Menegur, Sulit tapi Baik untuk Dilakukan

Info

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Menegur orang lain merupakan hal yang sangat sulit untuk kulakukan. Aku takut pada risiko yang mengikutinya—ditolak dan dijauhi oleh orang yang kutegur. Aku tidak siap menghadapi hal itu.

Beberapa minggu ini, aku merasa gelisah dengan postingan temanku di media sosial. Aku merasa risih dengan konten yang dia unggah. Bukan aku saja yang merasa begitu, teman-temanku yang lain juga merasakan hal yang sama. Tapi, tidak ada satu pun dari kami yang berani menegurnya.

Suatu malam, temanku itu meng-update status di media sosialnya yang menurutku kurang bijak. Dia mengumbar masalah yang sedang dia hadapi dengan pacarnya. Aku memutuskan untuk bertanya alasan mengapa ia sering mengunggah konten seperti itu. Sebagai sahabatnya, aku tidak ingin kalau karena postingannya itu, orang lain jadi salah persepsi terhadapnya.

Tapi, temanku malah berbeda pendapat denganku. Dia merasa tidak ada yang salah dengan semua postingannya. Ia justru berkata bahwa dengan aku menegurnya seperti itu, aku telah melukai hatinya. Dia tidak menerima teguranku dan sebaliknya malah jadi marah padaku.

Aku gelisah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku menyampaikan teguranku dengan cara yang salah hingga temanku jadi sakit hati? Apakah aku terlalu berlebihan?

Aku berdoa pada Tuhan, meminta ampun apabila tindakanku telah menyakiti hatinya—terlebih lagi jika melukai hati Tuhan. Aku berdoa agar Tuhan yang menyempurnakan teguran itu kepadanya, dan memulihkan hati kami berdua.

Di tengah rasa khawatirku itu, aku merasa sangat diteguhkan ketika Tuhan mengingatkanku pada Amsal 27:6 yang berkata:

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”

Apa yang kulakukan terhadap temanku mungkin dimaknainya sebagai tindakan yang tidak menyenangkannya, tetapi sesungguhnya sebagai seorang teman, teguranku adalah untuk kebaikannya.

Dua hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga pun terjadi. Aku menerima pesan WhatsApp darinya.

“Novita, apa yang sudah pernah terjadi jangan sampai merusak relasi kita, ya.”

Pesan itu mungkin singkat, tapi, sungguh aku sangat senang ketika membaca pesan tersebut. Aku lalu kembali menegaskan padanya bahwa teguran yang kuberikan padanya adalah karena aku menganggapnya sebagai sahabatku. Aku tahu apa yang dia lakukan itu salah, dan sudah tugasku untuk memberitahunya.

Aku merasakan bagaimana Tuhan turut campur tangan dalam menyampaikan teguran itu kepada temanku. Tuhan juga yang menolongku meredakan ketegangan dalam hubunganku dengan dia. Setelah dua minggu berlalu, aku tidak lagi melihat temanku itu memposting hal-hal yang biasanya dia posting dahulu.

Lewat peristiwa ini, aku diingatkan bahwa kita tidak perlu takut untuk menegur orang lain ketika tindakan orang itu memang tidak baik. Kita hanya perlu sungguh-sungguh memohon pada Tuhan untuk memampukan kita menyampaikan teguran tersebut dengan cara, sikap, dan kata-kata yang tepat. Dengan begitu, tidak ada yang sedih ataupun tersakiti oleh teguran kita. Tuhan mampu menyempurnakan semua kekurangan dalam perbuatan baik yang hendak kita lakukan.

Selamat menegur sesama kita dengan penuh kasih. Jangan lupa, kita juga harus siap menerima teguran dari orang lain dengan penuh kasih pula. Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Pelajaran dari Sebuah “Doa yang Menghentikan Hujan”

Suatu kali, temanku memposting pengalaman luar biasanya bersama dengan anak-anak rohaninya yang berdoa supaya hujan reda. Awal cerita, temanku merasa kasihan melihat anak-anak rohaninya yang tidak bisa pulang ke rumah karena hujan deras. Temanku lalu berdoa secara pribadi, tapi hujan tidak kunjung reda. Kemudian ia melihat hujan malah semakin deras, menggerakkannya untuk keluar ruangan dan berdoa kembali mengharap hujan reda. Saat ia selesai berdoa, hujan tidak reda dalam sekejap.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 04 - April 2019: Memaknai Sengsara Kristus, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!