Melempari Batu

Info

Kamis, 23 Mei 2019

Melempari Batu

Baca: Yohanes 8:1-11

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. —Yohanes 8:7

Melempari Batu

Dulu Lisa paling sulit bersimpati dengan orang yang berselingkuh . . . sampai suatu saat ia merasa sangat tidak puas dengan pernikahannya dan berjuang menolak godaan berbahaya yang memikatnya. Pengalaman yang menyakitkan itu menolongnya untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan dan memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang perkataan Kristus: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu” (Yoh. 8:7).

Yesus sedang mengajar di Bait Allah ketika Dia membuat pernyataan itu. Para ahli Taurat dan orang Farisi baru saja menyeret seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah ke hadapan Yesus dan menantang-Nya, “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (ay.5). Karena mereka menganggap Yesus adalah ancaman bagi kekuasaan mereka, tujuan pertanyaan itu adalah “untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya” (ay.6)—lalu menyingkirkan-Nya.

Namun, saat Yesus menjawab, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa . . .” tidak seorang pun dari para penuduh wanita itu berani memungut batu. Satu per satu, mereka semua berjalan pergi.

Agar tidak menghakimi perilaku orang lain dengan pedas sambil memandang ringan dosa kita sendiri, mari kita ingat bahwa kita semua “telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Ketimbang mengutuk, Juruselamat kita menunjukkan kepada wanita itu—dan kepada kita—kasih karunia dan pengharapan (Yoh. 3:16; 8:10-11). Bagaimana mungkin kita tidak melakukan hal yang sama bagi orang lain? —Alyson Kieda

WAWASAN

Walaupun kisah dalam Yohanes 8:1–11 tidak ada pada manuskrip Yunani yang paling tua, para pakar meyakini bahwa ini adalah peristiwa kehidupan Yesus yang benar-benar pernah terjadi—berasal dari tradisi lisan yang belakangan ditambahkan ke dalam Injil Yohanes. Hukum Musa memerintahkan agar pezinah lelaki maupun perempuan dirajam sampai mati (Imamat 20:10; Ulangan 22:22-24). Kalau Yesus melepaskan perempuan yang kedapatan berzinah tanpa dihukum, orang Farisi akan menuduh dan mengutuk Dia karena menentang dan menolak hukum Allah (Yohanes 8:6). Kalau Yesus menyetujui hukuman mati, Ia akan dicela karena dianggap tak berbelas kasih, bahkan bisa dituduh melanggar hukum Romawi karena pada zaman itu ada undang-undang bahwa hanya orang Romawi yang boleh mengeksekusi seseorang. —K. T. Sim

Bagaimana Anda dapat menerapkan pelajaran dari Yohanes 8 dalam memperlakukan orang lain? Bagaimana Anda dapat menggunakan pengalaman Anda itu untuk membantu orang lain yang menghadapi tantangan yang sama?

Tuhan, terima kasih Engkau telah mengasihi kami! Tolong kami berbelas kasihan serta penuh perhatian dalam apa yang kami ucapkan dan lakukan.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 19-21; Yohanes 8:1-27

Handlettering oleh Agnes Paulina
Background photo oleh Dennis Agusdianto

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

5 Komentar Kamu

  • Halelluya Tuhan mau agar kita menasehati org utk bertobat. buakan malah dihakimi

  • TERIMAKSIH ATAS FIRMANNYA…KADANG DALAM KEHIDUPAN KITA KITA TERLALU BANYAK MENILAI DAN MELIHAT KEHIDUPAN ORG LAIN KETIMBANG KEHIDUPAN KITA SENDRI,,,KITA SERING MENGANGGAP DIRI KITA SUCI MENURUT KITA TP MENURUT TUHAN MUNGKIN JAUH LEBIH BUSUK DARI KITA,,,MAKANYA ITU ADA PRIBAHASA KITA LEBIH MUDAH MELIHAT RAMBUT DI UJUNG LAUTAN DR PD BALOK DI DEPAN MATA KITA SENDIRI KITA TDK BS LIHAT, ITULAH HDP BANYAK ORG.

  • INI PELAJARAN BG KITA SEMUA SPY JGN CEPAT MENILAI MEMFITNAH MENCEMOH ORG..TP LIHAT LAH DULU DR KITA BARU KITA BS MENILAI ORG

  • Elisabet Christy

    amin

  • Rekonsili Panjaitan

    Amin

Bagikan Komentar Kamu!