Berusaha Mengesankan

Info

Rabu, 23 Januari 2019

Berusaha Mengesankan

Baca: Matius 15:1-11,16-20

15:1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:

15:2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

15:5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,

15:6 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.

15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:

15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

15:10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka:

15:11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

15:16 Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat memahaminya?

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?

15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat . . . . Itulah yang menajiskan orang. —Matius 15:19-20

Berusaha Mengesankan

Dalam perjalanan karyawisata yang dilakukan oleh suatu kelas perguruan tinggi, seorang dosen sangat pangling melihat salah satu mahasiswi unggulannya. Di kelas, ia biasa memakai sepatu setinggi 15 cm. Namun, saat berjalan dengan sepatu santai, tingginya tak lebih dari 153 cm. “Sepatu bertumit itu adalah tinggi badan impianku,” katanya sambil tertawa. “Tetapi sepatu bot ini adalah diriku apa adanya.”

Tampilan fisik tidak menentukan jati diri kita, karena yang terutama adalah hati. Yesus menegur keras orang Farisi dan ahli Taurat yang sangat mengedepankan aspek lahiriah. Mereka bertanya kepada Yesus mengapa para murid tidak mencuci tangan sebelum makan seperti adat istiadat Yahudi (Mat. 15:1-2). Yesus balik bertanya, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (ay.3). Lalu Dia menunjukkan bagaimana mereka berusaha mencari-cari celah hukum untuk mempertahankan harta agar tidak perlu merawat orangtua (ay.4-6), sehingga mereka sesungguhnya tidak menghormati orangtua dan melanggar hukum kelima (Kel. 20:12).

Jika kita mengutamakan tampilan luar dan mencari-cari celah dalam perintah Allah yang sudah jelas, kita sedang melanggar maksud dari hukum yang diberikan-Nya. Yesus berkata, “Dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan,” dan hal-hal buruk lainnya (Mat. 15:19). Hanya Allah yang dapat memberi kita hati yang bersih oleh kebenaran Anak-Nya, Yesus Kristus. —Tim Gustafson

Tuhan, kami cenderung mengandalkan usaha sendiri untuk membuat Engkau dan orang lain terkesan. Tolong kami bersikap tulus dalam semua hubungan kami dan memiliki hati yang dipulihkan lewat pengampunan-Mu.

Allah tidak akan terkesan ketika motivasi kita adalah untuk mengesankan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 7-8; Matius 15:1-20

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!