Berjalan dalam Terang

Info

Jumat, 4 Januari 2019

Berjalan dalam Terang

Baca: Ibrani 12:18-24

12:18 Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai,

12:19 kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka,

12:20 sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: “Bahkan jika binatangpun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu.”

12:21 Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: “Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.”

12:22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah,

12:23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,

12:24 dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. —Yohanes 1:4

Berjalan dalam Terang

Kegelapan meliputi desa kami di tengah hutan setelah bulan menghilang ditutupi awan. Kilat membelah langit, diikuti hujan badai dan guntur menggelegar. Saat masih anak-anak, saya sering terbangun ketakutan sambil membayangkan semua jenis monster mengerikan yang siap menerkam saya! Namun, saat fajar menyingsing, bunyi-bunyi itu lenyap, matahari terbit, dan ketenangan muncul kembali seiring kicauan burung-burung menyambut sinar mentari. Begitu tajam kontras antara kegelapan malam yang mencekam dan terang pagi yang penuh keceriaan.

Penulis surat Ibrani mengingat masa-masa ketika bangsa Israel begitu takut dan gemetar sewaktu gelap disertai guruh meliputi Gunung Sinai (Kel. 20:18-19). Bagi mereka, kehadiran Allah terasa gelap dan menakutkan, bahkan ketika Dia mengaruniakan Hukum Taurat dengan penuh kasih. Hal itu terjadi, karena sebagai umat yang berdosa, orang Israel tak sanggup memenuhi standar Allah. Dosa menyebabkan mereka berjalan dalam kegelapan dan ketakutan (Ibr. 12:18-21).

Namun, “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1Yoh. 1:5). Dalam Ibrani 12, Gunung Sinai menjadi lambang kekudusan Allah dan hidup lama kita yang penuh pemberontakan, sedangkan keelokan Bukit Sion melambangkan kasih karunia Allah dan hidup baru dari orang percaya dalam Yesus, “Pengantara perjanjian baru” (ay.22-24).

Siapa saja yang mengikut Yesus “tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Di dalam Dia, kita dapat meninggalkan kelamnya hidup lama dan merayakan sukacita berjalan dalam terang dan Kerajaan-Nya. —Lawrence Darmani

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau telah membawaku keluar dari kegelapan kepada terang-Mu yang ajaib. Tolong aku untuk menghindari kegelapan dan terus berjalan dalam terang hingga tiba di kekekalan.

Bagaimana hidupmu diubahkan sejak percaya pada Yesus? Dalam hal apa saja kamu ingin lebih bertumbuh dalam iman?

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 10-12; Matius 4

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!