Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

Info

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13)

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Ia adalah pria berkulit terang yang suka memancing dan bernyanyi, pribadi yang sederhana dan penuh kasih. Dia begitu mengasihiku, adik-adikku, dan penolongnya yang sepadan yaitu Mama.

Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai yang paling utama. Suatu pagi, langit tiba-tiba mendung ketika aku sedang diantar Bapak ke sekolah. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Sayangnya, kami tidak membawa jas hujan. Bapak segera memberikan jaket yang dipakainya kepadaku, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena jam masuk sekolah sudah hampir tiba. Bapak bertanya apakah keadaanku baik-baik saja, padahal kondisi Bapaklah yang perlu dikhawatirkan karena ia mengendarai motor di tengah hujan tanpa jaket. Tetapi, ia lebih mementingkan kesehatanku daripada dirinya sendiri.

Bapak selalu memberikanku dukungan dan penghiburan di saat aku membutuhkannya. Saat aku ujian masuk perguruan tinggi, Bapak yang mengantarkanku. Bapak pula yang memberikan pelukan hangat untuk menenangkanku di malam pengumuman saat aku dinyatakan tidak diterima di pilihan pertamaku.

Bapak menunjukkan kasihnya dengan cara yang sederhana. Biasanya, Bapak akan mampir ke pasar sepulang kerja untuk membeli buah. Sesampainya di rumah, dari ambang pintu ia berkata, “Bapak pulang. Ini ada buah, ayo kupas dan kita makan”. Selain bekerja sebagai seorang karyawan swasta, Bapak juga menjual tas. Bapak telah mengusahakan banyak hal untuk aku dan adik-adikku agar kami dapat menikmati pendidikan dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Bertemu dengan Bapak dan berbicara dengannya pada sore hari sepulang kerja adalah hal yang kunantikan setiap hari. Aku senang jika suara motornya sudah terdengar dari dalam rumah. Kami dapat berbincang tentang apapun. Aku merasa bebas lepas saat berbicara dengan Bapak. Kedekatan ini membuatku semakin mengenal dan memahami Bapak. Aku sudah tahu Bapak sedang memikirkan sesuatu sebelum Bapak menceritakannya. Bapak juga tahu apa yang kualami sebelum aku menceritakannya. Meski begitu, tidak jarang kami berbeda pendapat. Aku sering membuatnya kecewa, begitupun sebaliknya. Kadang kebijakan-kebijakan Bapak dapat membuatku bersedih hati. Namun aku tahu, keputusan yang dibuat Bapak adalah untuk kebaikanku.

Cinta yang Bapak berikan mengingatkanku akan cinta kasih Bapa surgawi. Bapa begitu mencintai anak-anak-Nya sehingga Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi dunia. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, dan rela mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Kedekatan dengan Bapak membuatku rindu untuk lebih dekat dengan Bapa yang mengenalku lebih dari siapapun dan telah mengasihiku lebih dulu. Kini saatnya aku belajar semakin mengenal dan mengasihi-Nya melalui hubungan yang dibangun setiap hari lewat doa dan saat teduh. Bercermin dari hubunganku dengan Bapak, aku percaya bahwa setelah mengenal dan mengasihi Bapa Surgawi, aku akan semakin memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku belajar untuk menghayati bahwa semua yang terjadi di dalam hidup ini juga seturut dengan kehendak-Nya dan bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, sekalipun dalam kedukaan.

Setiap kali aku menghabiskan waktu dengan Bapak, aku selalu teringat untuk meluangkan waktu berbincang dengan Bapa Surgawi—Pribadi yang menerimaku sepenuhnya, mengenalku sampai ke bagian yang terdalam, dan mengasihiku lebih dari siapapun.

Baca Juga:

Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2019: Meniti Jalan Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!