Melalui Lembah Kekelaman

Info

Rabu, 10 April 2019

Melalui Lembah Kekelaman

Baca: Mazmur 23

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4

Melalui Lembah Kekelaman

Hae Woo (bukan nama asli) pernah dipenjara dalam sebuah kamp kerja paksa di Korea Utara karena berupaya menyeberangi perbatasan ke Tiongkok. Siang-malam ia tersiksa, baik secara fisik oleh para penjaga yang kejam maupun oleh kerja paksa yang berat. Ia pun hanya boleh tidur sebentar di atas lantai yang sedingin es bersama tikus dan kutu. Namun, setiap hari Allah menolongnya, termasuk menunjukkan kepadanya tahanan mana yang perlu ia dekati agar ia dapat menceritakan tentang imannya.

Setelah dilepas dari kamp itu dan pindah ke Korea Selatan, Woo mengingat kembali pengalamannya di penjara dan menyimpulkan bahwa Mazmur 23 menjadi rangkuman dari pengalamannya di sana. Walau terperangkap dalam lembah yang kelam, Yesus adalah Gembalanya yang memberi rasa damai: “Walaupun saya merasa benar-benar berada dalam lembah kekelaman, saya tidak takut apa pun. Setiap hari Allah menghibur saya.” Ia mengalami kebaikan dan kasih Allah serta terus meyakini bahwa ia adalah anak yang dikasihi-Nya. “Waktu itu kondisi saya sangat menyedihkan, tetapi saya tahu . . . saya akan mengalami kebaikan dan kasih Allah.” Ia pun tahu bahwa ia akan tetap tinggal dalam hadirat Tuhan sampai selama-lamanya.

Kisah Woo sangat menguatkan kita. Meskipun situasinya sangat buruk, ia tetap merasakan kasih dan pimpinan Allah, dan Allah menguatkan serta mengenyahkan rasa takutnya. Jika kita mengikut Yesus, Dia akan menuntun kita dengan lembut melewati masa-masa yang sulit. Kita tidak perlu takut, karena “[kita] akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (23:6). —Amy Boucher Pye

WAWASAN

Di dunia Timur Dekat Kuno, gembala adalah gambaran yang lazim sekaligus memiliki makna yang berkaitan dengan kerajaan. Gambaran gembala kadang dipakai sebagai kiasan untuk menggambarkan peran para dewa dan raja dalam memimpin dan memperhatikan rakyatnya. Jadi, Mazmur 23 bukan hanya gambaran relasi yang hidup dengan Allah, tetapi juga sebuah pernyataan yang tegas bahwa sang pemazmur percaya dan berkomitmen untuk mengikuti “TUHAN” (YHWH) saja, bukan para penguasa duniawi.
Tepat di bagian tengah Mazmur 23 tertulis, “Engkau besertaku” (ay.4). Ini menggemakan tema Alkitab yang terus berulang mengenai hadirat Allah yang menenangkan dan memimpin kita sehingga kita tidak perlu takut (lihat Kejadian 15:1; Yosua 1:9). Ketika Yesus datang, Dia menekankan bahwa Dialah Gembala yang Baik, sebuah penggenapan mutlak dari janji penyertaan-Nya (Matius 1:23; Yohanes 10:11). —Monica Brands

Kapan Anda pernah mengalami kehadiran Allah dalam lembah kekelaman? Siapakah yang dapat Anda kuatkan hari ini?

Ya Allah, saat aku berjalan dalam lembah kekelaman, Engkau menyertai dan mengenyahkan ketakutanku. Engkau menghiburku dan menyediakan hidangan bagiku, dan aku akan tinggal di rumah-Mu selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 15–16; Lukas 10:25-42

Handlettering oleh Novia Jonatan

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

21 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!