3 Hal yang Tuhan Ajarkan dalam Masa Penantian

Info

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Aku adalah salah seorang mahasiswa S3 di salah satu universitas di Korea Selatan. Sebagai mahasiswa S3, aku harus menulis publikasi jurnal untuk dapat lulus.

Dalam proses penelitian dan penulisan jurnalku, aku tidak terlalu bertekun dalam berdoa. Kalaupun berdoa, tujuanku adalah supaya jurnalnya diterima. Motivasi dalam berdoaku ialah untuk mengejar kesuksesan dalam studiku. Sama seperti kebanyakan mahasiswa S3 di sekitarku, aku berpikir apabila banyak publikasi jurnalku yang diterima, aku akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan nantinya setelah kelulusanku.

Tahun 2017, aku mencoba mengirimkan publikasi pertamaku. Hasilnya keluar satu tahun kemudian dan ditolak. Tidak mudah bagiku untuk menerima hasil tersebut. Aku kecewa, menggerutu, dan frustrasi dengan kenyataan yang harus kuhadapi.

Aku mencoba lagi mengirim publikasi pertamaku di jurnal lainnya pada bulan Oktober 2018. Dua bulan setelahnya, aku juga mengirim publikasi keduaku. Dalam waktu kurang dari satu bulan, publikasi keduaku sudah ditolak lebih dari dua jurnal.

Aku menjadi kurang percaya diri. Aku mulai membandingkan diriku dengan teman-teman di sekitarku yang publikasinya diterima. Keadaan ini membuatku iri hati dengan pencapaian teman-temanku.

Di tengah kekecewaan yang kualami, aku disadarkan melalui fellowship bersama mentor rohaniku akan tiga hal yang Tuhan sebenarnya inginkan dalam hidupku.

1. Tuhan ingin agar aku memperbaiki motivasi dalam berdoa.

Hasratku sebelumnya mendapat reputasi yang baik dengan menulis sebanyak mungkin publikasi. Namun, Tuhan ingin aku berdoa dengan motivasi yang benar, yaitu agar nama-Nya saja yang dipermuliakan lewat setiap hal yang kulakukan. Aku pun mengubah motivasi doaku sesuai kehendak Tuhan. Dengan diterimanya publikasiku, tujuannya bukan lagi untuk kebanggaan pribadi, melainkan supaya aku bisa menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidupku kepada orang-orang di sekitarku.

2. Tuhan ingin agar aku percaya sepenuhnya kepada Tuhan, bukan mengandalkan kekuatanku sendiri.

Dari kecil, dapat dikatakan aku mempunyai hasil akademik yang baik. Lebih mudah bagiku untuk mempercayai kemampuanku sendiri. Mungkin, hal inilah yang membuatku jarang berdoa dengan hati yang percaya penuh kepada Tuhan. Aku pun mengubah sikapku. Terkadang di saat aku berdoa, aku mengutip janji-janji Tuhan bagi kehidupanku, seperti dalam Mazmur 37:3-6 dan Yeremia 29:11.

“Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:3-6)

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11)

3. Dalam masa penantian, Ia ingin mengubah karakterku agar semakin menyerupai Kristus.

Aku termasuk orang yang jarang sekali melakukan refleksi kehidupan. Melalui penolakan jurnalku, aku menilik diriku kembali. Apakah aku hidup melekat dalam Firman Tuhan? Sudahkah aku benar-benar menghidupi Firman Tuhan? Bagaimanakah persekutuanku bersama Tuhan?

Aku mulai menulis hal-hal yang kupelajari dalam saat teduhku dan menghafal beberapa ayat Alkitab. Dua hal ini membantuku untuk lebih mengenal Tuhan Yesus, betapa besar kasih-Nya bagiku, dan apa yang Ia mau untuk aku lakukan dalam hidupku.

Seperti yang dituliskan dalam Roma 8:29, sedari semula kita sudah ditentukan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Tuhan ingin agar aku mengubah sifat iri hati dan belajar untuk mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan kepadaku sampai saat ini. Yohanes 3:27 menguatkanku untuk mengubah sifat iri hati.

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga” (Yohanes 3:27).

Lewat ayat tersebut, aku kembali disadarkan bahwa Tuhan memberi kepada setiap orang bagiannya masing-masing sehingga aku tidak perlu iri hati. Tuhan mau aku berubah, agar hidupku menjadi berkat bagi orang di sekitarku.

Setelah menunggu kurang lebih 6 bulan, aku berterima kasih kepada Tuhan saat publikasi jurnal pertamaku akhirnya diterima untuk diterbitkan.

Di dalam ketidakpastian atau kegagalan dalam kehidupan, kiranya teman-teman bisa melihat maksud dan rencana Tuhan yang baik bagi setiap kita. Ia ingin agar kita semua menjadi semakin serupa dengan-Nya. Tuhan Yesus memberkati.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:28-29).

Baca Juga:

Penyertaan Allah dalam Tantangan Kehidupan

Harus kita akui bahwa tekanan hidup manusia dari waktu ke waktu tidak akan semakin mudah, justru menjadi lebih besar. Namun apa yang harus kita pahami sebagai orang Kristen dalam menjani hidup penuh tekanan?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 05 - Mei 2019: Mengenali Diri Sendiri, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!