Pelajaran dari Sebuah “Doa yang Menghentikan Hujan”

Info

Oleh Deastri Pritasari, Surabaya

Suatu kali, temanku memposting pengalaman luar biasanya bersama dengan anak-anak rohaninya yang berdoa supaya hujan reda. Awal cerita, temanku merasa kasihan melihat anak-anak rohaninya yang tidak bisa pulang ke rumah karena hujan deras. Temanku lalu berdoa secara pribadi, tapi hujan tidak kunjung reda. Kemudian ia melihat hujan malah semakin deras, menggerakkannya untuk keluar ruangan dan berdoa kembali mengharap hujan reda. Saat ia selesai berdoa, hujan tidak reda dalam sekejap. Beberapa menit kemudian, hujan pun reda dan tidak turun lagi sepanjang hari itu.

Temanku lalu menulis tentang bagaimana dia bersyukur paling tidak anak-anaknya tidak takut karena hujan begitu deras dan mereka akhirnya bisa pulang dengan aman. Dan, temanku menyebut kisahnya sebagai “doa yang menghentikan hujan:” Bagiku, sebagai orang percaya, hal yang dialami temanku itu adalah sebuah pengalaman iman.

Jika kulihat kehidupan di masa sekarang ini, tampaknya pengalaman iman jika dipertemukan dengan para pemikir logika sepertinya tidak begitu mudah untuk dipercaya. Bisa jadi mereka menganggap hujan berhenti karena memang sudah waktunya berhenti saja. Tapi, bagi sebagian orang beriman yang mempercayai adanya mukjizat, pengalaman tersebut adalah iman dari sebuah doa.

Pengalaman temanku itu rasanya menakjubkan buatku. Jika aku berkaca pada diriku, ketika hujan deras turun, ketika aku sedang bekerja atau melayani anak-anak, tidak pernah terpikirkan olehku untuk berdoa supaya hujan berhenti. Aku hanya mencoba mencari payung, kemudian mengantar anak-anak pulang ke tempat yang dituju. Jika sampai kehujanan dan basah kuyup, kupikir itu adalah hal yang biasa. Yang penting adalah anak-anak berhasil tiba di tempat yang dituju. Pada saat hujan deras turun, yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana aku ataupun anak-anak bisa tiba di tempat tujuan masing-masing.

Merespons dengan doa

Aku dan temanku menunjukkan dua cara yang berbeda ketika menghadapi hujan. Yang satu dengan cara berdoa supaya hujan reda, yang satu menghadapi hujan dengan payung.

Kupikir setiap kita punya cara masing-masing, bukan berarti yang menghadapi hujan tanpa berdoa tidak beriman atau tidak rohani.

Tapi, ada satu hal yang menjadi pelajaran dari pengalaman temanku menghadapi hujan ini: berdoa supaya hujan reda.

Temanku memang dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang luar biasa. Apapun tantangan yang ia hadapi, ia memilih untuk selalu percaya pada Tuhan. Dari pengalamannya, aku belajar untuk melihat sisi baik dari sebuah “berdoa untuk hujan reda”. Ketika hujan tiba, rasanya bukankah kita lebih sering khawatir dan bingung karena ada acara, ada tugas, ada meeting yang mungkin terhambat karena hujan? Mungkin kita pun tak jarang mengomel, mengeluh, panik karena jemuran belum diangkat, atau marah karena meeting gagal karena hujan deras. Yah, hujan deras seolah jadi penghambat acara kita.

Namun, pernahkah ketika hujan deras turun, kita berdoa pada Tuhan? Sepertinya lucu, tetapi bukankah kita sebagai orang yang beriman seharusnya berdoa alih-alih khawatir?

Merespons dengan menghadapi hujan

Pengalamanku yang yang secara otomatis mengambil payung saat hujan turun tidak serta merta menunjukkan bahwa aku adalah orang yang tidak beriman. Hanya, aku memilih melakukan apa yang bisa kulakukan saat hujan deras ketimbang menunggu, mengeluh, dan khawatir. Jika hujan, aku bergegas mencari payung dan melanjutkan perjalanan dengan payung atau jas hujan.

Ini bukan bicara tentang keberanian atau sekadar tindakan, tapi lebih kepada menghadapi persoalan berupa “hujan deras”. Mencari payung lalu melewati perjalanan di tengah guyuran hujan deras bukanlah sesuatu yang salah. Orang berhenti lalu mencari tempat teduh juga tidaklah salah. Orang memilih untuk memakai jas hujan lalu melanjukan perjalanannya juga tidak salah. Ada seribu cara untuk menghadapi hujan deras.

Ada yang lebih memilih berdiam di rumah. Ada yang memilih berteduh. Ada yang melanjutkan perjalanan. Bahkan, ada pula yang berdoa supaya hujan segera reda. Ini hanyalah cara manusia menghadapi musim yang diciptakan oleh sang Mahakuasa.

Sang pembuat hujan adalah Tuhan yang Mahakuasa. Jika menghadapi hujan dengan berdoa, bukankah itu hal yang baik? Lalu manusia mencari cara supaya tidak basah kuyup, entah dengan memakai jas hujan, payung, ataupun berteduh. Itu semua hanya cara manusia. Daripada memperbanyak mengeluh, khawatir, dan menggerutu, mengapa tidak menghadapinya dengan berdoa dan berusaha?

Ya, berdoa dan berusaha adalah kunci dalam menghadapi situasi apapun.

Baca Juga:

Kerinduanku Ketika Mengingat Besar Pengurbanan-Nya di Kalvari!

Ketika aku pergi ke Taiwan untuk kuliah, aku punya satu visi untuk membawa satu jiwa di sana buat Tuhan. Ada tantangan yang sempat membuatku kecewa, tetapi Tuhan kemudian memberiku satu momen untuk aku mengenalkan-Nya pada temanku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 04 - April 2019: Memaknai Sengsara Kristus, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!