Ketika Aku Terjerat Dosa Memegahkan Diri

Info

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When I Was Blinded By Success

Ada suatu masa di mana aku pernah menawarkan diriku untuk menulis satu artikel per minggu untuk membantu tim pelayananku mencapai target. Meskipun kemampuan menulisku dalam bahasa Inggris rasanya biasa saja, tapi aku suka menghubungkan pengalaman dan pemikiranku dengan firman Tuhan dan menuliskannya.

Setelah lembur di kantor, aku biasanya membuka laptopku di rumah dan mencoba menulis sebuah artikel baru. Pemimpin tim pelayananku sempat khawatir kalau aku tidak akan mampu mengerjakan pelayanan ini. Katanya, tidak ada paksaan untukku melakukannya. Tapi, seringkali aku berkata, “Tidak apa-apa kok, aku bisa melakukannya.”

Aku senang melihat respon yang baik dari pemimpin timku. Tetapi seiring bulan berganti, aku tidak menjaga kondisi hatiku dan aku mulai membanggakan diri atas pekerjaan yang kulakukan. Aku ingin agar tim pelayananku merasa senang karena pelayananku. Seiring aku memfokuskan diri pada menulis artikel, sikap hatiku mulai menyimpang. Tanpa kusadari, setiap respons baik yang diberikan oleh pemimpin timku ternyata membuatku merasa kalau aku sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Waktu-waktuku membaca firman Tuhan bergeser fokusnya karena tujuanku untuk menemukan ide-ide baru untuk menulis, bukan untuk mencari ketenangan di dalam Tuhan.

Ketika akhirnya aku kehabisan pengalaman baru untuk kutulis, aku mulai menulis cerita-cerita biasa yang sebenarnya tidak layak untuk diterbitkan. Dan akhirnya, artikel-artikelku jadi perlu banyak diedit, dan bahkan beberapa diantaranya ditolak untuk diterbitkan.

Aku mulai merasa malu. Aku seharusnya membantu meringankan beban tim pelayanan dengan kontribusiku, tapi mungkinkah aku malah menambahkan beban mereka? Hari-hari ketika kualitas tulisanku sangat buruk akhirnya menghancurkan rasa banggaku.

Selama beberapa minggu, rasa sakit hatiku tidak kunjung reda meskipun aku sudah berusaha keras untuk melupakan artikelku yang diedit habis-habisan dan ditolak. Setelah beberapa waktu, aku mengumpulkan keberanianku dan membicarakan hal ini dengan seorang teman yang kupercaya. Dia mendengarkanku dengan sabar dan menyarankanku untuk beristirahat sejenak dari menulis artikel untuk meluruskan kembali hatiku. Mungkin itulah yang sebenarnya kubutuhkan.

Kami tidak merencanakan secara spesifik apa yang akan dilakukan selama aku absen menulis, namun dalam hatiku aku tahu bahwa ini artinya aku harus berhenti mulai menulis untuk beberapa waktu kedepan dan sungguh sungguh menggunakan waktuku untuk beristirahat dalam hadirat Tuhan. Dan ini juga berarti menyerahkan segala rencanaku pada-Nya.

Ketika aku bersaat teduh esok paginya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak bersaat teduh dengan tujuan agar aku punya bahan untuk ditulis. Aku bisa memfokuskan diri untuk mencari Tuhan dengan segenap hatiku, dan meneduhkan diriku dalam hadirat Tuhan— tempat di mana aku tahu aku bisa menemukan kedamaian.

Akhirnya aku menyadari bahwa ketika aku terlalu berfokus untuk menulis artikel, aku menjalani waktu teduhku dengan motivasi hanya untuk menemukan konten-konten untuk ditulis dan kata-kata yang lebih baik yang bisa kugunakan. Meskipun itu sebenarnya tidaklah salah, namun yang Tuhan inginkan adalah anak-anak-Nya datang mencari-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 14:2). Ketika aku mengakui pada Tuhan motivasiku yang salah dalam mencari-Nya, Ia pun menjamah hatiku.

Dalam kondisi hatiku yang hancur pagi itu, Tuhan mengingatkanku bahwa kekuatanku berasal dari Tuhan saja, dan Dia akan memberiku nyanyian baru untuk memuji-Nya (Mazmur 28:7). Kekuatanku berasal dari keteduhan relasiku dengan-Nya sebelum memulai hari. Meskipun aku telah gagal, tapi Tuhan akan memberiku kekuatan untuk memulai kembali, seperti rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi. Kebanggaan manusia atau kecukupan diri di luar Tuhan dalam bentuk apapun tidak akan menuntun kita pada kekuatan yang teguh, yang hanya berasal dari Tuhan.

Pada saat itu aku menyadari—baik dalam menulis ataupun pekerjaan lain—aku tidak bisa berbuat banyak tanpa kekuatan Tuhan. Di dalam hadirat Tuhan, aku bisa bermegah dalam kelemahanku meskipun aku gagal (2 Korintus 12:9-10).

Menulis artikel untuk pelayanan harus dilakukan dengan motivasi untuk memuliakan Tuhan—sebagai pengingat kesetiaan-Nya padaku—dan juga dengan harapan untuk membawa orang lain pada-Nya. Bukannya menjadi hamba-Nya yang setia dan menggunakan talentaku agar orang lain bisa melihat kemuliaan-Nya, dahulu aku malah menulis untuk diriku sendiri.

Setelah aku mengakui dosaku, aku melihat bagaimana kecerobohanku dalam menjaga hatiku membuat dosa memegahkan diri bisa menyelinap. Aku telah dibutakan oleh imaji kesuksesanku, aku menipu diriku sendiri dengan gambaran kecukupan diri, dan ini membuatku pergi menyimpang dari anugerah Tuhan.

Sukacita Tuhan ada di dalam kita, dan kasih-Nya pada kita tidak berubah dalam keberhasilan maupun kegagalan kita. Seiring aku mendekat pada Tuhan, Dia menunjukkan padaku bahwa Dialah yang akan terus menguatkan kita, bahkan pada saat kita kekuatan kita hilang. Jika aku tidak dihentikan untuk menulis dalam masa itu, aku bisa saja melewatkan pengalaman untuk merasakan kembali kebaikan Tuhan.

Meskipun aku gagal untuk menerbitkan artikel lagi, aku merasa puas. Pagi itu, Tuhan membawaku pada kepuasan yang mendalam di dalam hadirat-Nya.

Kasih-Nya tidak tidak akan goyah, dan nilai diri kita di hadapan-Nya tidak ditentukan oleh kesuksesan kita. Dia pencipta kita. Dia tahu bagaimana caranya mengangkat dan menguatkan kita ketika kekuatan kita hilang. Di dalam-Nya, aku bisa bersuka bahkan di dalam kelemahanku dan bermegah tanpa rasa takut (2 Korintus 12:9-10).

Dengan pengalaman tersebut, aku belajar untuk melambatkan tempoku dalam menulis, agar aku bisa beristirahat di dalam Tuhan. Di dalam-Nya, aku melihat harta yang lebih berharga dari kesuksesan dunia apapun yang bisa kucapai.

Sekarang, ketika aku membuka laptopku lagi dan mulai mengetik, aku tidak lagi melakukannya sebagai sebuah beban yang kukenakan pada diriku sendiri. Hal yang lebih penting adalah untuk tinggal di hadirat-Nya, di mana aku telah merasakan sukacita penuh.

Baca Juga:

Ketika Aku Belajar Memahami Arti Doa yang Sejati

Dulu, aku adalah orang yang kaku dalam menetapkan waktu berdoa. Aku pernah menolak permintaan tolong dari ibuku di saat aku seharusnya berdoa. Tapi, itu bukanlah respons yang tepat. Melalui sebuah teguran, aku pun lalu belajar tentang apa arti doa yang sejati.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 03 - Maret 2019: Membangun Mezbah Doa, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

3 Komentar Kamu

  • aku sangat terberkati melalui artikel ini. terpujilah Tuhan.

  • Agung Hendro Widodo

    Sebuah catatan hati untuk kita semua, bersyukur Tuhan mengingatkan kita untuk tujuan pelayanan kita, biarlah makin hari ku-makin kecil dan Dia makin besar

  • Saya sgt terberkati dgn kesaksian ini, ketika dalam pelayanan mimbar, sy trkadang lbh bnyk fokus bgaimana agar khotbah sy menarik utk didengar drpd firman Tuhan itu sndiri utk kedekatan kita dgn Tuhan..
    Trimakasih

Bagikan Komentar Kamu!