Interupsi dari Allah

Info

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Di samping kuliah, aku terlibat dalam pelayanan untuk siswa SMA. Aktivitas ini membuat jadwal keseharianku menjadi penuh. Aku perlu meluangkan waktu untuk rapat, membicarakan pola pelayanan, juga berdoa bersama rekan-rekan sepelayananku. Itu belum ditambah dengan kegiatan perkuliahan dan pekerjaan lainnya yang semakin menambah padat jadwalku. Lama-lama, semua kesibukan itu terasa menjadi rutinitas buatku. Aku tahu pasti hal-hal apa saja yang harus kukerjakan pada setiap waktu. Tapi, tanpa kusadari, inilah yang menyebabkanku seringkali mengabaikan interupsi dari Allah pada setiap aktivitasku.

Interupsi dari Allah yang kumaksud di sini adalah gangguan yang terjadi pada jadwalku. Allah dapat melakukan banyak hal untuk membuat jadwal yang sudah kubuat ternyata tidak berjalan semestinya. Semisal, kereta yang kutumpangi terlambat ketika aku sudah datang ke stasiun tepat waktu. Kupikir tidak ada orang yang suka keterlambatan. Atau, ketika badanku sudah terasa lelah dan aku ingin langsung pulang ke rumah menggunakan transportasi paling cepat, eh, ada temanku yang mengajak pulang bareng dengan transportasi yang memakan waktu lebih lama. Buatku, itu semua terasa melelahkan.

Namun, setelah beberapa kali mengalami hal seperti itu, aku mendapati bahwa sebenarnya Allah punya rencana lewat semua hal yang terjadi dalam hidupku. Penantian kereta yang datang terlambat membuatku bisa terdiam sejenak dan merenung. Pulang bersama temanku yang melewati jalanan yang lebih jauh membuatku jadi bisa berbincang dengannya lebih lama. Dari perbincangan ini, aku jadi tahu bagaimana kondisinya, dan dia pun akhirnya bisa mendengar sharing ceritaku tentang pengalamanku bersama Allah.

Christine Caine dalam bukunya yang berjudul “Undaunted”, menceritakan kembali kisah Alkitab tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:30-37). Ada seseorang yang jatuh ke tangan penyamun hingga ia hampir mati. Dalam kondisinya yang kritis, ada tiga orang yang lewat di dekatnya, yaitu seorang imam, Lewi, dan orang Samaria. Imam dan orang Lewi melewati korban itu begitu saja. Tapi, orang Samaria, karena tergerak oleh belas kasih, menunda sebentar perjalanannya untuk menolong korban penyamun itu. Dalam kisah ini, imam dan orang Lewi tidak dikatakan sebagai orang jahat; tapi mereka adalah orang-orang beragama yang sibuk. Mereka begitu fokus menjalani rutinitas dan kegiatan ibadah mereka sampai-sampai mereka melewatkan seseorang yang seharusnya mereka tolong.

Aku tidak pernah memikirkan kisah orang Samaria dari perspektif ini sebelumnya. Aku tertegun dan merasa ditegur. Kesibukanku melayani di pelayanan siswa pernah membuatku menutup diri dari teman-teman kampusku yang ingin menemuiku untuk bercerita. Bahkan, kesibukan pelayananku ini seringkali membuatku lupa kepada rekan sepelayananku. Aku berfokus pada pelayananku sendiri: pada sekolah yang aku bimbing dan pada siswa-siswi yang aku layani. Aku lupa kalau aku juga punya rekan sepelayanan yang bukan robot. Mereka tentu punya pergumulan. Mereka butuh diperhatikan dan didengar, sesuatu yang juga dibutuhkan oleh semua manusia.

Satu-satunya perbedaan antara orang Samaria dengan imam dan orang Lewi adalah orang Samaria rela berhenti. Orang Samaria rela rencananya terganggu supaya dia dapat membantu orang asing yang menjadi korban penyamun. Orang Samaria mau merendahkan dirinya untuk mengangkat mereka yang susah.

Christine Caine, dalam buku “Undaunted” di halaman 168, menuliskan bahwa rendah hati dan merendahkan diri itu berbeda. Belas kasih hanyalah emosi dalam diri kita. Ketika belas kasih itu membuat kita bertindak, barulah belas kasih itu dapat dikategorikan sebagai sebuah aksi nyata.

Kesibukan kita seringkali dapat membuat kita tidak melihat orang-orang di depan mata kita yang sekiranya perlu kita tolong. Waktu kita hanya fokus melihat ke depan tanpa memedulikan gangguan yang datang dari kanan dan kiri, Allah bisa saja menggunakan gangguan itu agar kita menjadi jawaban doa bagi seseorang.

Secara pribadi, aku merenungkan dan mendapati bahwa Allah tidak ingin aku hanya mengerjakan pelayanan utamaku saja tanpa tujuan. Tuhan, yang menempatkanku berada di kampus dan lingkungan pekerjaanku sekarang, rindu agar banyak orang dapat menikmati kasih-Nya lewat hidup setiap kita. Kiranya setiap kita dianugerahkan kepekaan terhadap rencana-rencana-Nya yang dapat menginterupsi jadwal dan rutinitas kita.

Baca Juga:

Tuhan, Anugerahkan Kepadaku Ketenangan

Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 01 - Januari 2019: Membuka Lembaran Baru, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!