Salju Musim Dingin

Info

Selasa, 25 Desember 2018

Salju Musim Dingin

Baca: Yesaya 42:1-4

42:1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.

42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.

42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

 

Ia tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring, suaranya tak akan terdengar di jalan. Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya. —Yesaya 42:2-3a BIS

Salju Musim Dingin

Saat bangun pagi di musim dingin, saya sering mendapati alam yang berselimut salju dengan suasana yang hening dan damai. Tak seperti hujan petir musim semi yang menggelegar di malam hari, salju turun dengan lemah lembut.

Dalam lagu Winter Snow Song, Audrey Assad bernyanyi tentang Yesus yang bisa saja datang ke dunia dengan kedahsyatan bak puting beliung, tetapi Dia justru datang dengan tenang dan perlahan seperti salju musim dingin yang turun dengan lembut pada malam hari di luar sana.

Kedatangan Yesus diam-diam mengejutkan banyak orang. Alih-alih dilahirkan di istana, Dia lahir di tempat yang tak terduga dan sederhana di luar Betlehem. Dia pun tidur di satu-satunya tempat yang tersedia, sebuah palungan (luk. 2:7). Bukannya dilayani oleh para bangsawan dan pejabat pemerintah, Yesus disambut oleh para gembala sederhana (ay.15-16). Orangtua Yesus pun hanya mampu mempersembahkan korban sederhana berupa dua ekor burung ketika mereka menyerahkan-Nya di Bait Allah (ay.24).

Kedatangan Yesus yang sederhana telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dengan mengatakan bahwa Sang Juruselamat “tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring” (yes. 42:2 bis). Dia juga takkan hadir dengan kekuatan yang akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (ay.3). Sebaliknya, Dia datang dengan lembut untuk merangkul kita dan menawarkan perdamaian dengan Allah—damai yang masih tersedia bagi siapa pun yang mempercayai kisah agung tentang Sang Juruselamat yang lahir di palungan. —Lisa Samra

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau rela meninggalkan kemuliaan-Mu dan datang ke dunia untuk menawarkan damai bagi kami.

Tenang di malam sunyi, t’rang surga berseri; demikianlah karunia bagimu diberi. —Hai Kota Mungil Betlehem (Kidung jemaat 094)

Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3; Wahyu 16

Artikel Terkait:

Kisah Orang Majus Keempat

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!