Ketika Orang Tuaku Tidak Menyetujui Hubungan Kami

Info

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Satu tahun lalu, aku dan pacarku memutuskan untuk menjalin relasi pacaran. Namun, perjalanan hubungan kami di masa-masa awal tidaklah mudah. Kedua orang tuaku menolak pacarku karena dia berasal dari suku yang berbeda dengan keluargaku.

Bagi orang tuaku, juga mungkin bagi banyak orang tua lainnya, melihat anaknya mendapatkan pasangan yang satu suku adalah hal yang diinginkan, atau bahkan didamba-dambakan. Bagi mereka, jika anaknya berpasangan dengan yang tidak satu suku, pasti terasa ada yang kurang. Bahkan, ada pula yang tidak mengizinkannya sama sekali.

Sebagai anak, aku belajar mengerti keinginan orang tuaku. Memiliki pasangan yang satu suku memang baik. Jika sedang kumpul keluarga tidaklah sulit untuk akrab karena sudah tahu bagaimana cara beradat dan berbahasa. Namun, apakah pasangan hidupku harus selalu satu suku? Apakah ini yang memang Tuhan Yesus ajarkan atau hanyalah stereotip belaka? Dua pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab.

Namun, saat aku mencari tahu dari Alkitab, Tuhan Allah berfirman dalam Kejadian 2:18, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Apakah kata sepadan di sini berarti dia yang berasal dari satu suku? Berdasarkan terjemahan Alkitab versi New English Translation, kata “sepadan” di sini merujuk kepada kesesuaian atau cocok. Lebih rinci lagi, sepadan adalah pasangan yang saling mengisi dan bertumbuh untuk memenuhi tujuan Allah dalam pernikahan. Di sini terlihat jelas bahwa sepadan tidaklah mutlak harus satu suku.

Sebagai seseorang yang pernah bergumul dengan hal ini, aku ingin membagikan pesan untuk teman-teman, terkhusus apabila kamu juga mengalami pergumulan sepertiku.

1. Serahkanlah hubungan kalian kepada Tuhan melalui doa. Lebih dalam lagi, terus doakan hati keluarga yang menolak pasanganmu.

2. Cobalah jelaskan dan buka pola pikir keluargamu bahwasannya pasangan satu suku itu tidak menjamin segalanya. Jaminan utama adalah kedekatan pasangan kita kepada Sang Pencipta serta karakter yang dimilikinya. Karena pada dasarnya “Allah melihat apa yang ada di kedalaman hati sebagai ukuran sejati diri kita” (dikutip dari buku The End of Me, Kyle Idleman). Selain itu, menikah bukan saja tentang bagaimana bisa membahagiakan keluarga secara kasat mata, tapi lebih dari itu adalah tentang bagaimana kamu dan pasanganmu bisa melakukan visi Allah dalam keluargamu nantinya. Dan, hal yang sifatnya esensial ini tidak dibatasi oleh perbedaan suku semata. Lebih lagi, ceritakan juga apa saja kelebihan yang dimiliki pasanganmu, di mana kelebihan itu tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Serta, bukakan juga keuntungan jikalau kita memiliki pasangan yang berbeda suku, seperti halnya keluarga akan jadi lebih indah karena ada keberagaman suku di dalamnya.

3. Ajaklah pasanganmu itu ke rumah. Izinkanlah keluarga menilai sendiri kepribadian pasanganmu tersebut. Memang ini kelihatannya tidak manjur, apalagi jika keluargamu memilki “trauma” tersendiri terhadap kasus perbedaan suku sebelumnya. Namun, lagi-lagi tidak ada yang sia-sia selagi kita mau berusaha.

4. Jika langkah 1-3 belum juga membuat keluargamu “luluh”, buatlah strategi di mana keluargamu bisa secara nyata “hidup” bersama dengan pasanganmu. Pengalamanku sebelumnya, aku mengajak bapak dan ibuku untuk menjemputku secara langsung ke negara di mana aku menempuh pendidikanku. Walau aku bisa saja menginapkan bapak ibuku di penginapan, namun aku tidak mau. Aku membiarkan bapakku untuk mengalami hidup bersama pasanganku di asramanya, dan ibuku di asramaku. Pasanganku pun menyetujui pemikiranku itu. Walau ada beberapa temanku yang tidak setuju, namun aku terus menyakini bahwa Tuhan pasti menyertai setiap niat baik.

* * *

Dua hari pertama, bapakku masih belum “luluh”. Namun, puji Tuhan di hari ketiga sampai hari terakhir bapakku berada di sana, akhirnya beliau pun mulai “luluh”. Lebih dari itu, bapakku yang awalnya adalah orang yang paling menentang hubunganku pun akhirnya bersedia dipotong rambutnya oleh pasanganku. Itu terjadi di luar ekspektasiku. Bapakku yang memiliki kebiasaan memotong rambut sendiri, tiba-tiba ingat akan ceritaku sebelumnya bahwa pasanganku punya keterampilan memotong rambut. Bahkan, uang tambahannya di negeri perantauan pun dihasilkannya dari keterampilan tersebut. Sampai akhirnya, bapakku pun menyatakan pujiannya kepada pasanganku dan mengakui bahwa dia adalah seorang yang hebat. Itu semua dapat terjadi karena ada beberapa hal lain yang bapakku telah saksikan dan rasakan secara nyata selama mereka tinggal bersama.

Aku sangat bersyukur akan hal tersebut. Aku percaya ini boleh terjadi bukan karena pandainya aku membuat strategi, namun ini terjadi karena hebatnya Tuhan yang memberiku hikmat. Walau aku tak tahu bagaimana hubungan kami ke depannya, tapi kami berkomitmen untuk menyerahkan selalu hubungan ini kepada Tuhan. Satu firman Tuhan yang membuatku terkesan adalah, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Inilah yang membuat aku dan pasanganku dapat melangkah dengan tegap. Kalau memang Tuhan berkehendak pasti Dia akan menyertai hubungan kami sampai waktu yang telah Dia tentukan untuk kami bisa hidup bersama selamanya.

Satu bagian dasar terpenting ialah pergumulan kita dengan pasangan kita untuk selalu mencari kehendak Tuhan. Bila semakin yakin akan kehendak Tuhan, maka kita berjuang untuk penerimaan orang tua akan perbedaan suku tersebut. Kiranya ini bisa menjadi semangat dan langkah praktis untukmu yang memiliki pergumulan sama denganku.

Tuhan memberkati kita.

Baca Juga:

4 Tanda Bahwa Tuhan Bukanlah Fokus Pertamamu

Meski aku tahu bahwa Tuhan mengasihiku, setiap hari aku bergumul untuk menempatkan-Nya di posisi pertama di hidupku. Dan, dari pengalaman inilah aku ingin membagikan empat hal kepadamu.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 02 - Februari 2019: Memupuk Perasaan Cinta, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

10 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!