Akankah Tuhan Memberiku Perkara yang Tidak Dapat Kutanggung?

Info

Oleh Kezia Lewis
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Will God Give Me More Than I Can Bear?

“Tuhan tidak akan pernah memberimu perkara yang tidak dapat kamu tanggung. Tuhan hanya akan memberikan apa yang dapat kamu tangani.”

Dalam tahun-tahun awalku berjalan bersama Yesus, kalimat ini sangat menghiburku ketika aku menghadapi tantangan. Bahkan aku mulai membagikan pesan ini kepada teman-temanku yang sedang melewati masa-masa sulit.

Namun ketika aku kehilangan ibuku, aku meragukan kalimat itu. Tidak lama berselang, pamanku (saudara ibuku) tewas tertembak. Lalu, ayahku meninggal tiga hari setelah pernikahanku. Beberapa bulan kemudian, pamanku yang lain kehilangan kedua tangannya akibat sebuah kecelakaan yang mengerikan. Kalimat penguatan yang mulanya sangat berarti bagiku itu tiba-tiba kehilangan maknanya.

Bagaimana mungkin Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi? Semua ini tidak masuk akal bagiku. Aku berpikir: Bukankah mereka berkata Tuhan tidak akan memberikan perkara yang tidak dapat kutanggung? Tetapi bukankah aku baru saja melewati batas dari apa yang dapat kutanggung?

Hal ini membuatku berpikir bukan saja tentang diriku, tapi juga orang-orang yang berada dalam kondisi yang lebih berat dariku. Maksudku, bagaimana caranya aku memberitahu seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya bahwa Tuhan tidak akan memberikan perkara yang tidak dapat dia tanggung? Atau memberitahu semua itu pada seorang suami yang harus menguburkan istri dan anak-anaknya? Atau pada seorang anak yang kehilangan kedua orang tuanya?

Bagaimana aku bisa mencocokkan kalimat penghiburan yang seringkali digunakan ini dengan pengalaman hidup yang mengenaskan? Apakah Tuhan benar-benar tidak akan memberikan perkara yang tidak dapat kita tanggung?

Untuk beberapa waktu, aku berusaha untuk tetap percaya bahwa Tuhan tidak akan melakukannya. Aku berpura-pura kuat. Tetapi tekanan yang kudapat membuatku sulit untuk menjaga keyakinanku; aku hampir tidak dapat bertahan.

Ya, Tuhan akan memberimu lebih dari apa yang dapat kamu tanggung

Setelah beberapa waktu, aku akhirnya memiliki keberanian untuk mengakui ini: Tuhan memang memberikan lebih dari apa yang dapat kita tanggung. Aku percaya bahwa Tuhan mengizinkan kita mengalami penderitaan begitu berat; penderitaan yang dapat ‘menghancurkan’ kita dan membuat hidup kita terasa hampa, dan juga kegagalan-kegagalan yang akan begitu mengguncang kita.

Lantas, jika begitu bagaimana kita dapat memaknai janji yang Tuhan berikan dalam 1 Korintus 10:13? Ayat itu dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan “tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu”. Pada saat itu aku menyadari hal ini: kata “dicobai” pada ayat ini mengacu pada dosa. Tuhan tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui apa yang dapat kita tahan. Ayat yang seringkali dikutip dengan salah. Ayat ini tidak berbicara soal penderitaan.

Ketika kita berbicara soal penderitaan akibat suatu kondisi, aku percaya Tuhan akan memberikan lebih dari apa yang dapat kita dapat tanggung. Jika kita dapat menanggung semua perkara yang datang dalam hidup kita dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan benar-benar membutuhkan Tuhan. Jika kita dapat menanggung segala beban yang kita alami, maka kita tidak akan perlu mencari Tuhan; kita tidak akan mencari pertolongan-Nya, memohon kekuatan dari pada-Nya, dan memberi hati kita diteguhkan oleh-Nya.

Sampai kita mendapat anugerah dan kekuatan dari Yesus, kita tidak mungkin bisa menanggung semua perkara. Aku tahu hal ini karena aku pernah melewati situasi begitu berat yang membuatku hancur dan merasa hampa bahkan hingga aku tidak bisa menangis lagi. Rasa sakitnya tidak dapat kutahan; tertahan dalam hati dan leherku. Dalam masa-masa itu tidak ada yang berarti selain relasiku dengan-Nya.

Merasakan penderitaan itu baik

Lalu apakah artinya Tuhan itu jahat karena mengizinkan hal-hal buruk terjadi pada kita? Tentu tidak.

Justru pada kenyataannya, kurasa penderitaan itu baik untuk kita. Aku tidak berkata aku menyukainya—tidak sama sekali. Tapi meskipun penderitaan adalah kawan yang tidak menyenangkan, dia adalah seorang guru yang kompeten.

Penderitaan membantu kita melihat dengan jelas dan menolong kita untuk memahami apa yang benar-benar kita butuhkan. Penderitaan membuat kita mengetahui bahwa ada yang salah dalam hidup kita.

Aku pernah menonton sebuah film tentang seorang veteran perang yang tidak dapat merasakan bagian bawah tubuhnya. Pada suatu adegan, seorang siswa sukarelawan yang menolongnya membersihkan diri berkomentar bahwa terkadang dia berharap supaya tidak bisa merasakan sakit ketika dia berlatih sepak bola. Veteran perang itu lalu menjawabnya, “Tidak, kamu tidak menginginkan hal ini. Kamu tidak akan mau jika seandainya kamu bisa tidak merasakan sakit.”

Kurasa itulah bagian yang seringkali terlewat dalam pikiran kita. Kita ingin tidak bisa merasakan penderitaan, meyakini bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Namun, rasa sakit bukanlah musuh kita. Rasa sakit justru menolong kita untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Penderitaan dapat menuntun kita ke arah yang benar—sebuah hidup yang berfokus dan bergantung pada Tuhan.

Aku tidak menganggap remeh hal-hal sulit yang harus kita hadapi dalam hidup kita. Percayalah, ada banyak masa dalam hidupku di mana aku berharap aku tidak perlu merasakan penderitaan. Meski begitu, aku harus berkata bahwa dalam hikmat Allah, Dia mengizinkannya terjadi untuk suatu tujuan.

Sekarang aku bisa lebih mengandalkan Allah untuk mendapat kekuatan, menyadari bahwa aku tidak akan bisa bertahan tanpa-Nya. Aku bisa belajar mengasihi orang-orang lebih lagi dan benar-benar memikirkan kesejahteraan mereka. Aku melihat kebodohan dari keinginan pribadiku yang egois dan menjadi semakin bijak dalam mengambil keputusan. Semua ini hanya sebagian kecil dari pelajaran yang Tuhan ajarkan padaku—pelajaran yang tidak akan bisa kupahami jika penderitaan tidak ikut terlibat di dalamnya.

Pada akhirnya, penderitaan adalah kenyataan yang harus selalu kita hadapi. Namun kita pastinya bisa mengandalkan Tuhan untuk menyertai kita dalam setiap langkah kita menghadapi penderitaan-penderitaan tersebut.

Baca Juga:

Disiplin Rohani: Butuh Perjuangan!

Kuakui sulit untuk konsisten melakukan saat teduh sebagai bagian dari latihan disiplin rohani. Aku bahkan pernah gelisah karenanya. Tapi, ada tiga cara yang bisa kita lakukan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 03 - Maret 2019: Membangun Mezbah Doa, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

12 Komentar Kamu

  • Ami..Tuhan memberkati!

  • Puji Tuhan sangat memberkatii. Saya diingatkan bahwa Tuhan memberikan kita permasalahan lebih dari kemampuan kita krn Dia mau kt mjd pribadi yg tahan banting dan pribadi yang hebat.

  • Terimakasih banyak utk sharingnya.. GBu

  • lewat artikel ini aku baru menyadari bahwa Yesus sungguh menyayangiku. Amin

  • Terimakasih banyak atas sharingnya. Sungguh sangat memberkati

  • Terima kasih renungannya sungguh sgt memberkati Puji Tuhan

  • Tuhan menginzinkan kita untuk menghadapi pencobaan serta masalah dalam hidup. Karena Tuhan akan selalu menyertai kita. Tetaplah setia, iman tumbuh karena perbuatan kita.

    Terimah kasih untuk renungannya. Damai dihati☺

  • Tuhan menginzinkan kita untuk menghadapi pencobaan serta masalah dalam hidup. Karena Tuhan akan selalu menyertai dan menopang kita.

    Terimah kasih untuk renungannya. Damai dihati☺

  • Amen.Sangat memberkati.

  • Aku pernah berada diposisi dimana aku meragukan akan ayat diatas. Aku bertanya2 apakah ayat itu memang benar. Karena kenyataan yang kualami aku merasa itu diluar kemampuanku.
    Setelah membaca sharing ini, aku disadarkan, tujuan Tuhan Yesus memberikan hal2 yang diluar kemampuanku dan kita semua. Ia tahu yang terbaik buatku dan kita semua. Pekerjaan tanganNYA akan selalu tepat dan teroganisir dalam kehidupan kita.

  • trima kasih sangat memberkati sekali

  • Tuhan Yesus Memberkati 🙂

Bagikan Komentar Kamu!