Kepada Temanku yang Berpikir untuk Menyerah

Info

Oleh Rebecca Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Letter To The Friend Who Feels Like Giving Up On God

Temanku,

Aku terkejut dan tak menyangka ketika kamu berkata bahwa kamu ingin “menyerah”.

Tapi, jika aku memutar kembali memoriku, kupikir keputusan itu seharusnya tidaklah mengejutkanku.

Untuk waktu yang lama, kamu bergumul dengan rasa sakit, konflik yang tak kunjung selesai, dan beban emosi yang menunggangimu. Kami melihat rasa sakitmu sebagai tanda seolah Tuhan telah meninggalkan dan mengabaikanmu di tengah belantara sendiran.

Mungkin saat ini kamu menyangkali perasaanmu, tapi aku ingin kamu tahu akan suatu kebenaran.

Terkadang, sulit rasanya untuk melihat kembali perjalanan kita di belakang, terutama ketika perjalanan itu seolah tidak tampak ujungnya. Dan, aku pun tahu betapa kerasnya kamu sudah berusaha untuk mencari Tuhan di tengah banyak pencobaan yang kamu lalui selama beberapa tahun belakangan. Aku tahu kamu berusaha menggenggam erat tangan Tuhan terlepas situasi yang tak dapat kamu pahami. Aku tahu betapa susah payahnya kamu berjuang untuk menemukan jawaban.

Kamu mengorbankan banyak bagian dari masa mudamu untuk melayani-Nya. Kamu menukarkan tawaran pekerjaan yang menguntungkan untuk pekerjaan misi Tuhan—merelakan kenyamanan materialmu, keuanganmu, dan bahkan relasi dengan keluargamu—untuk hidup di antara orang miskin dan membangun kerajaan-Nya di sana. Kamu merasa hancur ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kamu harapkan, dan kamu malah diminta untuk pergi meninggalkan pekerjaanmu setelah banyak perselisihan dengan rekan sekerjamu. Kamu pun pulang ke rumah dengan hati yang hancur, letih, dan kecewa.

Tapi, kamu masih belum mau menyerah, kamu masih berjuang untuk memberikan hidupmu untuk Tuhan. Kamu ingin hidupmu berkenan pada-Nya, jadi kamu melibatkan dirimu lebih banyak ke dalam kesempatan pelayanan, mengikuti studi teologi, dan meluangkan lebih banyak waktumu bersama Tuhan.

Aku ingat percakapan panjang yang pernah kita lakukan. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Mengapa Tuhan tidak memberimu jalan keluar? Mengapa Tuhan membuat segalanya lebih mudah supaya kita bisa melihat bahwa Dia bekerja di balik layar? Waktu itu kuharap aku bisa menolongmu menemukan jawaban-jawaban yang baik, yang memberi penghiburan, dan juga kedamaian.

Hingga saat ini, aku masih belum memiliki jawabannya.

Namun, inilah yang kuingin kamu tahu: Di momen terendah dalam hidupku sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Ingatkah kamu suatu masa ketika aku merasa seperti ada di puncak dunia—aku merasa seolah aku mendapatkan pekerjaan impianku hingga kemudian semuanya hancur hanya dalam satu hari? Hari itu, aku tidak hanya kehilangan pekerjaan, aku kehilangan visi dan semangat hidupku, semua rencana yang telah kususun berubah jadi butiran debu.

Butuh waktu yang lama untukku pulih dan mulai percaya lagi kepada Tuhan, bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu dalam hidupku. Tapi, di masa itu, kamu ada bersamaku ketika aku memutuskan untuk mengambil jeda sejenak dan pergi ke suatu tempat selama enam bulan, berharap dari perjalanan itu aku bisa mendapatkan visi yang lebih jelas akan apa yang harus kulakukan kelak.

Ingatkah kamu selama sembilan bulan setelahnya aku berjuang untuk mendapatkan pekerjaan? Aku lelah, tiap aplikasi lamaran kerjaku tidak berbalas. Aku pun harus mengahadapi banyak pertanyaan tentang mengapa aku masih menganggur. Kamu tahu betapa aku enggan ke luar dari rumah, aku takut menghadapi lebih banyak lagi pertanyaan yang tak mampu kujawab. Dan, kamu ada bersamaku hingga akhirnya ada tawaran kerja datang padaku.

Kamu ada bersamaku untuk mendengarkanku ketika aku terjebak dalam lingkungan kerja yang beracun, hingga aku bertanya-tanya apakah aku mendengarkan kata Tuhan untuk mengambil pekerjaan ini? Adalah perjuangan yang berat untuk bangun dari tidur setiap harinya, dan tiba di rumah setiap malam dengan tubuh lelah dan jiwa tertekan, bertanya-tanya bagaimana bisa aku mengumpulkan energi untuk bisa kembali bekerja besok.

Kamu melihatku tumbuh dalam keputusasaan ketika satu-satunya temanku di tempat kerja pindah ke tempat lain. Aku heran, mengapa Tuhan memberi jalan keluar bagi orang lain dengan mudahnya, sedangkan aku terjebak di sana dan harus memperjuangkan hidupku sendiri. Aku merasa pahit dan marah pada Tuhan, aku tidak bisa mengerti apa baiknya untukku jika aku tetap berada di tempat itu.

Lebih dari satu tahun aku bergumul demikian hingga akhirnya aku menemukan jalan keluar.

Sekarang, beragam rasa sakit dan kebingungan yang kualami dulu datang bersamaan. Dan, aku mulai melihat gambar yang Tuhan maksudkan untuk hidupku.

Aku mungkin bertanya-tanya apakah segala rasa sakit yang kualami itu sia-sia atau tidak, tapi yang kutahu adalah rasa sakit itu memberiku sedikit pemahaman akan apa yang ingin kubagikan dalam persekutanku bersama Tuhan Yesus.

Aku membagikan ceritaku bukan supaya kamu meremehkan apa yang sedang kamu alami, atau membubuhi garam dalam lukamu. Aku menulis ini untuk mengingatkanmu betapa aku menghargai kebersamaan denganmu, ketika kamu duduk bersamaku dalam dia, meratap bersamaku di dalam pergumulanku, dan bersukacita ketika aku mendapatkan jalan keluar. Dan, yang kuingin kamu tahu adalah aku ada di sini untuk melakukan yang sama untukmu.

Selama beberapa tahun, aku mendengar Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-7. Aku bersukacita untuk kesempatan berjalan bersamamu, menghiburmu dengan penghiburan yang telah kuterima dari Tuhan (ayat 4).

Hari ini, salah satu lagu favoritmu terputar di playlist-ku, dan itu mengingatkanku akan api yang dulu pernah membara dalam dirimu, kerinduanmu untuk melihat kebaikan Tuhan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarmu (Mazmur 27:13).

Mungkin kata-kataku ini rasanya tak berarti buatmu sekarang.

Tapi, seperti pertemanan dan pertolongan doa darimu menolongku untuk melihat kembali pada Tuhan, aku mau tetap berdoa dan percaya bersamamu, bahwa kita akan bersama-sama melihat kebaikan Tuhan. Suatu hari, kamu akan memahami alasan di balik apa yang kamu alami, dan waktu-waktu yang telah kamu luangkan tidaklah berakhir sia-sia.

Dan di lain kesempatan ketika kamu menyanyikan lagu “Engkau baik”, akan ada api semangat yang berbeda. Api itu akan menjadi api kepercayaan seperti yang diucapkan oleh pemazmur yang berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mazmur 27:1). Tuhan tahu jalan hidup kita, dan ketika Dia menguji kita, kita akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Kita akan mengalami itu sebagai buah dari kelembutan hati yang bersedia mencicipi dan melihat kebaikan Tuhan, bahkan ketika kita telah memutuskan untuk melepaskan tangan-Nya.

Sampai tiba masa itu, aku akan terus berdoa untukmu, berjalan bersamamu, dan menunggu bersamamu.

Dengan kasih,

Temanmu.

Baca Juga:

Kecelakaan Hebat Menghancurkan Hidupku, Namun Kisahku Tidak Berakhir di Situ

Ketika aku berusia 16 tahun, segala sesuatu dalam hidupku berjalan dengan baik. Aku unggul di bidang akademis dan olahraga Judo, masa depanku tampak menjanjikan. Namun, hari-hari kejayaanku itu berakhir secara tragis dan mendadak pada 20 April 2010. Aku mengalami cedera otak traumatik (traumatic brain injury; TBI).

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

13 Komentar Kamu

  • powerful story and be blessed

  • Dewi Napitupulu

    very nice!

  • jenuh, takut, bimbang, ga percaya diri..ya Allah Tuhanku tolong aku Tuhan..kiranya damai sejahtera Mu menguatkan aku dan membuat aku untuk terus bertekun dalam doa dan pengharapan kepada Mu. amin.

  • Cerita yang sangat mengena di hati.

  • Letih dan Lesu yg kuhadapi sekrg dengn pelayanan ini.
    kenapa harus gw yg menghadapi org – org itu.
    aku tidak merasakan hangat persekutuan dimana aku melayani.
    seharusnya yg kupandang wajahMu yg penuh kehangatan.

    #cengeng

  • Sangat memberkati, saat ini memang mengalami hal seperti itu

  • Reminder for me.. Thanks a lot

  • Terimakasih temanku ini sangat memotivasi diri ku

  • Terimakasih temanku ini sangat memotivasi diri ku

  • Di momen terendah dalam hidupku sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkanku..
    So blessed

  • Terima kasih untuk share kali ini..
    Saat ini aku sedang mengalami keraguan dan kebimbangan hebat dalam hidupku..aku sendiri bingung dengan apa yang harus ku hadapi, melanjutkan pelayanan yang sedang kukerjakan saat ini atau berhenti. Tapi kesaksian ini sungguh menguatkan dan memotivasi.
    GBU

  • To whoever wrote this, thankyou my friend. God has sent you to cheering up my day and help me see my situation from a different point of view.
    God bless us

  • bagus bangettt haleluyahhh puji Tuhan

Bagikan Komentar Kamu!