Doa yang Sarat Pertanyaan

Info

Jumat, 18 Januari 2019

Doa yang Sarat Pertanyaan

Baca: Mazmur 13

13:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.13:2 Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:3 Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:4 Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:5 supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:6a Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

13:6b Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. —Mazmur 13:6a

Doa yang Sarat Pertanyaan

Dalam perjalanan jarak jauh (bahkan jarak dekat), sering terdengar pertanyaan, “Sudah sampai belum?” atau “Berapa lama lagi?” Hal itu tidak jarang terlontar dari mulut anak-anak maupun orang dewasa yang ingin segera tiba di tujuan. Namun, orang-orang di segala zaman juga cenderung menanyakan hal itu saat mereka didera kelelahan karena menghadapi tantangan hidup yang tampaknya tak pernah usai.

Mazmur 13 menunjukkan perasaan serupa yang juga dialami Daud. Dalam dua ayat saja (ay.2-3), empat kali Daud meratap, “Berapa lama lagi?” Ia merasa dilupakan, telantar, dan terpuruk. Pada ayat 3, ia bertanya, ”Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” Mazmur ratapan seperti ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita boleh menghadap Tuhan di dalam doa dengan membawa pertanyaan-pertanyaan kita. Lagipula, bukankah Dia adalah pribadi terbaik untuk diajak bicara di tengah tekanan dan kesesakan kita? Kita dapat membawa setiap pergumulan kita kepada-Nya—penyakit, dukacita, penyimpangan orang yang kita kasihi, dan hubungan yang sulit.

Penyembahan kita tak perlu terhenti ketika kita mempunyai banyak pertanyaan di dalam pikiran kita. Allah yang berdaulat penuh itu menerima kita yang datang kepada-Nya dengan segala pertanyaan yang menjadi sumber kekhawatiran kita. Mungkin saja, seperti Daud, akan tiba saatnya segala pertanyaan kita akan diubah menjadi permohonan, penyerahan diri, dan pujian kepada Tuhan (ay.4-6). —Arthur Jackson

Tuhan, terima kasih karena aku boleh tetap datang menyembah-Mu meski ada banyak pertanyaan di dalam pikiranku.

Nyatakanlah pertanyaan dan pergumulanmu kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!