Ketika Aku Belajar Memahami Arti Doa yang Sejati

Info

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Berdoa. Itulah salah satu kegiatan yang kusukai. Jika orang lain mungkin merasa suntuk saat berdoa, itu tidak bagiku. Dalam doaku, aku bisa bercerita tentang apa saja kepada Tuhan. Sejak duduk di SMP, aku memiliki jam-jam doa pribadi: pagi sebelum berangkat sekolah, sore setelah pulang sekolah, dan malam hari. Kegiatan itu kulaksanakan dengan teratur selama kurang lebih 15-30 menit.

Namun, seiring bertambahnya usiaku, kesibukanku mulai bertambah. Aku mulai kesulitan konsisten berdoa di jam-jam yang sebelumnya sudah kutetapkan itu, khususnya saat sore sepulang sekolah. Ada saja kegiatan seperti bimbel, kerja kelompok hingga larut malam, atau diajak teman nongkrong. Seringkali pula ibuku memintaku menolongnya. Biasanya saat aku hendak mulai berdoa, dia memanggilku untuk membersihkan rumah. Rasanya selalu ada saja yang harus kukerjakan sepulang sekolah untuk membantunya.

Kegiatan-kegiatan itu akhirnya membuatku tidak lagi konsisten berdoa. Terkadang aku hanya berdoa seperlunya, bahkan dengan kekesalan karena saat hendak mulai berdoa, ibuku memberiku pekerjaan rumah. Pernah suatu kali, aku tidak mau menyelesaikan apa yang dimintanya dan mempertegas jam-jam doaku kepada ibuku.

Ibuku lalu berkata, “Nak, berdoa itu nggak cuma diam di kamar. Kamu membantu mama, jadi berkat di rumah, itu juga berdoa namanya. Gak baik juga doa seperti itu sampai lupa tanggung jawabmu.”

Tak hanya ibuku, ayahku juga berkata hal yang sama. “Nak, punya jam doa itu bagus. Tapi, bukan berarti harus saklek dan kaku dengan jam doamu itu. Lebih fleksibel sedikit, tetapi tetap setiap hari berdoanya.”

Aku tertegun dan berusaha mencerna kedua nasihat itu. Lalu sebuah kalimat dari Matius 23:23 pun membuatku gelisah, “Tetapi celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Aku sempat bertanya dalam diriku, apakah aku sudah melakukan hal yang terpenting? Apakah mengusahakan waktu untuk berdoa itu salah? Apakah mengorbankan waktu demi berdoa itu tidak tepat?

Jacques Ellul dalam bukunya yang berjudul Prayer and Modern Man berkata bahwa doa yang sejati melampaui apa yang mampu diungkapkan oleh bahasa. Dalam Perjanjian Lama, kata-kata yang digunakan dalam menggambarkan doa adalah kata kerja aktif (Ellul dalam Gary Thomas, Sacred Marriage, halaman 106). Berdoa adalah sebuah aktivitas yang aktif, di mana seseorang berbuat dan bertindak sesuatu. Berdoa lebih dari sekadar duduk diam dan melakukan penyembahan. Kita dapat berdoa melalui tindakan kita menolong orang lain.

Dalam bukunya yang berjudul Sacred Marriage, Gary Thomas bahkan berkata, “Ketika doa menjadi sekadar tindakan menundukkan kepala dan menutup mata, daya dan ruang lingkup kita dalam berelasi dengan Tuhan pun menjadi terbatas”.

Aku pernah mengalaminya. Ketika aku terlalu fokus dan mengorbankan waktu-waktu yang seharusnya bisa kupakai untuk menolong ibuku untuk berdoa sesuai dengan jam yang telah kutetapkan, aku merasa kosong. Aku merasa Tuhan sepertinya tidak mendengarkanku. Padahal, tanpa kusadari ketika aku berdoa, jawaban dari doaku terwujud melalui kegiatanku dalam menolong ibuku itu. Entah melalui percakapanku dengannya maupun lewat peristiwa tak terduga saat aku menolongnya. Bahkan, tak hanya ibuku saja, tetapi juga dengan orang-orang di sekelilingku di mana aku berinteraksi dengan mereka.

Sekarang aku lebih bijaksana dalam mengatur jam doaku. Aku menetapkan waktu doa regulerku bukan pada jam-jam sibuk di mana aku harus banyak berhubungan dengan orang lain, supaya aku bisa menikmati doa yang hangat bersama Tuhan. Namun, jika suatu ketika ada orang lain yang membutuhkan pertolonganku di waktu doaku, aku dapat tetap menolongnya sambil hatiku bercakap dengan Tuhan. Aku percaya bahwa doa dan komunikasi dengan Tuhan tidak dibatasi pada ruang dan waktu, aku dapat berdoa kepada-Nya di manapun dan kapanpun dengan didasari kerinduan untuk berelasi dengan-Nya.

Meski begitu, aku tetap berkomitmen untuk konsisten berdoa di jam-jam yang sudah kutetapkan karena di sinilah aku belajar untuk mengikut Kristus, menyangkal diriku, dan memikul salib setiap hari.

Harapanku, biarlah kita semua dapat hidup menjadi berkat bagi orang lain dan juga menjaga komitmen doa kita setiap hari.

Baca Juga:

Akankah Tuhan Memberiku Perkara yang Tidak Dapat Kutanggung?

Ketika pengalaman hidup yang mengenaskan terjadi, apakah memang Tuhan benar-benar tidak memberikan kita perkara yang tidak dapat kita tanggung?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 03 - Maret 2019: Membangun Mezbah Doa, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

3 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!