Menara Gereja yang Miring

Info

Minggu, 19 Mei 2019

Menara Gereja yang Miring

Baca: 2 Korintus 12:1-10

12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.

12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau—entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya—orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.

12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, —entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya—

12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.

12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.

12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. —2 Korintus 12:9

Menara Gereja yang Miring

Ternyata menara gereja yang miring membuat orang gelisah. Ketika kami mengunjungi beberapa teman, mereka bercerita bahwa setelah terjadi badai topan yang sangat dahsyat, menara gereja kebanggaan mereka miring dan menimbulkan kepanikan.

Tentu saja gereja segera memperbaiki menara yang miring tersebut, tetapi bayangan lucu tersebut membuat saya berpikir. Sering kali gereja dilihat sebagai tempat yang di dalamnya semua orang diharapkan tampil sempurna, bukan sebagai tempat yang menyambut orang-orang dalam keadaan tidak sempurna. Betulkah demikian?

Namun, di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan kacau ini, kita semua tidak sempurna dan masing-masing penuh dengan kelemahan diri. Mungkin kita tergoda untuk menyembunyikan kerapuhan kita, tetapi Kitab Suci justru mendorong kita mengambil sikap sebaliknya. Dalam 2 Korintus 12, misalnya, Paulus menunjukkan bahwa justru di dalam kelemahan kitalah—baginya suatu pergumulan yang tidak disebut secara spesifik, hanya sebagai “duri di dalam dagingku” (ay.7)—maka kuasa Kristus akan dinyatakan. Yesus pernah berkata kepada Paulus, “Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ay.9). Paulus pun menyimpulkan, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ay.10).

Mungkin kita tidak menyukai kekurangan kita, tetapi menyembunyikannya berarti menolak kuasa Yesus bekerja dalam aspek-aspek diri kita. Saat kita mengundang Yesus masuk ke dalam ketidaksempurnaan kita, Dia dengan lembut akan memperbaiki dan menebus dengan cara-cara yang tidak mungkin kita capai oleh usaha sendiri. —Adam Holz

WAWASAN

Paulus mengalami penglihatan surgawi berisi “penyataan-penyataan yang luar biasa” (2 Korintus 12:7). Karena kehormatan besar ini, Paulus diberi “duri dalam daging” (ay.7). “Duri” itu tidak disebutkan secara spesifik sehingga dapat mewakili apapun bentuk penderitaan kita.
Mungkin kita tidak mendapat penglihatan surgawi, tetapi kita semua tahu seperti apa rasanya menderita “duri dalam daging”. Masalah serta persoalan hidup mendorong kita untuk bersandar dan mengandalkan Allah. —Tim Gustafson

Tempat “miring” apa saja yang ada dalam hidup Anda? Dalam hal apa saja Anda telah melihat Allah bekerja melalui kekurangan Anda?

Undanglah Yesus ke dalam ketidaksempurnaan Anda agar Dia dapat memperbaikinya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7–9; Yohanes 6:22-44

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!