Selalu Menjadi Anak Allah

Info

Selasa, 22 Januari 2019

Selalu Menjadi Anak Allah

Baca: Roma 8:9-17

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. —Roma 8:14

Selalu Menjadi Anak Allah

Gereja kami memiliki kebiasaan untuk bergandeng tangan saat jemaat bersama-sama mengucapkan Doa Bapa Kami. Suatu kali di tengah kebaktian bersama orangtua, ketika satu tangan saya memegang tangan ibu dan tangan yang lain memegang tangan ayah, tiba-tiba saya terpikir bahwa saya akan selalu menjadi anak mereka. Meski sudah paruh baya, saya tetap disebut “anak perempuan Bapak Leo dan Ibu Phyllis”. Saya pun merenungkan bahwa ikatan tersebut tak hanya berlaku dengan mereka, tetapi juga dengan Allah. Saya akan selalu menjadi anak-Nya.

Rasul Paulus menghendaki agar jemaat di Roma memahami bahwa mereka mempunyai identitas sebagai anggota keluarga Allah karena mereka telah diangkat menjadi anak-anak-Nya (Rm. 8:15). Mereka telah lahir oleh Roh (ay.14) sehingga tak harus lagi diperbudak oleh hal-hal yang tidak berarti. Melalui Roh yang dikaruniakan kepada mereka, mereka menjadi “ahli waris, . . . yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (ay.17).

Apa dampak dari kenyataan tersebut bagi para pengikut Kristus? Segalanya! Identitas kita sebagai anak-anak Allah menjadi fondasi yang membentuk pandangan kita terhadap diri sendiri dan terhadap dunia. Contohnya, ketika menyadari bahwa kita adalah bagian dari keluarga Allah, kita dimampukan untuk keluar dari zona nyaman dalam upaya kita mengikut Dia. Kita pun dibebaskan dari hasrat untuk mencari-cari penerimaan dari orang lain.

Hari ini, marilah kita merenungkan apa artinya menjadi anak Allah. —Amy Boucher Pye

Ya Tuhan Allah, tolong aku untuk hidup sesuai dengan identitas utamaku sebagai anak-Mu. Tolong aku untuk menjalani hidup dipimpin Roh-Mu agar aku bisa membagikan kasih dan pengharapan-Mu kepada sesama.

Setiap orang yang mengikut Allah adalah anak-anak-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4-6; Matius 14:22-36

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!