dan itu. Memasuki dunia perkuliahan, aku mengira akan lebih lega dengan kebebasan mengatur jadwal, namun tuntutan perkuliahan justru lebih tinggi disertai juga kesibukan organisasi mahasiswa.

Selain naiknya jenjang kehidupan sebagai pilihan diri kita, tekananan kehidupan juga berasal dari lingkungan masyarakat di sekitar kita. Bagi kita yang sudah bekerja, baik sebagai pegawai atau wiraswasta, tentu merasakan persaingan dunia kerja. Bisnis fotografi dan videografi yang digeluti oleh kakakku pun mengalami persaingan dengan semakin merebaknya anak-anak muda yang baru sekian bulan memegang kamera lalu memasang tarif dokumentasi acara dengan harga yang miring. Begitu pun usaha event organizer yang pernah digeluti aku dan teman-temanku, dimana kini muncul banyak event organizer baru yang dipelopori anak-anak yang jauh lebih muda dari kami. Aku pun belum bisa membayangkan secara utuh dampak industri 4.0 dan era desrupsi pada tekanan hidup masyakat negara berkembang seperti di Indonesia.

Harus kita akui bahwa tekanan hidup manusia dari waktu ke waktu tidak akan semakin mudah, justru menjadi lebih besar. Namun apa yang harus kita pahami sebagai orang Kristen dalam menjani hidup penuh tekanan?

Sebuah penguatan dinyatakan juga oleh Allah ketika bangsa Yehuda berada di tanah pembuangan Babel. Dalam Yesaya 43:2 dikatakan bahwa:

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.”

Terdapat tiga hal yang bisa kita pahami dari ayat ini, terlebih menguatkan kita menjalani hidup penuh tekanan.

1. Allah menyertai kita dalam kesulitan hidup kita.

Penulis kitab Yesaya dengan jelas menyatakan janji Allah, di kala mereka menyeberang melalui air, melalui sungai-sungai, melalui api, Ia beserta. Dalam kondisi bangsa Yehuda kala mereka berada pada masa pembuangan ke Babel, jauh dari tempat asal mereka dan di bawah pemerintahan Raja Babel, Allah tidak mengabaikan mereka. Allah tetap beserta umat-Nya dalam tekanan kehidupan. Begitu pun ketika kita berada dalam tekanan hidup di pendidikan, dunia kerja, relasi dengan sesama maupun berbagai tekanan lainnya, Allah tetap menyertai umat-Nya.

2. Allah tidak menghilangkan tantangan kehidupan, tantangan masih ada.

Ketika Allah beserta umat-Nya, penulis kitab Yesaya tidak menyatakan bahwa bangsa Yehuda bisa kembali dengan mudah ke tanah mereka; masih ada air, sungai-sungai dan api yang menghadang mereka. Sama seperti kondisi hidup kita saat ini, Allah tidak pernah menjanjikan hidup kita bahagia, aman sentosa setiap saat, tetapi tantangan kehidupan tersebut masih ada. Tugas-tugas, ujian beragam mata pelajaran dan perkuliahan tetap ada, tuntutan dan persaingan kerja tetap ada karena Allah yang mengizinkan hal tersebut terjadi dalam hidup kita.

3. Allah meminta kita melalui tantangan tersebut, bukan menghindari.

Ketika kita melalui air, terlebih sungai-sungai, Allah berjanji kita tidak akan hanyut, tetapi kita tentu tetap basah dan merasakan derasnya arus sungai tersebut. Begitu pula ketika kita melalui api, Allah berjanji kita tidak akan hangus terbakar, tetapi kita tetap merasakan panas dari api tersebut. Hal yang sama terjadi dalam tantangan kehidupan kita, Allah berharap kita melalui tugas dan ujian dalam pendidikan kita maupun tuntutan dan persaingan kerja, bukan terus menerus menghindar.

* * *

Memang benar bahwa tekanan hidup manusia dari waktu ke waktu tidak akan semakin mudah, justru menjadi lebih besar. Segala yang aku dan teman-teman sekalian temui dalam hidup akan semakin berat. Akan selalu ada sungai maupun api yang harus kita lalui. Ketika melalui sungai dan api, yaitu tantangan kehidupan, kita akan makin disadarkan bahwa Tuhan selalu beserta kita. Maka kini, ketika kita berada dalam tekanan hidup, janganlah berdoa agar tekanan tersebut dijauhkan dari kita. Sampaikan kepada-Nya, “Tuhan, terima kasih atas tantangan dalam hidup kami. Sertai kami dan mampukan kami melalui tantangan tersebut. Amin.”

Ada satu pujian yang mengingatkan kita akan pemeliharaan Allah. Lagu yang berjudul “Ku Tau Bapa Peliharaku” ini mungkin tidak asing di telinga kita. Liriknya berkata:

“Ku tau Bapa p’liharaku,
Dia baik, Dia baik.
Ku yakin Dia s’lalu sertaku, Dia baik bagiku.

Lewat badai cobaan, semuanya mendatangkan kebaikan.
Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik bagiku.”

Kiranya pujian di atas akan semakin menolong kita menghayati penyertaan Tuhan dalam segala tekanan hidup kita.

Baca Juga:

Sulit Membuat Keputusan? Libatkanlah Tuhan dalam Hidupmu

Ketika kita bingung akan langkah yang harus kita ambil, izinkan Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita. Ia akan mengantarkan kita pada rencana indah-Nya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!