5 Tips Menghadapi Komentar “Masih Single Aja Nih?”

Info

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

“Sudah tahun baru 2019 tapi masih jomblo aja nih?”

“Kapan punya pacar?”

“Eh, teman SMP kamu anaknya sudah dua loh. Kamu kapan nyusul?”

Demikian pertanyaan-pertanyaan yang sering aku terima ketika liburan panjang beberapa minggu lalu. Tahun yang baru masih dengan status yang sama, single. Bagi seorang wanita yang sudah lama hidup single, aku bisa ikut tertawa ketika teman-temanku bercanda tentang masa single-ku. Namun, tetap saja, terkadang aku merasa risih mendengarnya.

Beberapa waktu lalu, ada pesan masuk di akun Instagramku. Seorang gadis yang duduk di semester akhir di suatu universitas bercerita bahwa dia selalu sedih ketika orang-orang yang dia anggap sahabat menyindir kondisinya yang masih belum memiliki pacar. Katanya, ada rasa tidak nyaman ketika sahabat-sahabatnya mulai membicarakan tentang pacaran mereka. Ditambah dengan sindiran-sindiran, si gadis ini pun merasa bahwa mereka telah menyakiti hatinya.

Aku sepenuhnya setuju bahwa sukacita yang sejati tidak datang dari memiliki pasangan hidup, tetapi dari hubungan yang intim dengan Tuhan. Bahwa satu-satunya pribadi yang bisa membuat kita utuh adalah Tuhan saja. Tidak masalah bagiku menunggu waktunya Tuhan untuk mempertemukanku dengan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku kelak. Aku percaya Tuhan akan memenuhi segala kebutuhanku. Namun, pada kenyataannya, masa single tidak selalu mudah, bukan? Seperti kisah seorang gadis yang mengirimiku pesan di Instagram tadi, komentar dan pertanyaan orang-orang di sekitar dapat membuat kita yang masih single merasa tersisihkan.

Melalui pengalamanku, aku tergerak untuk membagikan tips bagaimana aku bisa menghadapi setiap komentar dan pertanyaan yang seringkali menyindir status hubunganku.

1. Jujurlah kepada Tuhan tentang apa yang kamu rasakan

Apa yang kita rasakan ketika ditanya: kenapa masih single? Mungkin ada beberapa dari kita yang tidak mengambil pusing pertanyaan tersebut dan dengan percaya diri menyampaikan kepada mereka alasannya. Tapi, mungkin ada pula sebagian dari kita yang merasa sedih, tertekan, atau bahkan marah. Namun, tidak masalah jika kita merasakan itu semua.

Aku ingat kisah tentang seorang yang sakit di dekat kolam Betesda (Yohanes 5:1-8). Ada seorang yang sakit selama 38 tahun dan mengharapkan kesembuhan. Namun, penyakitnya tak kunjung sembuh hingga suatu ketika ia dijumpai oleh Yesus. “Maukah engkau sembuh?” (ayat 6) tanya Yesus kepadanya. Orang sakit itu merespons dengan bercerita segala usahanya yang gagal untuk masuk ke dalam kolam itu. Alkitab mencatat akhir dari kisah ini adalah orang itu mengangkat tilamnya dan sembuh.

Sometimes it’s okay not to be okay. Ketika kita terluka karena perkataan atau sikap orang lain, aku percaya bahwa Tuhan pun bertanya pertanyaan yang sama kepada kita, “Maukah engkau sembuh?” Namun, menjadi persoalan di sini adalah apakah kita bersedia jujur pada Tuhan atau tidak? Seperti orang sakit di tepi kolam Betesda tadi yang berkata jujur hingga ia pun disembuhkan, kita pun dapat mengakui dengan jujur isi hati kita kepada Tuhan. Jujur terhadap apa yang kita rasakan menolong kita untuk menghadapi kesedihan.

Mengakui perasaanku kepada diriku sendiri dan Tuhan dalam doa menolongku untuk pulih dari rasa sedih dan kecewa ketika aku disakiti oleh perkataan orang lain.

2. Berkatilah mereka yang menyinggung perasaanmu

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14).

Bukannya sedang melebih-lebihkan, meskipun sindiran atau pertanyaan tentang masa single tidak melukai kita secara fisik, tetapi itu bisa membuat kita merasa tertekan dan melukai hati. Ketika hal ini terjadi, kita perlu mengingat teladan yang telah Yesus lakukan saat Ia dianiaya. “Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Melepaskan pengampunan dan memberkati mereka yang menyakiti kita adalah cara yang baik untuk pulih dari rasa sakit hati. Kita pun dapat mendoakan apa yang menjadi pergumulan mereka. Ini memang tidak mudah, tetapi inilah teladan Yesus.

3. Bangunlah hubungan yang intim dengan Tuhan melalui firman-Nya

Kita bukanlah apa yang orang katakan tentang kita. Jika orang-orang menilai kita berdasarkan status hubungan kita, tidak demikian dengan Tuhan. Tuhan memandang kita berharga sebagaimana adanya kita. Allah mengasihi kita sebagai seorang pribadi.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”

Itulah yang firman Tuhan katakan dalam Yesaya 43:4. Dari pembacaan firman Tuhan, kita mengetahui betapa besar kasih Allah bagi kita. Melalui pembacaan firman Tuhan jugalah kita diteguhkan oleh janji-Nya. Bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Ketika aku memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, aku dapat menghadapi segala tantangan hidup dengan bersukacita, karena aku tahu bahwa Tuhan beserta. Cinta Tuhan melalui firman-Nya membuatku mengerti bagaimana cinta sejati sebenarnya. Kita perlu mengubah standar cinta yang disuguhkan dunia menjadi standar yang Tuhan berikan melalui persekutuan dengan-Nya.

4. Isilah waktumu untuk mengembangkan diri

Daripada terlalu sibuk memikirkan komentar orang lain yang tak kunjung selesai tentang status hubungan kita, lebih baik kita mengisi waktu untuk mengembangkan diri. Bukan mengembangkan bada ke kanan dan ke kiri alias menggendut ya! Hehehe. Tapi kita mau mengembangkan apa yang menjadi bakat atau talenta kita. Meraih mimpi yang kita cita-citakan, kita bisa mulai menyusun rencana dan melakukannya setahap demi setahap. Dan, terlibat di dalam komunitas yang membangun juga menolong kita mengarahkan hidup ke arah yang lebih baik.

Aku menikmati masa single-ku dengan berfokus kepada impianku untuk melayani anak-anak muda dan melakukan multiplikasi di dalam pelayanan pemuridan. Aku juga bergabung di dalam komunitas menulis yang mengajarkanku banyak hal. Ketika kita memanfaatkan waktu yang ada dengan maksimal, masa single dapat kita lalui dengan menyenangkan.

5. Bersyukurlah!

Bersyukur ketika segala sesuatunya baik-baik saja itu perkara yang mudah. Tapi bagaimana jika beryukur ketika segala sesuatu berjalan tidak seperti yang kita harapkan? Sangat tidak mudah. Namun, Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam segala hal.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

Aku bersyukur atas masa lajang yang Tuhan izinkan untuk kujalani selama delapan tahun terakhir. AKu bersyukur ketika teman-temanku mulai menemukan pasangan hidup mereka dan akhirnya menikah. Aku bersyukur untuk setiap pertanyaan dan komentar yang orang lain ajukan kepadaku terkait status hubunganku. Aku bersyukur karena aku yakin bahwa Tuhan tahu benar apa yang sedang Dia lakukan untukku.

Maka, alih-alih bertanya tentang siapa yang kelak jadi pasangan hidupku, aku lebih memilih bertanya demikian pada-Nya: “Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk aku pelajari selama masa single ini, Tuhan? Apa yang Engkau ingin aku lakukan?”

Tuhan menjawab pertanyaan itu dengan membukakan ladang pelayanan untuk kulakukan. Dan, ketika aku fokus melayani-Nya, pertanyaan dan sikap orang lain tidak begitu penting lagi buatku. Yang terpenting adalah aku tidak pernah sendirian di setiap musim hidupku, ada Allah yang menyertaiku.

Baca Juga:

4 Cara untuk Pulih dari Patah Hati yang Menyakitkan

Mengambil kembali serpihan-serpihan hati yang telah hancur berkeping-keping bisa jadi sesuatu yang sangat sulit. Move-on rasanya seperti kemustahilan. Namun, itu bukanlah akhir dari segalanya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 02 - Februari 2019: Memupuk Perasaan Cinta, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

9 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!