Pohon “Menanti Sang Bayi”

Kamis, 13 Desember 2018

Pohon “Menanti Sang Bayi”

Baca: Ratapan 3:1-3,13-24

3:1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.

3:2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya.

3:3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.

3:13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.

3:14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.

3:15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.

3:16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.

3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23

Pohon “Menanti Sang Bayi”

Setelah menghias pohon Natal dengan lampu kerlap-kerlip, saya ikatkan pita merah muda dan biru pada dahan-dahannya. Kami menamainya pohon “Menanti Sang Bayi”. Telah lebih dari empat tahun, saya dan suami menunggu kehadiran seorang bayi melalui proses adopsi. Kali ini kami pasti memperolehnya menjelang Natal!

Setiap pagi, sambil memandang pohon itu, saya berdoa dan mengingatkan diri sendiri akan kesetiaan Allah. Tanggal 21 Desember, kami menerima berita: tak ada bayi yang bisa kami adopsi pada Natal kali ini. Dengan hancur hati, saya berhenti sejenak di depan pohon yang menjadi lambang pemeliharaan Tuhan itu. Saya pun bertanya-tanya, Masihkah Allah setia? Apa salah saya?

Terkadang, Allah menahan jawaban doa untuk mendisiplin kita. Adakalanya, Dia sengaja menunda untuk memperbarui kepercayaan kita. Dalam kitab Ratapan, Nabi Yeremia menggambarkan hukuman Tuhan atas Israel. Rasa sakitnya nyata: “Anak panah-Nya menembus tubuhku sampai menusuk jantungku” (3:13 BIS). Namun, di tengah semua penderitaan itu, Yeremia menyatakan kepercayaan mutlaknya kepada kesetiaan Allah: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay. 22-23).

Pohon itu tetap berdiri setelah Natal berlalu dan saya tetap berdoa setiap pagi. Akhirnya, menjelang Paskah, kami menerima seorang bayi perempuan. Allah terbukti selalu setia, meski tidak selalu sesuai dengan waktu atau keinginan kita.

Sekarang, anak-anak saya sudah berusia tiga puluhan, tetapi setiap tahun saya memasang miniatur pohon itu untuk mengingatkan diri dan orang lain untuk tetap berharap pada kesetiaan Allah. —Elisa Morgan

Ya Allah, tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu meski aku tak melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, sebab Engkau setia.

Kesetiaan Allah adalah alasan terbaik untuk tetap berharap.

Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 12-14; Wahyu 4

Artikel Terkait:

Mimpi Buruk Menjelang Natal

Bagikan Konten ini
31 replies
  1. Yunika
    Yunika says:

    Ya Allah, tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu meski aku tak melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, sebab Engkau setia..

  2. ERICK
    ERICK says:

    Ya Allah, tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu meski aku tak melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, sebab Engkau setia.

  3. Gema Novianti Sihombing
    Gema Novianti Sihombing says:

    self reminder.
    Terima kasih untuk renungan yg mengingatkan dengan baik.
    Terpujilah nama Tuhan.

  4. BertHa Saranga
    BertHa Saranga says:

    Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis2Nya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi besar kesetiaan-Nya amin.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *