Diam dan Tenang: Senjata Ampuh yang Mengalahkan Kekhawatiran

Info

Oleh Dorkas Febria Krisprianugraha, Karanganyar

Ketika sharing kepada orang lain tentang pergumulan yang sedang kamu hadapi, pernahkah kamu mendengar respons: “Sudah, jangan khawatir, berserah saja”, “tenang, bawa saja dalam doa”, atau kalimat-kalimat penenang lainnya? Atau, seberapa sering kamu membaca firman Tuhan dan mendengarkan khotbah tentang hal kekhawatiran?

Dalam hidup kita, kekhawatiran bisa terjadi karena banyak hal. Kita khawatir akan hal-hal yang pokok dalam hidup kita, seperti makanan, minuman, atau pakaian (Matius 6:31). Kekhawatiran pun tidak mengenal usia. Semua orang pasti pernah mengalami kekhawatiran, demikian juga dengan aku.

Beberapa waktu lalu, adikku yang masih kuliah di perguruan tinggi swasta mengirimkanku pesan yang intinya hari itu juga dia harus membayar cicilan uang kuliah sebesar tiga juta rupiah. Kalau uang itu tidak dibayar, dia akan dianggap cuti selama satu semester. Pesan itu membuatku terkejut dan sedikit emosi karena hal ini tidak adikku bicarakan jauh hari sebelumnya.

Jika melihat kondisi keuangan keluargaku, rasanya tidak mungkin untuk mendapatkan uang sebanyak itu dengan segera. Sebagai anak pertama, aku bingung harus bersikap bagaimana. Aku tidak ingin adikku berhenti kuliah. Tapi, di sisi lain aku pun bingung bagaimana untuk mendapatkan uang.

Dalam keadaan hati yang khawatir itu, aku berkata, “Sudah dek. Jangan khawatir. Berserah sama Tuhan sambil kita berusaha maksimal.” Itu adalah jawaban aman yang kuberikan di tengah kondisi hati yang masih berkecamuk dan pikiran yang masih bingung.

Aku pun berulang kali mengatakan pada diriku sendiri, “Ayo, jangan khawatir!” dengan air mata yang tak dapat kutahan lagi. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri. Sampai tiba-tiba, muncul pertanyaan di hatiku, “Benarkah aku sungguh-sungguh tidak khawatir lagi? Atau, itu cuma sebatas caraku untuk berusaha mengabaikan rasa khawatir yang sebenarnya masih ada dalam diriku?”

Aku menyadari terkadang respon yang kuberikan hanya bersifat verbal, atau hanya sebatas pada ucapan. Meski mulut berucap tidak khawatir, namun hatiku tidak dapat memungkiri kalau aku masih khawatir.

Di tengah perenunganku itu, aku teringat akan sebuah WhatsApp Story yang dulu pernah kudapat. Dalam story tersebut tertulis penggalan firman Tuhan dari kitab 1 Samuel 30:6-8:

“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN Allahnya… Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul? Dan Ia berfirman kepadanya: ‘Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan tawanan.’”

Ketika merenungkan ayat ini aku coba membayangkan bagaimana perasaan Daud saat itu. Pastilah dia merasa sangat takut dan khawatir. Tapi, aku melihat suatu tindakan yang dilakukan Daud begitu luar biasa. Daud tidak berusaha menguatkan dan meyakinkan diri sendiri kalau dia mampu keluar dari kondisi terjepit itu, namun yang Daud lakukan adalah menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan disertai dengan tindakan bertanya kepada Tuhan mengenai apa yang harus dia lakukan. Wow, pikirku. Respons yang diberikan Daud ketika dia merasa khawatir dan takut itu lebih dari respons secara verbal. Respons Daud datang dari sikap hati yang berusaha mencari kehendak Tuhan di tengah kekhawatirannya.

Aku teringat satu kutipan yang pernah dibagikan oleh seorang pendeta yang bernama Samuel Anton Sidharta. Beliau menuliskan, “Menjadi teladan bukan berarti hidup kita harus selalu on the top dan penuh keberhasilan. Tapi, justru ketika kita berani mengambil respons yang benar di situasi yang tidak mudah dan bahkan lowest moment dalam hidup kita. Itulah TELADAN.”

Apakah itu mudah?

Kupikir tidak. Duduk diam sejenak ketika menghadapi masalah yang harus diselesaikan memang bukanlah hal yang mudah. Tapi, di saat itulah kita bisa mengakui ketidakmampuan kita dan bertanya kepada Tuhan “apa yang harus aku lakukan?”

Peristiwa adikku membuatku belajar banyak tentang seberapa pentingnya kita mengambil respons yang benar ketika menghadapi rasa khawatir. Kita bisa membawa rasa khawatir itu ke hadapan Tuhan dan menguatkan kepercayaan kita kepada-Nya. Dan puji Tuhan, ada jalan keluar yang Dia berikan untuk permasalahan yang kualami. Ada seseorang yang berkenan meminjamkan uang untuk saat itu dan mengizinkan kami membayarnya secara berkala.

Melihat adikku yang masih dapat berkuliah sekarang tanpa cuti adalah cara-cara yang Tuhan tunjukkan kepadaku dengan begitu ajaib. Aku sekarang mengerti bahwa duduk diam sejenak ketika masalah datang bukan berarti kita menyerah pada keadaan, tapi kita sedang menyiapkan langkah yang tepat untuk mengatasi kondisi yang ada.

Jalan keluar yang Tuhan sediakan tidak dapat kita lihat jika kita hanya berfokus pada kekuatan diri kita sendiri. Tapi, ketika kita berusaha tetap mencari kehendak-Nya, maka Tuhan akan menunjukkan jalan keluarnya bagi masalah kita.

Baca Juga:

Jangan Hidup Hanya Supaya Bisa Menikah. Hiduplah untuk Hidup Itu Sendiri.

Ketika berbicara tentang pernikahan, yang paling membuatku takut bukanlah hasrat kita untuk menikah, tetapi apa yang menjadi ekskpektasi kita tentang pernikahan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Pena Kamu, Tema 2019

12 Komentar Kamu

  • Michelle Grace Febrian

    Puji Tuhan..
    Saya sangat tertegur melalui artikel ini. Saat ini saya sedang dalam kekhawatiran, menghadapi perkuliahan saya.
    Saya bingung, harus bagaimana mengatasinya.. saya teringat Firman Tuhan dalam Mazmur 37 : 5.
    Tapi itu hanya seperti respon yang membuatku melupakan rasa khawatir itu, bukan benar2 menghilangkannya.

    Saya membaca artikel ini sangat terberkati. Tuhan menegur saya untuk benar2 berserah, dan saya mau bertanya kepada Tuhan apa yg sebenarnya harus saya lakukan.

    Terimakasih. Tuhan Yesus Memberkati

  • Berserah kepada Tuhan sembari melakukan tindakan
    Amin.

  • Amin..Puji Tuhan

  • Luar biasa, sebuah cerita hidup yang sangat memberkati bagi sy pribadi. ????Tuhan Yesus Memberkati.

  • Christina Santoso

    Halleluya… kuasa Tuhan ajaib, ketika kuatir Kita harus selalu ingat akan Tuhan dan pengharapan dalam Tuhan tidak akan mengecewakan.

  • Ellynda Rusdiana Dewi

    Ya, dan Amen
    Halleluya, puji TUHAN.
    Mkasih tuh share pengalaman pribadinya yg memberikan suatu kesaksian atas kebaikkan Kristus yg tidak pernah ada habisnya, sangat memberkati. ????
    GBu n fam

  • Keren..
    Terima kasih untuk renungannya. Bu

  • jadi ngrasa tertegur buat ttp tenang waktu ada mslh n gak mengandalkan kekuatan diri sndri….I like this story

  • Sangat memberkati dan menjadi alarm untuk menaruh fokus yang benar hanya pada Tuhan saja. Tuhan memberkati

  • Yunita Veronike Banik

    Sangat terberkarti banget .
    aku pribadi sebenarnya lagi khawatir dan takut dengan proposal skripsi, kkn yang blm jelas padahal sudah deadline, pkl, tugas
    Puji Tuhan di ingatkan lagi dengan respon hati yang benar

    Thank u ka Dorkas,
    Jesus bless

  • Terimakasih Kak Dorkazz hehe.. Masalah finansial ternyata adalah satu hal yang seharusnya paling tidak perlu untuk kita khawatirkan kan kak.. Sebab kita tahu Tuhan kita adalah Bapa yang mencukupkan.. God will make a way where there seems to be no way! Hehe teriimakasih kak, God bless you all..

Bagikan Komentar Kamu!