Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Info

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta

Aku tidak bermaksud menuliskan text book tentang cara “pendekatan”. Tetapi, setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, aku merasa ada yang kurang “pas”. Maka, aku berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa di mana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu, ada “komitmen” di situ. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours.” Tidak ada hal seperti itu dalam pacaran. Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.” Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi—pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dan seterusnya. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah aku dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya.

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu, dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu”—merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama menilai lagi dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada dua pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan?
Tidak bisa tidak. Perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran? Memang bukan komitmen untuk menikah, namun komitmen untuk mengkhususkan waktu, emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab dua pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, baru sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke pihak wanita. Ini penting! Hanya setelah yakin, barulah seseorang boleh menyatakannya. Lalu, tunggu jawaban apakah pihak wanita juga setuju untuk masuk ke dalam masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan tersebut harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu”—hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat), lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya, perlu waktu untuk membuat emosi “turun” dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok, dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen saat dia sedang “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”-nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tetapi pergi bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme—kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakannya. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau memasuki masa pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering mengontak, memberi perhatian, dan sebagainya. Kalau si wanita tidak suka dengannya, maka gampangnya, si wanita pasti akan menjauh. Tapi, kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung—friendzoned. Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh. Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga sedang bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama.

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang pihak wanita kemudian mem-friendzone-kan dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa, tidak ada juga patokan berapa lama waktu yang diperlukan. Namun waktu enam bulan lebih tentu terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini berkata kepada pihak wanita, “aku lagi mendoakan kamu”. Wohooo… bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu dapat saja diartikan seperti “sebuah pernyataan langsung”. Bagi dia, pernyataan itu dapat berarti bahwa si pria menyukainya. Dia akan sangat berharap dan bisa saja sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka aku tidak menganjurkan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati–asal jangan berlama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, barulah menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar kepada si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

Kuharap tulisan singkat ini menolongmu untuk bergumul memasuki masa pacaran.

Selamat bergumul—bergumul dengan benar.

Baca Juga:

Apakah Mengikuti Kata Hati Bisa Membuat Kita Berbahagia?

“Ikuti kata hatimu.” Kita mungkin telah mendengarnya berkali-kali. Untuk apapun keputusan yang ingin kita ambil, dan kalau kita ingin berbahagia, ikutilah kata hati kita sendiri. Tapi, apakah benar begitu?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 02 - Februari 2019: Memupuk Perasaan Cinta, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

13 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!