Natal yang Sepi

Info

Kamis, 6 Desember 2018

Natal yang Sepi

Baca: Mazmur 25:14-22

25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

25:15 Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.

25:16 Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.

25:17 Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!

25:18 Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku.

25:19 Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam.

25:20 Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu.

25:21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.

25:22 Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya!

Mataku tetap terarah kepada Tuhan. —Mazmur 25:15

Natal yang Sepi

Natal paling sepi yang pernah saya alami adalah ketika berada di pondok milik kakek saya di dekat Sakogu, wilayah utara Ghana. Saat itu, saya baru berusia lima belas tahun, sementara orangtua dan saudara-saudara saya tinggal seribu kilometer jauhnya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika tinggal bersama mereka dan teman-teman sekampung, Natal selalu terasa ramai dan mengesankan. Namun, Natal kali ini begitu sunyi dan sepi. Sembari berbaring di atas tikar pada pagi harinya, saya teringat lagu daerah: Tahun telah berakhir; Natal telah tiba; Anak Allah lahir; damai dan sukacita bagi semua. Dengan sedih, saya menyanyikan lagu itu berulang-ulang.

Nenek saya datang dan bertanya, “Lagu apa itu?” Kakek dan nenek saya tidak tahu apa-apa tentang Natal, apalagi tentang Kristus. Jadi, saya pun menceritakan apa yang saya ketahui tentang Natal kepada mereka. Saat itulah kesepian saya terasa sirna.

Sendirian di padang, dengan hanya ditemani domba dan hewan liar yang sesekali muncul, Daud sang gembala muda mengalami kesepian. Bukan kali itu saja ia mengalaminya. Di kemudian hari, ia menulis, “Aku kesepian dan sengsara” (mzm. 25:16 BIS). Namun, Daud tak membiarkan dirinya putus asa ditelan rasa sepi. Sebaliknya, ia bernyanyi: “Aku berharap kepada-Mu” (ay.21 BIS).

Dari waktu ke waktu, kita semua pasti mengalami kesepian. Di mana pun kamu berada pada Natal tahun ini, baik dalam kesepian maupun kehangatan, Kristus senantiasa menemanimu. —Lawrence Darmani

Tuhan, terima kasih karena bersama-Mu aku tidak sendirian meski didera kesepian. Natal kali ini, tolonglah aku untuk menikmati persekutuan dengan Engkau dan juga melayani orang lain yang membutuhkan kasih-Mu.

Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 3-4; 1 Yohanes 5

Artikel Terkait:

Natalku yang Berpohon

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

28 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!