Ketika Kecantikan Menjadi Berhalaku

Info

Oleh Elsa, Balikpapan

Jika diingat-ingat, di masa SMP dan SMA aku bukanlah tipe perempuan yang antusias untuk mempercantik diri atau merombak penampilan. Aku tidak mengubah warna rambutku. Aku juga cuek soal make-up. Aku bahkan ogah memakai rok mini atau dress di atas lutut. Singkat kata, aku cukup konservatif.

Saat itu, yang menjadi perhatianku hanyalah dua hal: rambutku yang nampak lebih baik setelah di-smoothing atas permintaan orang tuaku, dan kulit wajahku yang sempat berjerawat tetapi akhirnya dapat kembali mulus berkat sebuah produk skincare. Awal masa SMA, aku pun memiliki kepercayaan diri untuk berkata bahwa aku cantik.

Kepercayaan diriku nyatanya tidak salah. Aku mendapatkan konfirmasi dari orang-orang di sekitarku, bahwa aku memang cantik dan wajahku pun membaik. Aku mulai berani mengurai rambutku saat pergi ke sekolah—sesuatu yang dulu tak pernah kulakukan—dan berjalan melintasi teman-temanku dengan santai. Reaksi mereka tak mengecewakan, beberapa dari mereka malah terang-terangan memberi pujian. Aku membalasnya dengan senyuman tipis, yang membuatku nampak rendah hati. Padahal, ada rasa bangga yang perlahan muncul dalam hatiku.

Memiliki wajah yang bebas jerawat memang menguntungkan. Aku tidak pernah mendapatkan pandangan berbeda dari teman-temanku seperti ketika mereka melihat teman lain yang berjerawat. Aku juga tidak ragu ketika diajak berfoto.

Ketika memasuki perkuliahan, aku mulai berkeinginan untuk lebih menunjukkan eksistensi diriku. Aku tidak hanya ingin dilihat orang lain sebagai orang yang cerdas, tetapi juga cantik. Aku sering membayangkan diriku menjadi sosok yang seperti itu. Akhirnya, aku mulai mencoba menggunakan serangkaian produk skincare, mulai dari facial wash, toner, moisturizer, dan protector. Aku juga berniat untuk belajar memakai make up dan sudah sempat membeli beberapa alat yang dibutuhkan. Saat itu aku berpikir bahwa hal ini kulakukan untuk membuat diriku lebih baik dari sebelumnya.

Hingga suatu hari, wajahku mengalami breakout hingga aku lelah menanganinya. Kondisi wajahku yang semula kuanggap amat baik jadi berubah. Aku rindu wajah mulusku. Aku hampir berniat untuk membeli obat jerawat karena aku ingin jerawat di wajahku sirna. Namun, tiba-tiba ada suara dalam diriku yang menyentak ketika aku mencondongkan wajahku di depan cermin.

“Waktu dikasih wajah mulus terima-terima aja, kok waktu jerawatan langsung protes?”

Aku terdiam beberapa saat, hingga suara lainnya menyusul.

“Kamu tau gak, kamu sudah terlalu ambisius untuk jadi cantik. Wajah mulus sudah pernah kamu nikmati, sekarang coba nikmati dulu wajah yang berjerawat. Jangan langsung beli obat jerawat.”

Aku pun kembali ke kamar, kembali melihat cermin, lalu menyentuh jerawat-jerawatku.

“Kayaknya benar, Vi. Kamu terlalu ambisius buat cantik.”

Saat itu pula aku teringat pada sebuah renungan yang pernah kubaca tentang sebuah bangsa di Perjanjian Lama yang mendirikan patung untuk disembah dan dijadikan berhala. Aku juga teringat pada Amsal 31:30.

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.”

Dengan penuh penyesalan, aku tersadar bahwa aku telah lebih mengagungkan dan mengejar kecantikan yang adalah penampilan luar daripada fokus bersikap baik dan mempercantik hatiku. Tuhan sudah menganugerahkanku wajah yang mulus—cukup dengan produk facial wash saja. Tetapi, aku tidak puas. Aku ingin wajahku lebih dari sekedar mulus. Saat aku berencana untuk menambah serangkaian produk skincare, sebenarnya aku sudah mempertimbangkan faktor usia dan kesiapan kulitku. Termakan ambisi, aku malah tidak sabar menunggu waktu yang seharusnya untuk menggunakan produk-produk tertentu. Aku membuat keputusan dengan agresif untuk membeli apa yang kuanggap baik setelah menelusuri internet.

Lagi-lagi, aku telah keluar dari jalur Tuhan. Menyadari hal itu, aku meminta maaf pada Tuhan atas ambisiku yang sia-sia. Ternyata, berhala tidak hanya menjelma dalam bentuk kekuasaan, uang, atau kehidupan yang menyenangkan saja—kecantikan pun bisa menjadi salah satunya.

Hari itu, aku menyesal karena telah mengecewakan Tuhan dengan memberhalakan kecantikan. Tetapi, di balik semua ketidaktahuan diriku akan kasih-Nya yang besar bagiku, Ia tetap setia membimbingku kembali ke jalan-Nya.

Hari ini, aku memiliki kesadaran baru bahwa di hadapan Tuhan, diriku cukup sebagaimana adanya. Nilai diriku tidak didasari oleh daya pikat yang berhasil kuciptakan untuk menarik perhatian teman-temanku, melainkan berdasarkan iman yang kupegang di dalam Dia.

Hari ini, aku telah diingatkan Bapa bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan selain merasakan suara Tuhan di tengah-tengah aktivitas yang kujalani.

Dan hari ini, aku belajar untuk lebih memperhatikan berhala-berhala kecil di kehidupanku.

Terimakasih Bapa, Kau telah mengingatkanku.

Baca Juga:

Belajar dari Kisah Naaman: Menerima Saran Sebagai Cara untuk Memperbaiki Diri

Seberapa serius kita menanggapi saran yang diberikan kita? Apakah kita mengikutinya atau sekadar menjawab “ya” tapi tanpa tindak lanjut?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2019: Meniti Jalan Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!