Tahun Baru, Prioritas Baru

Info

Selasa, 1 Januari 2019

Tahun Baru, Prioritas Baru

Baca: Pengkhotbah 9:4-12

9:4 Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.

9:5 Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.

9:6 Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.

9:7 Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.

9:8 Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.

9:9 Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.

9:10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

9:11 Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.

9:12 Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga. —Pengkhotbah 9:10

Tahun Baru, Prioritas Baru

Sejak dahulu, saya ingin belajar bermain selo, tetapi tak pernah ada waktu untuk mendaftar kursus. Mungkin lebih tepatnya, saya memang tidak pernah menyediakan waktu untuk itu. Saya pernah berpikir, mungkin baru nanti di surgalah saya akan piawai memainkannya. Untuk saat ini, saya akan mencurahkan waktu saya untuk melakukan apa yang sesuai dengan panggilan Allah dalam pelayanan kepada-Nya.

Hidup ini singkat, dan kita sering merasa terdesak untuk memanfaatkan waktu di atas bumi ini dengan sebaik-baiknya sebelum berlalu. Namun sesungguhnya, apakah artinya “memanfaatkan waktu”?

Ketika Raja Salomo merenungkan tujuan dari hidup ini, ia memberi dua saran. Pertama, kita harus menjalani hidup dengan penuh makna, termasuk menikmati hal-hal baik yang kita dapatkan atas izin Allah, seperti makanan dan minuman (Pkh. 9:7), pakaian dan minyak wangi (ay.8), pernikahan (ay.9), dan segala pemberian baik lainnya dari Allah—mungkin juga termasuk belajar bermain selo!

Saran kedua adalah bekerja dengan rajin (ay.10). Hidup ini penuh dengan kesempatan dan selalu ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Kita harus memanfaatkan setiap kesempatan yang Allah berikan, mencari hikmat-Nya untuk tahu bagaimana memprioritaskan kerja sekaligus bersantai dengan tetap memakai talenta kita untuk melayani Dia.

Hidup adalah anugerah yang indah dari Tuhan. Kita sungguh menghormati Dia dengan menikmati berkat-berkat-Nya setiap hari dan melayani-Nya sepenuh hati. —Poh Fang Chia

Bapa, terima kasih atas kehidupan yang Engkau berikan kepadaku. Tolong aku untuk menjalani tahun baru ini bagi-Mu, menikmati berkat-Mu, dan menggenapi tujuan-Mu atas hidupku.

Kita bisa menikmati berkat Allah sekaligus menjadi berkat bagi sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-3; Matius 1

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!