Dari Kejadian Sampai Wahyu, Pengalamanku Membaca Habis Alkitab dalam Setahun

Info

Oleh Jefferson, Singapura

Sejak aku lahir baru, aku terdorong untuk membaca habis Alkitab dalam setahun. Tapi, karena kesibukanku di sekolah, aku terus menundanya. Dengan pertolongan Tuhan dan dukungan dari teman-teman kelompok kecilku, barulah enam tahun kemudian aku dapat menyelesaikan membaca Alkitab dalam setahun.

Membaca Alkitab setiap hari selama setahun telah menolongku untuk peka terhadap suara Tuhan. Namun, aku menyadari bahwa proses untuk konsisten melakukan hal ini tidaklah mudah. Melalui tulisan ini, aku ingin membagikan sekelumit pengalamanku yang kiranya dapat menginspirasimu untuk berkomitmen menjalani hari-hari di tahun 2019 dengan konsisten membaca firman-Nya.

Beberapa persiapan pendahuluan

Di akhir tahun 2017, aku punya resolusi untuk menuntaskan pembacaan Alkitab di tahun 2018. Jadi, selama beberapa minggu terakhir di tahun 2017, aku mempersiapkan hal-hal yang kubutuhkan untuk mewujudkan resolusi itu. Pertama-tama, aku menentukan versi terjemahan Alkitab yang akan kubaca. Aku terbiasa membaca dalam bahasa Inggris, jadi aku memilih Alkitab versi English Standard Version (ESV).

Langkah kedua menurutku adalah langkah yang lebih rumit: menentukan rencana baca Alkitab (Bible reading plan) yang akan kuikuti. Aku bisa saja memilih perikop yang akan kubaca secara acak setiap harinya. Tapi, aku tidak mau melakukannya karena itu sama artinya dengan mengabaikan struktur dan salah satu identitas Alkitab sebagai sebuah karya sastra. Ibarat sebuah fine dining course yang hidangannya disajikan dengan cermat, pun ada urutan-urutan baca tertentu yang memampukan kita untuk melihat gambaran besar yang Alkitab sampaikan. Kupikir cara membaca Alkitab dengan pendekatan acak tidak akan cocok untuk membaca sebuah buku yang berisikan firman Tuhan.

Dari beberapa Bible reading plan yang aku telaah, aku memutuskan untuk menggunakan ESV Study Bible One Year Reading Plan. Selain cocok dengan versi terjemahan yang akan kupakai, plan ini juga menyediakan tafsiran untuk ayat-ayat yang sulit kupahami dan membagi kitab-kitab dalam Alkitab ke dalam empat kategori: Mazmur dan Sastra Hikmat, Taurat dan Sejarah Israel, Tawarikh dan Nabi-nabi, dan Injil dan Surat Rasul. Aku akan membaca paling tidak satu perikop dari setiap kategori tiap harinya. Reading plan ini juga tidak menyediakan renungan apapun sebelum atau sesudah perikop bacaan. Dengan kata lain, aku “dipaksa” untuk benar-benar merenungkan apa yang kubaca.

Langkah terakhir adalah menentukan kapan waktu yang tepat buatku membaca. Awalnya aku berusaha untuk membaca Alkitab di pagi hari. Tapi, sejak aku mulai bekerja, aku tidak punya cukup waktu di pagi hari untuk membaca seluruh perikop. Aku pun mengganti waktu bacaku ke malam hari sepulang dari kantor.

Puji Tuhan, setelah setahun berlangsung, Tuhan memampukanku mengikuti Bible reading plan itu hingga usai. Ada tiga poin yang akan kusampaikan:

#1 – 1001 alasan untuk mangkir tidak berdaya di hadapan 1 alasan untuk membaca

Aku mengamati, mungkin ada di antara kita yang menganggap membaca habis Alkitab dalam setahun sebagai sesuatu yang sulit dan luar biasa. Kita lalu memuji dan sangat kagum dengan saudara seiman yang telah berhasil melakukannya. Tapi, apakah membaca Alkitab dari sampul ke sampul memang sebuah prestasi yang hanya bisa dicapai oleh orang Kristen tertentu? Atau, apakah semua orang Kristen juga bisa melakukannya?

Setelah mempraktikkan dan mengalaminya sendiri, aku memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. Pada awalnya, aku sepakat dengan anggapan pertama yang mengatakan bahwa membaca tuntas Alkitab hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dunia kita sekarang sudah tersaturasi dengan penggunaan gadget, di mana cara kita berinteraksi di media sosial menanamkan sifat short attention span dalam diri kita. Kita enggan, tidak terbiasa, atau bahkan tidak lagi bisa menikmati kegiatan yang memerlukan perhatian cukup lama seperti membaca. Penolakan ini bisa jadi berlipat ganda ketika buku yang dibaca merupakan salah satu kitab tertua di dunia dengan sastra Yahudi kuno sebagai genre utamanya.

Di masa awal aku menjalani komitmenku ini, aku kesulitan untuk membaca paling tidak empat perikop tiap harinya. Aku sempat jenuh dan pernah dengan sengaja melewatkan satu atau dua perikop di beberapa hari pertamaku. Tapi, Tuhan mengusik hatiku lewat salah satu bacaan di hari kedua yang diambil dari Mazmur 1 yang membandingkan orang fasik dengan orang benar. Perbedaan utama keduanya adalah orang benar menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam (ayat 1). Orang benar kemudian digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang selalu berbuah pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 4).

Dalam perenunganku, aku menyadari bahwa satu-satunya tindakan aktif si orang benar adalah merenungkan firman Tuhan dan bergantung pada-Nya, karena tidak mungkin sebuah pohon menanam bibitnya sendiri ke dalam tanah lalu bertumbuh. Aku menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang benar yang hidupnya berkenan di hadapan Allah, aku harus menyerahkan diriku sepenuhnya untuk dibentuk dan dididik-Nya lewat pergaulan erat dengan Alkitab. Perenungan inilah yang membakar kembali api semangatku yang sempat padam, dan puji Tuhan, akhirnya aku dapat menyelesaikan resolusiku dengan baik.

Kurasa sangatlah wajar bagi kita untuk enggan membaca Alkitab , tetapi kalau kita terus-menerus menolak untuk mendekat pada Tuhan dan mempelajari kehendak-Nya dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya kita akan kehabisan alasan. Kebenaran pun terungkap: kita bukannya tidak bisa membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun; kita tidak mau dan tidak merencanakannya. Padahal, Sumber Air Hidup yang akan membuat kita tidak pernah haus lagi telah memberikan diri-Nya untuk kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah minum dari-Nya dan menyaksikan bagaimana air itu Dia ubahkan menjadi mata air yang tidak akan pernah habis dalam diri kita (Yohanes 4:14).

#2 – Usaha pendakian akan dibayar setimpal oleh pemandangan dari atas puncak

Kita telah belajar kalau membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun bukanlah hal yang mustahil jika kita benar-benar bergantung kepada Tuhan. Kita mungkin tidak dapat mengingat ribuan kata yang ada dalam Alkitab karena kita memang manusia yang terbatas. Tetapi, kita dapat mengingat tema-tema dan peristiwa-peristiwa utama yang tercatat dalam Alkitab.

Buatku pribadi, Alkitab berisikan gambaran besar dari kisah Allah yang mulia. Menikmati kisah itu seperti menikmati pemandangan dari atas sebuah puncak. Ada banyak rute yang dapat membawa kita mencapai puncak itu. Dalam pengalamanku, rute yang kupilih adalah keempat kategori rencana baca Alkitabku. Ada banyak hal yang ingin kubagikan dari perjalananku mendaki dan menikmati pemandangan dari puncak itu, tapi rasanya artikel ini nantinya akan terlalu panjang. Jadi, aku hanya ingin membagikan dua hal saja yang kuanggap paling penting.

Pertama, aku terkagum-kagum dengan berbagai macam emosi yang diekspresikan dalam kitab-kitab Mazmur dan Sastra Hikmat (Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung). Kitab-kitab ini menggambarkan dengan jelas realita kehidupan manusia yang penuh jatuh bangun, dari masa-masa penuh sukacita seperti yang tertulis dalam Mazmur 34 dan Kidung Agung, hingga masa yang kelam seperti tertulis di Mazmur 88 dan Pengkhotbah. Namun, di tengah-tengah ketidakpastian hidup, Tuhan hadir sebagai Gunung Batu yang mengundang kita untuk hidup dalam naungan-Nya dan mengikut Dia. Di sini aku belajar untuk terus berelasi dengan Tuhan dalam segala situasi dengan apa adanya.

Poin pertama yang terdengar abstrak ini mengambil bentuk konkrit dalam ketiga kategori lainnya. Peristiwa-peristiwa dalam kitab Taurat, sejarah Israel, nabi-nabi, dan Perjanjian Baru memperjelas identitas dan karakteristik Tuhan yang dinyatakan oleh kategori sebelumnya. Dalam proses aku membaca Alkitab sampai habis, aku semakin memahami dan mengenali Allah Tritunggal yang adalah Kasih. Karena begitu besar kasih yang dimiliki Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus dari semula, ketiga pribadi Tritunggal menciptakan dunia dan segala isinya untuk membagikan kasih ini. Karena begitu besar kasih Allah yang adalah adil dan benar, Ia tidak mungkin mentolerir dosa yang pada dasarnya adalah penolakan dan pemberontakan terhadap diri-Nya. Dan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia memberikan diri-Nya sendiri untuk mati menanggung hukuman dosa dan mendamaikan kita dengan-Nya. Tuhan Yesus, sang Firman yang menjadi manusia, merangkum esensi kasih Allah yang meluap-luap dan tanpa pamrih ini dalam Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Pemahaman dan pengenalan yang lebih dalam tentang Allah ini hanya bisa kita dapatkan melalui membaca firman-Nya tentang Firman-Nya. Dalam pribadi Kristus kita memiliki teladan hidup, dan inilah yang kumaksud dengan “hidup mengikuti Dia”: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama, bahkan musuh kita, seperti diri kita sendiri (Matius 22:37-38).

Tidak ada cara lain untuk dapat mengenal Tuhan selain melalui halaman-halaman Alkitab yang memberikan kita “terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6). Inilah pemandangan dari puncak yang tidak akan kutukar dengan hal apapun (Filipi 3:8).

#3 – Membaca Alkitab sampai habis satu kali tidak akan cukup untuk mengenal Tuhan

Allah yang kita kenal lewat Alkitab adalah Tuhan yang melampaui akal pikiran manusia. Kita tidak mungkin memahami Dia sepenuhnya hanya dengan membaca habis Alkitab satu kali. Jadi, harus berapa kali kita melakukannya supaya kita bisa semakin mengenal Tuhan? Dua kali? Atau tiga kali? Lebih dari itu, kita harus membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu dengan konsisten hingga kelak kita bertemu Tuhan muka dengan muka.

Menyebutkan kitab Wahyu di sini adalah hal yang penting, karena di dalam kitab itu tercatat janji Tuhan untuk berdiam di tengah-tengah umat-Nya (Wahyu 21:3). Kita juga akan melihat wajah-Nya dan di dahi kita akan tertulis nama-Nya (Wahyu 22:4). Di akhir zaman, tidak akan ada lagi maut maupun dosa yang memisahkan kita dengan Tuhan, “sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:4). Apa implikasinya? Kita akan dapat memahami dan mengenal Allah secara penuh; kita dapat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Allah yang selama ini kita kenal melalui firman-Nya.

Jadi, mengapa kita harus terus membaca Alkitab dengan konsisten terus menerus sampai kelak kita berjumpa dengan Tuhan? Karena Alkitab adalah satu-satunya sarana untuk kita dapat mengenali Tuhan saat ini (kesimpulanku dari berbagai perikop, terutama 2 Timotius 3:15-17). Hanya melalui Alkitablah kita, yang dulu pikirannya dibutakan oleh ilah zaman ini, sekarang dapat melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah sendiri (2 Korintus 4:4). Mungkin sekarang kita hanya dapat mengenal Tuhan melalui gambaran yang kurang jelas dalam cermin, tetapi bayangan samar-samar itu menunjukkan bahwa si pemilik bayangan memang ada. Dan, melalui cermin itulah si pemilik bayangan berjanji untuk menemui kita sehingga kita dapat melihat rupanya dengan jelas. Maka, bersama-sama dengan Paulus, kita dapat dengan penuh percaya diri mengatakan, “Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti [di kedatangan kedua Tuhan] aku akan mengenal dengen sempurna, seperti aku sendiri dikenal [oleh Allah sejak semula]” (1 Korintus 13:12). Sambil menantikan momen bertemu Tuhan muka dengan muka, mari kita terus memahami dan mengenali-Nya lewat cermin yang Ia berikan, yang menuntun kita kepada Firman sejati yang hidup dan pernah berjalan di tengah manusia, Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membaca Alkitab; mulailah tahun 2019 dengan resolusi untuk menyelesaikan membacanya.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan mengajakmu memanjatkan doa yang dinaikkan oleh Anselm, seorang bapak gereja dari abad ke-11. Setelah merenungkan sifat-sifat Allah yang ajaib dan kelihatannya saling berlawanan dalam bukunya Proslogion, ia meresponi hal ini dengan kalimat-kalimat berikut:

Aku berdoa, ya Tuhan, supaya aku dapat mengenal-Mu dan mengasihi-Mu, sehingga aku dapat bersukacita di dalam-Mu.

Dan, jikalau aku tidak dapat melakukannya dengan penuh di kehidupan ini, biarlah aku menguasainya perlahan-lahan hingga mencapai kepenuhannya. Biarlah pengetahuan akan diri-Mu bertumbuh dalamku di sini, dan di sana [di surga] dijadikan sempurna. Biarlah kasih-Mu bertumbuh dalamku di sini dan di sana dijadikan sempurna, sehingga sukacitaku di sini dapat berlimpah dalam pengharapan, dan di sana dijadikan sempurna dalam realita.

Ya Tuhan, melalui Anak-Mu, Engkau mengajarkan kami untuk meminta dan Engkau berjanji bahwa kami akan mendapatkan sehingga “sukacita kami menjadi penuh”. Aku meminta, ya Tuhan, ketika Engkau mengajar melalui Penasihat Ajaib kami, [supaya] aku menerima apa yang Engkau janjikan melalui kebenaran-Mu sehingga “sukacitaku menjadi penuh”.

Allah yang adalah Kebenaran, aku meminta supaya aku dapat menerima sehingga “sukacitaku menjadi penuh”. Hingga saat itu tiba, biarlah pikiranku merenungkan [momen di mana “sukacitaku menjadi penuh”], biarlah lidahku berkata-kata tentangnya, biarlah hatiku mengasihinya, biarlah mulutku berkhotbah tentangnya. Biarlah jiwaku merindukannya, biarlah tubuhku menginginkannya, biarlah seluruh keberadaanku mendambahaknnya, hingga aku masuk dan [mengambil bagian] dalam “sukacita Tuhan”, yang adalah Allah Tritunggal, terberkatilah selama-lamanya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati, soli Deo gloria.

Informasi tambahan:

Kamu dapat membaca tentang tips-tips praktis membaca Alkitab dalam setahun dalam tulisan Bruce Ware, seorang dosen Teologi Kristen di Southern Baptist Theological Seminary. Aplikasi-aplikasi praktis yang ia berikan sangat membantuku selama setahun ke belakang dan kuharap dapat membantumu juga dalam membaca habis Alkitab selama setahun ke depan. Selamat membaca!

Baca Juga:

#10YearChallenge, Hal Apakah yang Tuhan Telah Ubahkan dalam Hidupmu?

Perjalanan hidup yang telah kita lalui mungkin tidaklah selalu lancar, tetapi entah kita sadari atau tidak, itulah yang membentuk dan mengubah kita menjadi diri kita yang ada sekarang ini. Apakah yang Tuhan telah ubahkan dalam hidupmu?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 01 - Januari 2019: Membuka Lembaran Baru, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

6 Komentar Kamu

  • Sangat membantu, untuk mengubah cara membaca Alkitab hingga tuntas dalam menjalani aktifitas kehidupan sehari hari

  • Ellynda Rusdiana Dewi

    Amen
    Benar sekali, terkadang kejenuhan dtg menghampiri disaat diri merasa telah lelah oleh aktivitas disetiap hari. Keinginan lebih lg menyelami makna dr Firman TUHAN mengalahkan rasa jenuh itu, dan TUHAN sllu mempunyai cara tuk membangkitkan semangat bukan hanya membaca, tetapi merenungkan, mengkaji dan semampu diri tuk menjadi pelaku dari Firman-NYA yg memampukan diri. Kiranya Roh Kudus sllu memberikan hikmat, pengertian dan pengetahuan pd Kitah semua tuk lebih lg mengenal TUHAN, lewat FIrman-NYA.

    Mkasih tuk berkat Firman-NYA
    GBu n fam

  • haruning17@gmail.com

    Amen, Praise the Lord, trimakasih untuk artikel yg sangat membangun dan doa yg sangat menginspirasiku scr pribadi

  • Sangat menguatkan hati dan membagi berkat

  • Esra Mariam Morin Sinaga

    Keren!

  • Luar biasa pengalamannya Menginspirasi sekali
    Saya juga dalam tahap merubah diri agar hidup berkenan di hadapan Tuhan, dan memang tidak mudah apalagi penyangkalan diri. GBU

Bagikan Komentar Kamu!